Waktu Baca: 2 menit

Baru-baru ini beredar video masyarakat yang main hakim sendiri terhadap pelaku pemerkosaan. Lalu apakah aksi vigilante ini bisa makin parah?

Sejak tahun yang lalu sampe sekarang jadi hari-hari penuh badai buat Kepolisian. Berita-berita yang menggambarnya carut marutnya mereka terus bermunculan. Sebuah payung hitam terus singgah di atas mereka. Di Jogja sendiri, Polda DIY juga lagi menghadapi tekanan hebat karena banyaknya isu klitih yang merebak.

Aparat nggak sendirian. Hukum juga nggak mau tinggal diam. Seakan pengen ikut ngeksis jadi sorotan. Mulai dari Rachel Venya sampe vonis Gaga Muhammad jadi buah bibir. Meskipun yang terakhir udah ada klarifikasinya.

Banyaknya sorotan bisa bikin trust masyarakat turun dan berakibat bahaya. Kok bisa?

Bahaya Masyarakat Main Hakim Sendiri

Main hakim sendiri sebenarnya bukan isu yang baru. Bahkan film-film superhero sebenarnya memperlihatkan “main hakim sendiri”. Terbaru, sebuah berita hadir dari Tasikmalaya. Massa menghukum seorang pelaku pemerkosaan dengan kekerasan. Bahkan aksi vigilante juga sempat membuat seseorang meregang nyawa.

Kondisi masyarakat kita yang sering kemakan isu juga memperburuk kebiasaan vigilante. Kita nggak bisa memungkiri adalah bangsa yang emosional. Beberapa kasus-kasus yang muncul sering dilandasi emosi. Seperti Eli yang harus kehilangan nyawa karena dituduh mencuri motor warga.

Hukum dan Aparat Harusnya Jadi Batasan Masyarakat

Bruce Wayne, sang Batman, pernah mengatakan bahwa jalan paling benar memberantas kejahatan adalah lewat hukum. Bukan lewat pengadilan jalanan. Termasuk dalam penegakan norma dan hukum yang ada. Pengadilan jalanan bisa sangat berbahaya. Di sini lah seharusnya polisi dan hakim memainkan perannya. Polisi dan hakim menjaga batasan kelakuan masyarakat. Menjaga agar pengadilan jalanan nggak terjadi. Tapi sayang, hal ini kayanya selalu luput dari kesadaran mereka.

Mulai Memperbaiki Dari Dini

Banyak hal yang bisa dilakukan buat memperbaiki semuanya. Perbaikan dari pihak penegak hukum dan masyarakatnya sendiri. Semua harus terlibat dalam perbaikan kondisi hukum di Indonesia.

Pendidikan adalah hal yang paling sering dikritik. Dalam kasus vigilante, pendidikan juga bermain. Setidaknya menurutku. Sekolah nggak ngajarin emosi dan kekritisan. Sekolah hanya menjejali mengenai teori hapalan semata. Tanpa kecerdasan emosional dan kekritisan, masyarakat bisa gampang kemakan isu. Maka simsalabim vigilante terjadi.

Pembenahan Respon Kepolisian

Selanjutnya yang harus mengusir mendung pastinya adalah Kepolisian. Polisi yang gak hadir di tengah masyarakat adalah problem dari vigilante. Polisi harus responsif terhadap keluhan. Kalau memang harus lama karena birokrasi, ya birokrasi harus dipermudah. Bukan nggak mungkin lambatnya respon polisi karena birokrasi yang berbelit. Mereka yang seharusnya bisa cepat menangani justru harus duduk lama dulu. Bisa aja si penjahat kabur duluan. Mau inisiatif pun salah, nanti dianggap menyalahi prosedur. Nah kan…

Merespon Vigilante Dengan Tepat

Kalau kita mau melihat secara penuh, vigilante mungkin ada sisi wajarnya. Vigilante adalah salah satu bentuk pembelaan diri. Polisi harus bisa mengatur responnya terhadap vigilante. Polisi nggak harus menindak vigilante dengan penjara. Kepolisian mending memahami dulu latar belakang vigilantenya.

Baru aja terjadi, Polisi menetapkan tersangka karena melakukan pembunuhan terhadap begal. Ya, ini adalah vigilante. Vigilante yang berakhir pembunuhan. Tapi coba kita melihat sisi sang korban begal ini. (Atau sang pelaku pembunuhan). Kalau dia nggak menikam begal, bukan nggak mungkin dia yang meregang nyawa. Ribetkan? Mana yang kalian pilih kira-kira?

 

Polisi harus gercep nih dalam memperbaiki diri. Coba kalau nggak hmm… Kalian bayangin deh. Suatu hari kalian salah ngomong. Orang-orang tersinggung. Bukannya melapor malah berakhir menghakimi sendiri kalian. Bukan nggak mungkin sampe kalian dipermalukan. Atau malah meregang nyawa. Kalau begini tetep masyarakat yang merugi kan?

Baca juga:

#PercumaLaporPolisi Jangan Jadi Bahan Candaan, Tapi Merubahnya Sulit

Kecerdasan Emosional Masyarakat Kita dan Kepolisian

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini