Waktu Baca: 2 menit

Membicarakan Haruna Soemitro itu mengingatkan saya pada film berjudul Aruna dan lidahnya. Kalau kita bandingkan, film Aruna itu bikin emosi naik. Gimana gak naik? Sepanjang film yang disuguhkan itu makanan makanan enak dari seluruh penjuru Indonesia. Padahal, kondisi lagi pandemi, sudah gitu budjet jalan jalanpun tipis. Nah, kebetulan juga, Haruna dan lidahnya di sisi seberang juga menyulut emosi. Gimana enggak emosi? Kerjaannya apa gak jelas, nyebelin iya.

Konon Haruna ini juga gak berhasil amat dalam karirnya sebagai direktuk teknik maupun manajer di berbagai tim sepakbola Indonesia. Kok sampai hati ngomong Shin Tae Yong gagal gitu. Ya kalo dia Jose Mourinho atau pelatih Timnas Thailand, bolehlah ada kritik ke STY. Masalahnya, Indonesia saja datang ke Piala AFF dengan status ‘remehan’. Ya, ini saya bikin sendiri, kalau unggulan, kan berarti unggul. Kalau remehan ya bisa lolos fase grup atau enggak jadi ladang pembantaian juga sudah bagus. Nah, kalau akhirnya Indonesia bisa masuk ke final itu kan ya udah lebih dari bagus. Jujur saja, kualitas sepakbola ketinggalan bangetlah sama Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura dan sebentar lagi, Myanmar. Apa ya ini salahnya STY? Ya yang bener saja.

Cuman ya menurut saya, kita harus berhenti mengkritik Haruna Soemitro, keenakan dia. Lho kok bisa?

Politik!

Kalo ngomong sepakbola Indonesia apa sih gunanya untuk orang yang non-sepakbola? Berpotensi menghasilkan uang banyak? Ah enggak juga. Supporter Indonesia memang fanatik, banyak, tapi masih banyak kasus yang masuk stadion gak bayar tiket. Sudah gak bayar tiket, imej rusuhpun masih kuat. Dan emang sering rusuh sih anyway. Orang kelas menengah ke menengah atas mana ada yang mau nonton Liga Indonesia langsung? Boro boro mendapat hiburan, pulang masih ada nyawanyapun sudah bersyukur. Jadi, kalau mau jujur, jelas bukan sisi komersil yang bikin orang non-sepakbola tertarik melihat Liga Indonesia.

Nah, kalau banyak tapi gak ada duit (mohon maaf dengan istilah ini), apa yang terus bikin sepakbola Indonesia jadi rebutan banyak orang? Ya itu tadi, jumlah massa! Karena banyaknya orang artinya adalah modal politik yang luar biasa. Banyak yang berkecimpung di sepakbola karena mau cari suara, buat berpolitik. Cari duitnya entar, kalo sudah masuk ke lingkaran kekuasaan.

Hubungannya ama Haruna dan Lidahnya Apa?

Ada yang pernah bilang ke saya, dalam politik itu yang penting populer dulu. Mau populer karena bagus atau jelek itu gak masalah. Yang penting, ngetop dulu. Kalau sudah ngetop, nanti bisa tuh mulai digoyang kanan goyang kiri supaya citranya membaik. Nah, kalau kita ngomongin Haruna melulu, berarti kita membantu dia ngetop! Itu yang salah. Semakin dia ngetop semakin dia punya modal politik.

Modal politik ini ke depan bisa dia geser geser. Bisa aja dia aturlah medsos dan media yang bisa ia ajak untuk bikin artikel “Sisi Lain Haruna Soemitro Yang Tidak Orang Kenal”. Lalu munculah dari haters hatersnya yang jadi simpati sama dia. Enaklah dia dapat jabatan. Maka dari itu, mending mending gak usah lah ngomongin Haruna lagi. Ngomongin yang lain. Mas Aris misalnya.

Jangan Jadikan PSSI Kapal Politik Praktis

Kita semua sudah ngerti lah ya kalau PSSI itu sering menjadi kapal untuk politik praktis. Bahkan, ada juga permainan curang di sana seperti misalnya match fixing. Mbak Najwa aja sampe bikin dialognya berkali kali. Capek emang. Nah, kita bisa membuat para petinggi PSSI ini berhenti memakai PSSI sebagai kapal politik dengan menghujat secukupnya, tapi jangan sampai bikin mereka populer. Bagi saya, usaha menyerang Haruna sampe anak dan istrinya itu bahaya. Hari ini dia masih Exco PSSI, gimana kalau bentar lagi, karena popularitasnya dia nyalon jadi gubernur. Bahaya ini sodara sodara.

Mari kita belajar cuek pada Haruna dan lidahnya. Salam olahraga!
Baca juga :
Bisnis Berlucosni Di Sepakbola Yang Bisa Kamu Pelajari

Buruknya Singapura Menjadi Tuan Rumah Piala AFF

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini