Hantu Penyalin Cahaya

Waktu Baca: 2 menit

Penyalin Cahaya hadir sebagai karya seorang sutradara muda yang mengerikan. Mengerikan bukan dalam artian menjadi horor. Wregas dalam karyanya ini telah meletakkan sosok fiktif bernama Hantu Penyalin Cahaya. Ya, lewat filmnya, Wregas Bhanuteja ingin membuat penonton merasa terhantui dengan kenyataan mengerikan di institusi pendidikan terhormat di negara ini.

Sejak awal film, Wregas meletakkan Sur sebagai sudut pandang cerita. Mahasiswi yang terjerat kemiskinan struktural dengan seorang ayah pecundang yang berlagak sok hebat namun rapuh di dalam. Sur kebetulan cerdas dan dengan kecerdasannya, ia mencoba untuk keluar dari kubangan kemiskinan. Kondisi Sur adalah kondisi yang banyak anak muda Indonesia alami hari hari ini.

Bersama Sur, ada tokoh Amin, seorang pria yang tak cukup pintar untuk beasiswa namun cukup cerdas untuk bertahan hidup, entah bagaimana caranya. Tokoh Amin adalah representasi ketidakberdayaan masyarakat kecil yang diminta menjaga moral padahal makan saja susah. Amin juga adalah potret kaum tertindas yang kebingungan.

Mengapa Menjadi Hantu?

Banyak yang bertanya pada saya, mengapa komentar pertama saya di film ini adalah ‘film ini akan menghantui saya seumur hidup’? Tak lain dan tak bukan adalah karena kepiawaian Wregas meletakkan instrumen berupa lagu dan pencahayaan temaram serta pilihan warna sendu dalam pengambilan gambar di film ini. Tak hanya itu saja, film ini disokong cerita yang dalam bahkan personal sehingga penonton serasa terperangkap dalam kengerian Penyalin Cahaya. Dalam film ini, Wregas banyak menggunakan teknik foreshadowing agar perasaan ironi itu makin kuat tertancap di benak penonton.

Adegan ketika tim theater disambut dengan confetti oleh teman temannya adalah sebuah foreshadowing akan ending film yang terasa miris dan menyayat hati. Saya belum pernah ngobrol dengan Wregas, namun saya penasaran apakah Wregas terinspirasi dari kejadian yang sama di Bandung pada 2009 lalu? Saat itu seorang Doktor Ilmu Hubungan Internasional ketahuan melakukan plagiat dan mahasiswanya melakukan protes sama seperti di film tersebut yaitu dengan menebarkan ‘surat cinta’.

Lalu, kita ditinggali berbagai petunjuk yang makin mengerikan. Pelaku utama alias si antagonis adalah seorang yang sangat perhatian dan berbicara dengan santun. Ia akan memeluk temannya yang ketakutan bak seorang sahabat. Namun, si pelaku adalah virus, pembunuh keji yang penuh perhitungan dan tega. Ini adalah cara Wregas memberitahu kita mengenai seperti apa rupa pelaku kejahatan kekerasan seksual itu.

Yang bikin menangis adalah tokoh ‘Amelia’. Amelia yang sedari awal kita pikir hanyalah seonggok humor ternyata menjadi jawaban akan para ‘Penyalin Cahaya’. Ya, bahkan judul film ini sudah menyiratkan ending yang begitu kuat dan menyayat hati. Inilah mengapa hantu ‘Penyalin Cahaya’ akan hidup selama lamanya bahkan jika kita kelak berhasil menciptakan keadilan. Kita terus merasa tertipu, sakit hati, tertipu dan kemudian menghela napas akan kenyataan pahit di negara ini.

 

Pendapat Pribadi

Wregas tak segan untuk bermain dengan simbol, bahkan set produksi, untuk membuat kita tenggelam dalam film ini. Ia tidak ragu bereksperimen dan menjadikan film ini begitu spesial. Anak muda berbakat ini tahu betul bahwa dalam ruangan gelap ia bisa bebas berbicara semaunya namun ia enggan menggurui. Ia ingin kita tahu dengan—kemampuan cinematiknya—betapa serius masalah yang sedang ia bicarakan.

Ia berhasil dalam hal itu. Yang lebih mengerikan adalah konflik nyata di balik film itu sungguh sebuah refleksi dari film Penyalin Cahaya. Wregas seolah mendapat bisikan inspirasi dari masa depan mengenai bagaimana nasibnya ternyata serupa dengan jalannya cerita Penyalin Cahaya. Ya, ia mungkin salah mengartikan sinyal dari masa depan sebagai alur cerita yang harus ia tulis.

Pada akhirnya, Penyalin Cahaya hidup selamanya untuk menjadi hantu hantu buat kita kita di sini betapa mengerikannya manusia santun dan hangat yang ternyata seorang pembunuh berdarah dingin.

Baca juga :
Kekerasan Seksual Salah Perempuan

Orang Terdekat Sangat Bahaya (KDP)

Ardi
Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI