Waktu Baca: 2 menit

Di era globalisasi, banyak sekali dari kalangan milenial yang sering mendengar “cari kerja tuh enaknya yang sesuai hobi, biar ngejalaninnya enak plus dapat uang!”. Tapi tau gak sih, kalau ternyata banyak juga yang kurang setuju nih sama pemikiran kaya gini. Kira-kira apa ya tanggapan milenial soal hal ini? Yuk, kita simak!

Soal Hobi dan Pandangan tentang Lapangan Pekerjaan

Menyoal hobi dan pekerjaan memang menjadi satu perdebatan unik yang tidak pernah usai di kalangan masyarakat. Khususnya untuk generasi milenial yang terkenal sangat energik dan adaptif, perbincangan tentang hobi dan pekerjaan pun menjadi polemik bersama. Pada dasarnya, seorang berpendapat bahwa melakukan hobi sebagai pekerjaan adalah suatu nilai plus karena selain menyenangkan juga menghasilkan untung. Paham ini pun berkembang menjadi doktrin pada masyarakat tertentu yang kemudian mengharuskan generasi milenial mencari kerja yang sesuai dengan hobi.

Terlepas dari doktrin yang berkembang, ternyata banyak pihak yang merasa bahwa pendapat ini sudah terlalu kuno dan kurang menyesuaikan jaman. Salah satu generasi milenial, Petra Maheswara, seorang mahasiswa program studi arsitektur dengan tegas mengatakan “Hobi yang dibayar itu gak enak!”. Sebagai generasi milenial, Petra mengaku bahwa kapasitas lapangan pekerjaan yang ada di era globalisasi ini tak menentu. Jaman dahulu, orang dengan mudah menemukan pekerjaan layak dan menjanjikan. Namun seiring berkembangnya teknologi, manusia dituntut untuk semakin cerdik dan cerdas dalam memanfaatkan lapangan pekerjaan.

Suka Fotografi tapi Kuliah Arsitektur? Emang Nyambung?

Soal pertanyaan kenapa lebih memilih arsitektur daripada fotografi, “Karena di arsitektur tuh gak hanya belajar tentang bangunan aja, tapi juga belajar komposisi, aksesibilitas, yang juga aku pelajarin saat belajar fotografi secara otodidak,” jawabnya. Menurutnya, memilih program studi arsitektur dan pekerjaan sebagai arsitek adalah pilihan yang cerdik. Pekerjaan sebagai arsitek adalah satu langkah yang ia impikan karena kapasitas lapangan pekerjaannya yang akan selalu terbuka seiring berkembangnya teknologi. Meskipun begitu, Petra tidak lantas melupakan hobi fotografi yang ia tekuni. Selama menempuh pendidikan di dunia arsitektur, Petra juga terus mengembangkan skill-nya dengan membuka jasa pemotretan untuk acara ataupun untuk teman-teman yang hanya iseng berfoto aja lho!

“Fotografi itu healing sih, makanya kalau ditanya kenapa gak pilih fotografi untuk pendidikan, karena menurutku kalau fotografi nantinya dijadiin sumber aku menghasilkan uang (pekerjaan tetap) nanti aku bakal kehilangan healing-ku,” ujar Petra. Selain kehilangan perasaan tentram (heal), menurut Petra menjadikan hobi sebagai pekerjaan malah akan membuat kita makin tertekan. “Yang namanya pekerjaan kan pasti ada aja ya targetnya, nah coba bayangin, kalau hobi kalian, misal aku nih fotografi, tapi dikasih target gitu harus berapa banyak, kan jatuhnya malah jadi tekanan, bukan enjoy lagi,” tambah Petra.

Kalau Boleh Pesan ke Generasi Milenial…

Melihat dunia yang semakin canggih, penting untuk kita berlaku adaptif dan selektif dengan pilihan yang akan kita ambil. Perbincangan milenial soal hobi dan pekerjaan seharusnya bukan lagi menjadi polemik perdebatan, melainkan sebuah solusi untuk berlaku cerdik dan cerdas. “Bukan soal mana yang benar dan salah ya, tapi lebih kepada bagaimana cara kita untuk memanfaatkan dan menempatkan hobi dan pekerjaan kita pada porsi yang seimbang,” tutup Petra.

Baca juga:

Passion adalah Penderitaan Dalam Hidup

Sampingan untuk Anak Kuliahan, Duitnya Bisa Ngelebihin Gaji Fresh Graduate!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini