Waktu Baca: 2 menit

Ngomongin soal kekerasan seksual, pasti bikin emosi naik sampai ke ubun-ubun. Terlebih sampai saat ini undang-undang belum juga menemui ujungnya. 

Kekerasan seksual menyerang fisik, psikis, bahkan sosial lingkungan si korban. Dampaknya memang benar-benar bisa merambat ke mana-mana. Tidak hanya itu, trauma yang korban alami dampaknya bisa seumur hidup. Kekerasan seksual sebetulnya tidak hanya menimpa perempuan, tapi juga bisa menimpa laki-laki. Sampai saat ini belum ada hal yang benar-benar bisa menggantikan mental korban. Dengan kata lain, hukuman yang diberikan rata-rata masih tidak setimpal. Sungguh ironi, ya? 

Kekerasan seksual sendiri masih sensitif dan tabu jika kita membicarakannya tidak dengan orang atau tempat yang tepat. Apa yang pertama kali sosial beri pada korban kekerasan seksual? Yap, judgement! Lebih parahnya lagi mereka menganggap itu adalah sebuah aib yang perlu dibuang ke dasar laut. 

Ketika kita mengambil sudut pandang korban kekerasan seksual, sudah pasti mereka mengalami trauma yang sangat berat untuk hidup sebagai penyintas. Perjalanan menyembuhkan trauma setiap orang tentu berbeda-beda. Tapi, bagaimana jika kita hidup dengan penyintas kekerasan seksual, entah itu teman, pacar, atau bahkan keluarga sendiri? 

Menurut pandangan saya pribadi, jika kita hidup dengan penyintas kekerasan seksual harus dua kali lipat lebih sabar untuk menghadapi mereka. Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika kita hidup bersama penyintas kekerasan seksual? 

Mendengarkan

Ini terlihat sepele, tapi jika kita sebagai seorang pendengar, terlebih dengan kasus kekerasan seksual, tidak semudah itu, lho. Hal pertama yang dirasakan pasti kaget, nge-freeze, dan bingung harus merespon apa. Tapi, tak jarang mereka justru menghakimi dan bersikap sok dalam memberi solusi. Padahal yang paling para korban perlu pertama kali hanya didengarkan. Cukuplah menjadi pendengar sampai yang bercerita merasa lega. Kita sendiri juga sering, kan, merasa takut untuk bercerita dengan orang lain, termasuk dengan keluarga sendiri? Apalagi seorang penyintas kekerasan seksual, pasti akan jauh lebih sulit bercerita tentang apa yang sedang ia alami. Jika ia hanya memberi reaksi menangis, dengarkan saja dulu tangisannya. So, kalau ada seorang penyintas kekerasan seksual, dengarkan saja cerita mereka. 

Jangan Membandingkan 

Tak pantas memang untuk membandingkan apapun bentuk kekerasan seksual yang seorang penyintas alami. Mengingat mereka sudah mengalami trauma yang mendalam, apalagi jika kita mulai membandingkan? Tentu tidak akan menolong dan malah menambah beban mereka. Membandingkan cerita dalam bentuk apapun sebetulnya tidak bijak, karena beban, sensitivitas, dan kekuatan orang berbeda-beda, kan? Kalau kata nasihat sih gini: kalau tidak bisa berbicara yang baik lebih baik diam.

Sediakan Tempat Aman

Pasca mengalami kekerasan seksual, tentu korban akan sangat shock dan menganggap tidak ada tempat yang aman baginya. Bawa penyintas kekerasan seksual ke tempat yang sekiranya aman dan nyaman seperti rumah-rumah khusus penanganan korban kekerasan seksual sehingga penyitas kekerasan seksual tidak perlu cemas pelaku akan mendatangi dan melukainya kembali. 

Membantu Mengumpulkan Informasi atau Bukti 

Membantu mengumpulkan bukti-bukti kasus kekerasan seksual sangat membantu para penyitas. Dengan langkah ini, mereka bisa merasa lebih berani untuk speak up dan membongkar identitas pelaku lalu melaporkannya ke ranah hukum agar pelaku bisa mendapat hukum yang adil.

Menemaninya ke Professional

Jika kamu sendiri merasa tidak mampu menangani penyintas, tidak perlu memaksa. Kamu bisa menemaninya mencari seorang professional (seorang psikolog atau psikater). Jika waktumu luang, kamu juga bisa menemaninya setiap berkonsultasi. Pergi ke professional adalah sebuah langkah yang bijak untuk mendapatkan pertolongan bagi penyintas kekerasan seksusal. 

Menjadi kerabat atau teman seorang penyintas kekerasan seksual tentu harus memiliki mental dan kesabaran yang ekstra karena kita harus mendukung mereka melewati masa yang berat di tengah masalah kita sendiri. Jadi, tetaplah semangat dalam memberi dukungan ke para penyintas kekerasan seksual. 

Baca juga:

Akhirnya Muncul Regulasi Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus

Jenis Kekerasan Seksual yang Ada di Sekitar Kita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini