Waktu Baca: 3 menit

Sebagai keturunan Tionghoa generasi ketiga, saya masih merasakan betul pengaruh kebudayaan Tionghoa di keluarga. Namun, saya rasa rasa Tionghoa itu mulai ‘menghilang’. Menghilang dalam artian saya tidak lagi berbahasa Mandarin ataupun tahu asal nenek moyang saya. Saya kira di generasi keempat dan seterusnya, budaya itu makin tergerus dan lama kelamaan menghilang atau berasimilasi dengan kebudayaan sekitar. Jatuhnya orang Tionghoa tak lagi beda sekali dengan orang Indonesia lainnya dan istilah orang Tionghoa bisa jadi hilang atau makin abu abu. Singkatnya, kita memasuki masa yang saya sebut Hilangnya Ke-Tionghoa-an di Indonesia.

Kuatnya Budaya Tionghoa Karena Luka Bersama

Kenapa di hari hari ini orang Tionghoa masih terasa berbeda dari suku di Indonesia lainnya meski nampaknya proses toleransi terus berjalan dengan baik? Bahkan keberadaan orang Tionghoa masih dianggap sebagai orang asing. Contohnya saja di Yogyakarta yang mengkategorikan orang Tionghoa sebagai orang asing Timur Jauh.

Hal ini tak lain adalah karena luka bersama akibat tragedi kemanusiaan. Tercatat setidaknya ada dua tragedi yang cukup erat menjadi pengalaman bersama warga Tionghoa, yang pertama adalah pembantaian terduga PKI di era 70an. Lalu kemudian peristiwa Mei 1998. Peristiwa ini membekas bagi warga Tionghoa dan tertanam di dalam pikiran mereka sehingga melahirkan solidaritas alami. Akhirnya, kebutuhan untuk saling menjaga komunitas orang Tionghoa tertanam di alam bawah sadar banyak warga Tionghoa. Ada keinginan untuk melindungi ke-Tionghoa-an dari pihak luar.

Maka dari itulah ada larangan pernikahan beda ras di beberapa keluarga. Lalu, juga ada usaha keras untuk menjaga budaya Tionghoa lewat kesinambungan perayaan Imlek dan budaya budaya Tionghoa lain.

Dari beberapa lapisan orang Indonesiapun ada yang masih berusaha menjaga jarak dengan kelompok Tionghoa. Entah karena alasan mereka punya stereotype buruk tentang orang Tionghoa atau karena memang budaya Tionghoa dianggap terlalu asing buat mereka serta ya sebagai usaha untuk membantah tanggung jawab akan tragedi kemanusiaan yang orang Tionghoa alami.

Hilangnya Ke-Tionghoa-an

Tapi sekali lagi, ke-Tionghoa-an akan hilang, suka tidak suka. Ketika migran masuk ke suatu wilayah, ia akan terpengaruh dengan budaya dan adat sekitar. Lama kelamaan budaya mereka akan menyatu ke kebudayaan sekitar dan mereka sendiri akan kehilangan identitas dari tempat asalnya (Hary Poerwanto, 1999, Asimilasi, Akulturasi dan Integrasi Nasional).

Contohnya saja adalah ke-India-an di Indonesia. Banyak migran India di Indonesia sudah menyaru dan menjadi satu dengan salah satu suku ras di Indonesia, entah itu Jawa, Sunda dan seterusnya. Tapi sisa sisa Ke-India-an itu masih bisa kita lihat di perayaan tujuh harian orang meninggal misalnya. Atau misalnya, dapat kita lihat dalam bentuk makanan, gulai misalnya. Hanya saja, kalau mau jujur, kita sudah tidak lagi bisa memilah mana orang India dan bukan di hampir seluruh pelosok Indonesia. Kenapa demikian? Padahal saya yakin migran dari India cukup banyak yang ke tanah air. Ya karena proses asimilasi itu terjadi dengan sempurna dan ‘sudah selesai’. Orang India tidak mengalami tragedi komunal layaknya orang Tionghoa di Indonesia sehingga ya proses mereka berlangsung tanpa hambatan.

Proses asimiliasi orang Tionghoa terhambat karena banyaknya tragedi dan kebijakan diskriminatif di era Orde Baru. Pemerintah malah memaksakan asimilasi yang justru malah membuat kebencian dan diskriminasi serta segregasi makin kuat (Yuni Maryuni, Jurnal Pendidikan Jendela Pengetahuan Vol.6 ).

Tapi kini sudah dua puluh tahun lebih tak ada tragedi kemanusiaan bagi orang Tionghoa. Anak anak Tionghoa yang lahir pada era 90an hanya menganggap bahwa tragedi itu bak dongeng. Cepat atau lambat asimilasi ini akan berjalan sempurna dan identitas ke-Tionghoa-an juga akan ‘hilang’. Perayaan Imlek tak ubahnya sebuah perayaan komunal, tak akan beda dari perayaan perayaan ala India yang juga sudah bergabung sebagai salah satu perayaan khas Indonesia lainnya.

Haruskah Mencegah Hilangnya Ke-Tionghoa-an?

Pemilihan kata menghilangnya ke-Tionghoa-an sebenarnya tidak cukup tepat. Ke-Tionghoa-an sebenarnya hanya terserap dan mempengaruhi obyek yang menyerapnya. Ini menurut saya bagian dari proses alami dari sebuah siklus imigrasi dan juga diamini oleh Gordon (1964) yang menelurkan teori asimilasi. Bagi generasi Tionghoa baru seperti saya, proses ini tak perlulah dihentikan karena toh juga bukan hal buruk. Namun bagi generasi Tionghoa yang dewasa di era 90an dan sebelumnya, ini adalah kekalahan yang menyakitkan. Mereka menerimanya sebagai kegagalan karena mereka tak sanggup menjaga komunitas Tionghoa. Ya, ini adalah proses belajar mengikhlaskan yang sangat berat.

Tapi, satu satunya cara mencegah proses ini adalah tragedi kemanusiaan yang lainnya. Hal yang sama yang terjadi di Amerika Serikat saat ini ketika orang kulit hitam belum benar benar berasimiliasi dengan kulit putih. Tapi ya apa mau proses kayak gitu hanya semata mata untuk menjaga orisinalitas sebuah budaya? Rasa rasanya itu harga yang terlalu mahal.

Toh proses ini mungkin akan terjadi tak hanya di Indonesia saja. Di Tiongkok yang mulai sering menerima migranpun akan terjadi perubahan besar. Orisinalitas budaya Tiongkok akan berubah karena menyerap budaya budaya lainnya. Apa iya perlu kita cegah? Ah enggak, ini dinamis saja. Lagipula tak ada budaya yang lebih baik dari budaya lainnya. Ini cuma proses alami saja dan ibarat mahluk hidup, budaya terus bertumbuh dengan generik.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini