Waktu Baca: 2 menit

Pada hari Jumat kemarin (13/1), pihak Amnesty International Indonesia merilis siaran pers terkait dengan salah satu pengungsi asal Somaliland yang diduga ditahan di bandara internasional Soekarno-Hatta. Melalui postingan tersebut, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyampaikan jika pihaknya mendesak agar pengungsi tersebut untuk mendapat pelayanan medis. “Menghalangi pengungsi Somaliland ini mendapatkan akses kesehatan yang layak adalah pelanggaran HAM,” tuturnya.

Selain itu, Usman juga meminta agar petugas imigrasi tidak memulangkan pengungsi tersebut ke negara asalnya. Hal ini berlandaskan dugaan jika pengungsi tersebut adalah korban kawin paksa dan kekerasan sesual di Somaliland. Ia menambahkan jika memulangkan kembali pengungsi tersebut akan hanya membahayakan nyawa. “Pengungsi Somaliland ini sudah banyak mengalami perlakuan buruk di negara asalnya, termasuk kekerasan seksual,” ujar Usman. “Kami berharap agar petugas imigrasi Indonesia tidak menambah daftar panjang penderitaan yang sudah dia alami.”

Asal Cerita

Melansir dari Amnesty International Indonesia, seorang pengungsi asal Somaliland berusia 35 tahun yang sedang hamil tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Pengungsi tersebut terlihat kurang sehat dan mengalami pembengkakan di tubuhnya. Bahkan, ia menuturkan tak bisa merasakan pergerakan janinnya lagi. Bukannya mendapatkan pertolongan medis, pihak imigrasi malah menahannya di detensi imigrasi bandara. Selain itu, organisasi internasional yang bertugas mengurus pengungsi tak kunjung mendapat akses untuk bertemu dengan pengungsi tersebut untuk verifikasi secara langsung.

Amnesty International Indonesia sebelumnya melaporkan jika pengungsi asal Somaliland tersebut sudah resmi terdaftar sebagai pencari suaka di Indonesia sejak tahun 2016. Karena kondisi di negaranya yang tidak stabil, maka ia terpaksa mencari tempat di negara lain. Namun, pada bulan Desember 2021, ia harus kembali ke Somaliland karena tekanan dari keluarga. Mentalnya bukannya semakin baik, ia malah mengalami kekerasan domestik yang tak hanya mengancam kesehatan fisik dan psikologis tapi juga kehamilannya. Berita terakhir menyebutkan jika ia kembali mencari suaka di Indonesia.

Apa Pengungsi Tak Punya Hak yang Sama?

Pengungsi tak selamanya mendapat spotlight yang imbang di negara satu dan lainnya. Terkadang, yang mereka perjuangkan tak lagi soal tempat bersuaka yang bebas dari bahaya, tapi malah soal kesetaraan di mata manusia lain. Tak semua manusia mau menerima tambahan penduduk yang berasal dari negara lain, yang kemudian bisa menambah jumlah populasi dan beban negara.

Tapi ada satu hal yang para pengungsi ini layak dapatkan di setiap negara, yaitu akses untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sebagai manusia. Seperti yang saya jelaskan di awal tentang pengungsi dari Somaliland yang hamil dan tak kunjung mendapat pertolongan medis. Akses kesehatan yang notabene bagian dari kebutuhan dasar manusia layak diterima oleh para pengungsi. Jika mereka tak mendapat akses kesehatan yang baik, bagaimana mau hidup dengan seutuhnya? Bukankah pengungsi juga manusia, sama seperti kita semua? Apa hanya karena mereka mempunyai title ‘pengungsi’, mereka jadi tak kasat mata untuk kita? Apa sekarang bala bantuan pilah-pilih siapa yang akan ditolong?

Jadi, yang manusia sekarang siapa?

Baca juga:

Amnesty International: Media Dibungkam, HAM dirampas di Myanmar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini