Waktu Baca: 3 menit

Siapa yang tidak kenal dengan Ikal dan teman temannya dalam film Laskar Pelangi? Ini memang film lama. Nggak lagi booming kaya Spiderman-No Way Home.

Film Laskar Pelangi mengadaptasi novel tetralogi terlaris karya Andrea Hirata. Di novelnya, Andrea mengangkat petualangan hidupnya. Banyak makna yang tersimpan di film tetralogi Laskar Pelangi ini. Apalagi jika ngomongin soal pendidikan dan mimpi, wah wajib banget nonton atau baca novel ini! Hehe

Belum lama aku re-watch ­film tetralogi Laskar Pelangi mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, sampai Edensor. Sebenarnya ada lanjutnya Maryamah Makaprov, tapi belum ada filmnya. Gimana aja filmnya?

3 Film Tetralogi Laskar Pelangi

Film pertamanya, Laskar Pelangi, mengisahkan Ikal dan teman-temannya di SD Muhammadiyah Gantong, Belitong. Kondisi sekolahnya udah nggak layak. Fasilitas sama pengajarannya terbatas. Namun, masih menyimpan banyak harapan dan mimpi dari anak didiknya. Dengan latar belakang yang berbeda, Ikal si pencerita, Mahar si ceria, dan Lintang yang mendapat julukan Einsten karena kecerdasaanya. Mereka duduk di kelas yang sama, dengan tujuan hidup mereka.

Lalu, pada sekuelnya Sang Pemimpi kamu juga akan disuguhkan dengan petualangan tiga serangkai komplit dengan mimpinya, Arai, Ikal, dan Jimbron. Aray si Simpe Keramat bakal mengajarimu gimana tetap bertahan hidup di situasi sulit dan mempercayai adanya masa depan yang indah. Ikal dengan lika-likunya juga masih menawarkan nilai dari setiap kejadian, dan Jimbron dengan mimpinya yang sederhana namun merasa hidup dengan mimpinya sendiri.

Edensor. Dalam film ketiga ini masih sama, meyakini setiap mimpi-mimpi mereka dari Belitong hingga Sorbonne, Paris. Jika ditanya, siapa yang tidak punya mimpi dalam hidup ini? Hampir sebagian akan mengatakan punya. Mimpi setiap orang itu murni dan nggak ada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Kutipan favorit dari tetralogi ini, “Bermimpilah setinggi langit, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.”

Dalam meraih impian, tentu nggak akan pernah mudah. Tantangan dan penolakkan pasti akan selalu berjalanan beriringan. Hal itu juga yang sering menjadi masalah dalam perjalanan, goyah dan hampir menyerah. So, lewat tulisan ini, aku pengen ngajak kamu buat re-watch tetralogi Laskar Pelangi, karena apa sih? Simple, karena ada beberapa hal yang bisa kamu pelajari ketika kamu mulai goyah dengan mimpimu.

Pendidikan Itu Milik Siapa Saja

Pernah merasa gini gak? “Aku mana mungkin ketrima di sekolah favorit itu. Itu kan isinya murid pinter-pinter”. Realitanya beberapa sekolah dan universitas memang menerapkan standard untuk siswanya yang ingin mengenyam pendidikan disana. Tapi, apa lantas itu menutup seluruh jalanmu dalam mendapatkan pendidikan? Seperti yang di film, Ikal dan Arai adalah dua murid dari Belitong dengan segala keterbatasannya. Ikal berangkat dari SD yang reyot, sedang Arai sebatang kara, yang mencoba bertahan hidup dan penuh mimpi. Ketika sekolah menengah, mereka bersikukuh untuk bisa sekolah hingga ke Sorbbonne. Mereka membuktikannya.

Terlebih saat ini, kurikulum sekolah yang baru tidak menutup peluang bagi siapa saja untuk bersekolah dimana saja. Ketika aku mengikuti pelatihan kurikulum dari Merdeka Belajar, beberapa kepala sekolah membagikan pengalaman mereka mengajar murid disabilitas alam sekolah normal. Kita semua sebenernya mendapatkan peluang yang sama dalam meraih pendidikan (meskipun jalannya beda-beda lho ya). Jadi, kalau pengen ketrima beasiswa S2 ke Amerika, mungkin gak? Ya mungkin banget. Hehe

Bekerja Keras

Meski pendidikkan milik siapa saja. Tidak lantas datang dengan tiba-tiba. Ini memang terdengar klasik, tapi tetep perlu kerja keras. Apakah Ikal dan Arai bisa berkuliah di Subborne jika tidak dengan tekad dan kerja keras? Ya jawabannya pasti enggak. Di film diceritakan bagaimana Ikal dan Arai dalam meraih beasiswa juga tidak mudah. Mereka juga hampir menyerah di tengah jalan. Tapi, mereka tetap belajar, mencari setiap kesempatan, menyelesaikan setiap tanggung jawab, dan bekerja apa saja untuk mendapatkan uang. So, dalam meraih impianmu sebetulnya tidak mudah, tapi lewat kerja keras akan semakin menguatkan mentalmu untuk meraih mimpi-mimpimu.

Meyakini Setiap Mimpimu

Tidak peduli akan terlihat terlalu besar atau kecil, mimpimu tetaplah mimpimu. Kamu harus meyakini setiap mimpi-mimpimu. Dalam film Edensor, Jimbron memiliki impian ingin menikah dengan perempuan pujaan hatinya. Sedang Ikal dan Arai yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau kita bandingin, pasti mimpi Jimbron akan terlihat paling kecil. Bahkan akupun menganggap sebelah mata. Namun, yang menarik mau apapun impianmu, kamu sendirilah yang meyakini dan akan menjalaninnya karena, orang hanya sebagai support atau pencibir dalam waktu yang bersamaan. Meski Jimbron hanya ingin menikah, tapi usahanya juga tidak kalah diperhitungkan. Oleh karena itu, tidak ada yang salah dalam setiap mimpimu.

Itu tiga hal yang bisa kita petik dari tetralogi Laskar Pelangi dalam meraih impian kita. Kalau sudah mulai meragukan mimpimu sendiri segera sadari, bangkitlah untuk meyakini mimpimu kembali, dan yang paling penting jangan takut bermimpi!

Baca juga:

Tick, Tick…BOOM! Adalah Representasi Dilema Umur dan Karya

Don’t Look Up Adalah Film Yang Kita Butuhkan, Bukan No Way Home

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini