Waktu Baca: 2 menit

Dalam kondisi saat ini, susah untuk tidak mengkritisi ajang Formula E. Kenapa demikian? Faktanya, Formula E diadakan dalam kondisi negara masih bergelut dengan pandemi serta krisis ekonomi. Dengan istilah yang agak kasar, Formula E hanya politik Mercusuar yang memberi keuntungan untuk segelintir orang.

Faktanya, biaya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan Formula E sangat besar. Bahkan commitment fee saja mencapai 560 Miliar Rupiah. Dana sebesar ini bisa berguna untuk keperluan lain, misalnya saja untuk menjadi jaring pengaman sosial bagi pekerja harian yang terdampak langsung pandemi.

Belakangan masalah makin pelik karena ternyata pembayaran commitment fee itu tidak sesuai aturan karena belum ada Perda yang mengatur masalah commitment fee ini. Bahkan, di APBDpun commitment fee ini tidak tercantum dalam anggaran. Jadi, commitment fee ini menyunat anggaran darimana?

Faktanya, program program pemprov DKI Jakarta seperti KJP juga tidak berjalan dengan baik. Belum lagi program Oke Oce yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi pengangguran di ibu kota juga tak lagi terdengar gaungnya. Tanpa bermaksud memihak manapun, wajar jika ada kritik di sana sini.

Belajar Dari Brazil dan Asian Games 1962

Politik Mercusuar sepanjang sejarah banyak memberikan dampak buruh. Ambil contoh dari dalam negeri. Penyelenggaraan Asian Games 1962 telah menciptakan banyak masalah bahkan hingga hari ini. Berdasarkan penelitian sejarawan Restu Gunawan, daerah Tebet dan Kemang yang menjadi tempat relokasi warga terdampak pembangunan di Asian Games 1962 memicu banjir di ibu kota sampai hari ini. Sebab, dalam rancangan pemerintah kolonial Belanda, Kemang dan Tebet merupakan wilayah untuk menampung genangan air.

Sementara itu di Brazil, penyelenggaraan Olimpiade dan Piala Dunia telah menjatuhkan negara dalam jurang krisis ekonomi. Presiden Brazil saat itu, Lula da Silva ditenggarai hanya ingin agar imej Brazil baik dalam dunia internasional. Namun, pertimbangannya tak cukup matang terkait dampak dampak buruk yang terjadi. Banyak fasilitas olahraga terbengkalai paska dua event besar itu.

Meninggalkan Pesta, Menghadapi Kenyataan

Kritik yang saya sampaikan juga berlaku pada penyelenggaraan Asian Games 2018 lalu. Bagi saya, meski megah, tapi nampaknya belum saatnya Indonesia membuang uang untuk ajang sebesar itu. Sampai hari inipun belum ada studi yang menunjukkan bagaimana Asian Games secara berkelanjutan membantu perekonomian Indonesia. Bahkan efek paling sederhana seperti misalnya berjalannya transportasi umum LRTpun belum kita rasakan manfaatnya dengan maksimal.

Ya, memang, ada kesenangan dan kegembiraan tersendiri ketika sebuah negara bisa menyelenggarakan event internasional. Tapi kegembiraan itu hanyalah sebatas euforia pesta saja, tidak menyelesaikan masalah. Perasaan itu sendiri memang bagian dari nature politik Mercusuar. Sebuah kebanggaan dan kesenangan sesaat sebelum diikuti masalah masalah berikutnya.

 

Anies Habis Karena Formula E?

Saya kira politik mercusuar dengan Formula E tidak akan menimbulkan masalah bagi Anies Baswedan. Saya berani berpendapat demikian karena itulah salah satu nature Politik Mercusuar lain yang membuat strategi ini menjadi menyenangkan. Kalau misalnya saja, proyek ini berhasil, Anies bisa menggunakannya untuk menaikkan nilai portofolio politiknya. Seandainya gagal bagaimana? Ah rasa rasanya lawan politiknya susah menyerang dia di sisi ini. Pendukung setia Anies toh tak merasakan dampak langsung dari kegagalan Formula E. Mereka akan menganggap dosa Anies tertutupi dengan prestasi di bidang lain. Baru mungkin 10-20 tahun lagi mereka merasakan dampak kegagalan Formula E sama seperti warga yang mengalami relokasi ke Tebet dan Kemang.

Baca juga :
Diroasting Kiky Adalah Strategi Anies Baswedan Terhebat

Gerak Gerik Giring Jelang Natalan

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini