Waktu Baca: 3 menit

Kasus jeweran yang oleh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi lakukan, terhadap pelatih biliar, Khairuddin Aritonang atau  Choki, pekan lalu cukup menyita banyak perhatian. Dari peristiwa tak mengenakkan ini, sang pelatih mengaku trauma lantaran dirinya merasa dipermalukan secara publik. Bagaimana tidak, sang gubernur menjewer telinga Choki di hadapan para peserta acara tali asih untuk atlet dan pelatih PON XX di Papua minggu kemarin. Meskipun sempat mengundang tawa dari beberapa hadirin, kejadian itu nampaknya membuat hati Choki berlubang. Malu, kesal, dan jengkel—perasaan campur aduk yang tak bisa ia ungkapkan dan teriakkan ke sang gubernur. Baginya, lakon Edy dan Choki yang ia alami itu sangat gak masuk akal.

Atas kejadian ini pula, Choki menuntut sang gubernur untuk meminta maaf secara publik kepadanya. Rasa malu yang tak terbendungi sepertinya menyulutkan ego sang pelatih hingga dia ‘berani’ menuntut seorang yang notabene berkuasa dalam skala provinsi untuk bertekuk lutut dan mengucapkan kalimat ‘Saya minta maaf’. Beberapa netizen mendukung pilihan Choki untuk menyeret kejadian jeweran ini sampai ke hukum. Mereka berdalih jika Choki adalah sosok heroik baru yang dengan berani memberontak dan menyelematkan posisinya sebagai rakyat biasa yang berada di bawah kasta sang gubernur.

Pemimpin Itu, Ya, Memimpin Bukan Menjewer!

Dengan latar belakang akademi militer, Edy memang terkesan garang dan agak bar-bar bagi mereka yang belum pernah mencicipi kehidupan di dunia loreng hijau ini. Tegas, keras, dan disiplin—itulah beberapa karakteristik yang sering muncul jika kita mendengar kata ‘militer’. Edy, sebagai buah hasil didikan dunia penuh aturan ketat itu, dirasa kurang menampilkan sisi mengayomi yang masyarakat Indonesia idolakan dari seorang pemimpin. Dalam menjalankan tugas, tak selamanya seorang pemimpin harus tampil garang dan untouchable dengan semua wibawanya. Kadang kala, masyarakat perlu melihat sosok manusiawi yang dapat digapai dari seorang pemimpin dengan bersikap alus, nada bicara yang lembut tapi tegas, dan tak gampang main tangan.

Dari kasus jeweran ini bisa kita lihat jika Edy bukanlah tipe pemimpin yang suka menyembunyikan uneg-unegnya. Sekali gak suka, ya gak suka. Versi ekstrimnya, nih, jika seseorang ia rasa tak memenuhi mutu dan standar pribadi dalam menjalankan tugas, lebih baik copot saja jabatannya daripada membuang waktu dan energi. Tindakan jeweran dari Edy pun itu bisa jadi refleksi keterbukaanya dalam bekerja. Dalam artian, ngomong langsung itu lebih baik daripada makan ati.

Perlu Gak, Sih, Sampai Dibawa ke Hukum?

Ancaman Choki untuk menyeret sang gubernur ke ranah hukum sebenarnya cukup menarik. Bagi orang yang belum pernah di posisi Choki saat itu mungkin berpikir, ‘Dijewer aja kok sampe acara tuntut-menuntut segala?’. Tapi bagi sang pelatih, jeweran itu bukanlah sekedar mencubit telinga, tapi juga mencubit martabat sebagai seorang pelatih. Choky tentu tak mau menjadi bahan tontonan khalayak umum, terutama anak-anak yang ia latih. Alhasil, keinginan untuk memulihkan nama baik sangat tinggi. Plus, dia juga bukan ASN. Malah sebenarnya ia membantu tim bilyar saja. Udah membantu kok masih diginiin. Ya jelas bikin Choki bertekad memenangkan lakon Edy dan Choky ini.

Dilansir dari suara.com, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memilih tak banyak berkomentar dan mengingatkan jika tak semua kasus harus dibawa ke pusat. Kasus lakon Edy dan Choki hanyalah segelintir kejadian berskala individu yang sebenarnya dapat selesai dengan jalan musyawarah. Jika bisa bicara empat mata, kenapa harus sampai ke hukum?

Sama-sama Keras Kepala

Salah seorang teman berkomentar jika kedua pihak sama-sama punya ego yang cukup tinggi. Edy, sebagai Gubernur Sumatera Utara, jelas harus menjaga posisinya sebagai kepala provinsi terhormat. Kecil kemungkinan untuk Edy mengatakan hal yang bisa bermakna sebagai pernyataan kesalahan. Sebaliknya, Choki sebagai rakyat biasa merasa statusnya sebagai pelatih runtuh kala mendapat jeweran sang gubernur di tengah acara. Rasa malu yang ia dapat karena banyak pasang mata yang menyorotnya membuat Choki memutuskan untuk memasang tameng dan menolak untuk tunduk dan menyerah.

Kalau begini, apakah jalan tengah akan muncul di antara dua kubu yang saling mengeraskan hati ini? Kita ikuti saja, ya, kasusnya!

Baca juga :
Giring di-DO terus kenapa?

Ide Resolusi Tahun Baru Yang Harus Kita Coba

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini