Waktu Baca: 3 menit

Kali ini tema yang saya angkat adalah ‘kekerasan dalam pacaran’. Banyak yang tidak tahu bahwa kasus ini bisa menimpa siapa saja. Sayangnya, isu ini seringkali tenggelam karena korban mungkin tidak mau bercerita dan pelaku banyak yang di bawah umur. Akhirnya, dalih kekeluargaan menjadi alasan kasusnya tidak berlanjut ke ranah hukum. Pada kenyataanya, isu ini sangat umum dan kerap terjadi. Ya, orang terdekat sangat berbahaya dalam hal ini.

Sayapun kaget karena menemukan beberapa kisah KDP yang mencengangkan. Entah seberapa besar kasus KDP sebenarnya, tidak ada yang tahu karena di Indonesia hal ini begitu disembunyikan. Pernah satu kali isu ini terangkat ketika sutradara, Edwin, merilis film ‘Posesif’ yang mengantarkan Putri Marino meraih Piala Citra pertamanya. Film ini begitu kuat pesannya saat itu. Namun sayangnya film itu baru berhasil membawa masyarakat ke tingkat ‘awareness’.

Lalu, bagaimana kenyataannya? Sayapun mulai menelusuri kisah kisah KDP untuk mendapatkan gambaran jelasnya.

Sebut Saja Melati

 Sebut saja Melati, begitulah karakter ini saya namai dalam cerita ini. Melati adalah seorang mahasiswi di Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga Kristen yang cukup protektif dan penyayang. Keluarganya sangat perhatian kepadanya. Karena itulah, cukup sulit mendapat izin pacaran dari kedua orang tuanya. Hingga akhirnya izin itu datang karena Melati berpacaran dengan seorang pria yang berasal dari keluarga dekat orang tuan

“Awalnya semua baik baik saja, hingga kemudian di tahun kedua hubungan mulai merenggang,” ungkap Melati pada saya.

Saya bertanya, apa yang menyebabkan hubungannya merenggang?

Melati menjelaskan bahwa pacarnya itu mulai mengatur ngatur hidupnya. Laki laki itu bahkan mengambil uang hasil kerja sambilan Melati. Sikap yang Melati sendiri kaget ada di diri pria itu. Melati awalnya mencoba memahami namun lama kelamaan bukan hasil positif yang ia dapat, malah mulai ada kekerasan.

“Ia mulai main tangan,” kata Melati pelan.

Tidak bisa dibayangkan betapa sakit hati dan fisik Melati setiap tamparan dan pukulan mendarat di dirinya. Iapun lalu memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengan pria itu ketika pukulan terakhir hampir membutakan mata kirinya.

Setelah itu, Melati tidak menjawab panggilan telepon dari pria itu dan benar benar menjaga jarak dari pria tersebut. Namun sesekali pria itu datang dan mengawasi dari kejauhan. Bahkan pernah pria itu mematikan saklar lampu rumah milik Melati. Melati yang tinggal sendirian dan takut gelap setengah mati mencoba bertahan di dalam rumah dan tidak keluar. Ia tahu, jika ia keluar, bahaya yang sebenarnya akan datang.

Kini, ia merasa lebih aman setelah seorang temannya ikut tinggal di rumahnya yang ia huni sendiri sebelumnya. Sampai hari ini, ia tak lagi mendengar kabar pacarnya.

 

Bertemu di Gereja

Narasumber saya berikutnya kita panggil saja dengan nama EP. Ia seorang penyintas dari kekerasan dalam pacaran juga. Pacarnya sering kali berkata kata kasar padanya. Yang paling buruk adalah pria itu mengancam akan menyebarkan foto foto pribadi milik EP. EPpun sangat ketakutan dan sempat stress berat.

EP sendiri tak menyangka bisa memiliki pacar seperti itu. Sebabnya, EP bertemu pria itu dalam sebuah acara gereja. Pria itu dikenal cukup aktif di gerejanya juga. Namun, EP sebenarnya sudah mulai melihat gelagat aneh saat proses pendekatan.

“Dia itu mengekang saya dan membuat peraturan peraturan. Ia melarang saya untuk aktif di gereja. Awalnya saya terima terima saja, namun memang makin kesini saya makin gak nyaman,” ujar EP saat menemui saya di sebuah café di daerah Kranggan Yogyakarta.

EP sendiri juga banyak merenungkan kisah hubungannya. Ia menganggap bahwa banyak pelajaran yang bisa ia ambil dari hubungannya yang traumatik. Ia mengaku, mungkin memang ada perasaan takut sendirian yang muncul dari dirinya. Ia sendiri juga merasa bahwa sedikit banyak kondisi keluarga yang broken home turut mempengaruhi keputusannya yang terburu buru dalam meresmikan hubungannya. Ya, ada sosok pria yang ia rindukan untuk melindungi dan menyayanginya.

Setelah putus, EP kembali ke kampus dan mulai rajin beraktivitas sembari menjadi relawan di sebuah organisasi feminisme. Tidak hanya itu, ia juga bekerja di sebuah toko bahan organik di Yogyakarta.

Bendera Merah Yang Berkibar Diam Diam

Sebenarnya, banyak pelaku KDP sudah memperlihatkan sikap sikap yang bisa kita tafsirkan sebagai red flag. Namun, sayangnya kita sendiri dalam menjalin hubungan seringkali tidak bisa melihat red flag tersebut. Jika kamu menjadi korban KDP, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak bisa menuntut dirimu selalu rasional dalam pengambilan keputusan. Kamu harus menemukan orang yang bisa kamu percaya untuk bicara soal traumamu. Cari juga pertolongan agar pelaku KDP tidak membahayakan nyawamu. Korban tak pernah salah dalam KDP, mereka hanya tidak beruntung. Di saat mereka kesulitan, sudah seharusnya kita mendampingi mereka dan menjadi sahabat yang bisa mendengar dan mengerti.

foto oleh : Karolina Grabowska

Baca juga :
Hati Hati ini Toxic Traits Yang Gak Boleh Dicontoh Dari Aris!

Mengapa Pria Selingkuh? Kisah Seorang Wanita

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini