Waktu Baca: 2 menit

Beberapa hari terakhir ini hujatan pada Ketua PSSI, M. Iriawan mencapai puncaknya. Ada dua kejadian. Yang pertama adalah ketika muncul poster ucapan selamat pada timnas Indonesia dengan desain dimana pria dengan sapaan Iwan Bule ini terpampang besar. Kedua adalah saat yang bersangkutan berencana masuk ke ruang ganti timnas di leg kedua Piala AFF. Dua kejadian ini membuat banyak orang berkomentar miring dan berkata kasar. Namun, bagi saya, Iwan Bule tidak layak mendapat perlakuan seperti itu. Iwan Bule adalah korban dari rasa sebal kita pada PSSI. Pada kenyataannya ia tak seburuk itu (mungkin).

Soal Masalah Poster

Soal masalah poster memang harus ada penyelidikan mendalam. Ini memang perintah Iwan Bule atau karena tim Public Relations gak peka aja. Seperti kita tahu, di Indonesia banyak penjilat dan ingin cari pujian. Selain itu, aturan pembuatan poster juga gak jelas di Indonesia. Saya ragu Iwan Bule ini apa punya waktu untuk mengapprove dan mengecek poster poster yang akan terbit. Lebih masuk akal kalau Iwan Bule percaya saja pada tim PR-PSSI. Nah, ndilalah yang ditugaskan membuat poster ini kurang peka orang-orangnya. Jadilah Iwan Bule menjadi korban hujatan masyarakat internet Indonesia.

Masuk ke Ruang Ganti

Kebetulan saya mengenal M.Iriawan sejak yang bersangkutan menjadi Kapolda Metro Jaya. Tidak ada pesta karena pria yang berpengalaman menjadi reserse ini dilantik di saat paling gak enak. Pertama, usianya sudah cukup dekat untuk masuk masa pensiun sehingga jabatan Kapolda Metro Jaya gak akan bisa jadi loncatan untuk ke bintang tiga apalagi empat. Kedua, ia menjadi Kapolda ketika Jakarta mulai rusuh jelang pilkada DKI.

Saya ingat benar Iwan Bule bersiaga dari pagi sampai tengah malam ketika aksi 4-11 terjadi. Ia sendiri yang naik di atas panser untuk memimpin pasukannya mengamankan lokasi. Bisa dibilang 4-11 adalah titik kerusuhan terburuk di Jakarta dalam waktu sepuluh tahun terakhir. Ia juga yang bertanggung jawab pada pengamanan aksi aksi sesudahnya termasuk ketika eks-gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama disidang di gedung Kementerian Pertanian. Banyak cobaan ketika pria kelahiran Jakarta menjadi Kapolda Metro Jaya.

Saya gak yakin kalau banyak polisi mampu menghadapi apa yang menjadi tantangan Iwan Bule. Di saat seperti itu juga, harus kita ingat kalau Iwan Bule memilih untuk di garis depan. Jadi, mungkin hal inilah yang menjelaskan kenapa ia ingin masuk ruang ganti. Mungkin ia berpikir bahwa sebagai pria yang berintegritas, ia harus berdiri di garis depan bersama pasukannya. Masalahnya, ia lupa kalau sepak bola berbeda dengan kondisi di kepolisian. Di kepolisian, Iwan Bule bisa mengambil keputusan apapun yang perlu untuk menjamin keamanan. Di sepak bola, ia harus mengikuti aturan main yang sudah ada.

Terlalu Sensi Pada PSSI

Membenahi PSSI memang gak bisa sekejap mata. Sudah terlalu banyak masalah pada tubuh PSSI termasuk isu politisasi PSSI. Ketua PSSI siapapun juga takkan punya cukup kemampuan menyelesaikan ini dalam sekejap. Namun dapat kita lihat bahwa Iriawan berusaha semampunya. Ya memang ada masalah yang harus kita catat seperti lambatnya liga bergulir lagi dan drama Indra Sjafri dan Shin Tae Yong. Namun untuk saat ini, udahlah jangan menghujat Ketua PSSI ini terus. Mari kita hujat kalau dalam dua tahun Indonesia belum kemana mana paska kejutan sampai final Piala AFF kemarin.

Baca juga :

Prestasi Pertama Gibran Rakabumi : Persis Juara!

Cara Thailand Mengalahkan Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini