Waktu Baca: 3 menit

Akhir-akhir ini, salah satu pemain reality show Netflix berjudul Single’s Inferno, Song Ji Ah, sedang ramai menjadi bahan bincangan. Topiknya bukan lagi soal paras cantik atau tingkat kepopulerannya baik di dalam acara maupun di luar. Youtuber kelahiran 1997 tersebut ramai menjadi bahan pembicaraan publik, terutama warga Korea Selatan, lantaran dirinya tertangkap memakai barang-barang palsu atau KW. Menurut penuturan Korea Reomit, kasus ini pertama kali terbongkar saat salah seorang pengguna platform diskusi barang branded bernama Chicment bertanya ke para pengguna tentang merek kalung Song Ji Ah. Salah satu pengguna membalas jika kalung yang dipakai Youtuber tersebut terlihat palsu karena posisi rantai yang berbeda dengan foto di website resmi. Langsung saja, pasca diskusi tersebut, investigasi pun dilakukan dan ternyata tak hanya kalung, tapi juga beberapa barang lain, seperti atasan, gaun, anting-anting, bahkan tas diduga palsu.

Waduh, banyak banget, ya!

Karir dan ketenaran Song Ji Ah atau Freezia harus menjadi taruhan saat itu juga. Ia menghapus semua video dan postingan foto di akun Youtube dan Instagram-nya. Wanita tersebut hanya meninggalkan satu postingan berisi permintaan maafnya ke publik, terutama para fans. Dari kasus ini, sebenarnya ada pelajaran yang dapat kita ambil. Apa aja itu?

Menghargai Karya Seseorang Itu Perlu

Pelajaran pertama yaitu tentang menghargai karya seseorang. Dalam kasus Song Ji Ah, ia tertangkap menggunakan beberapa barang palsu dari merk terkenal dunia. Perbuatan seperti ini sebenarnya salah satu tindakan merendahkan bagi para desainer dan penghasil karya atau seni secara umum. Gimana enggak, para desainer sudah susah payah mencari ide, mendesain, merancang, dan merevisi ulang produk mereka agar mempunyai nilai yang unik dan tak biasa. Tapi, dengan kehadiran barang imitasi dan kelompok orang yang mengoleksi produk KW ketimbang yang asli, mereka gak lagi menghargai usaha para desainer. Malahan, mereka terkesan memandang rendah kerja keras para desainer untuk produk yang mereka hasilkan.

Bayangkan saja kalian di posisi para desainer, apa kalian gak sakit hati? Tentu menyakitkan banget, dong, kalau tahu ada orang yang seenaknya sendiri mencomot karya kalian. Nah, ayo, mulai dari sekarang tumbuhkanlah rasa menghargai ke karya orang lain dengan membeli produk asli dan bukan palsu.

Eksplor Merk Lokal di Sekitar Kita

Pelajaran selanjutnya yang bisa kita ambil dari kasus Song Ji Ah adalah tingginya minat masyarakat ke merek high-end. Obsesi terhadap merek kelas dunia, seperti Chanel, Dior, Louis Vuitton, Supreme, dan lainnya memang sesuatu yang lumrah. Kita gak bisa memungkiri godaan koleksi barang merek tersebut. Gak cuma soal penampilannya yang berkelas, kualitasnya pun sudah terjamin sangat baik. Alhasil, merek luar negeri semacam ini menang saing dan semakin kuat menggeser merek lokal nan unik yang ada di negeri kita.

Apalagi kalau udah ngomongin gengsi, memakai barang branded lebih mendapat pujian daripada memakai produk lokal. Jujur, saya terkadang prihatin melihat orang-orang yang hanya terobsesi ke barang branded hanya untuk kebutuhan bergaya sampai terkesan flexing yang berlebih di media sosial. Kebutuhan validasi dari orang sekitar yang tinggi menjadi salah satu alasan mungkin kenapa kelompok manusia seperti ini muncul. Alhasil, mengikuti tren untuk memakai barang branded lebih utama ketimbang merangkul produk lokal. Apa, iya, produk negeri sendiri tak mendapat tempat di hati masyarakatnya?

Bergayalah Sesuai Budget

Pelajaran ketiga dari kasus Song Ji Ah yaitu tentang bergaya sesuai budget. Hm, memang ada yang bergaya melebihi isi dompet mereka? Jelas ada, dong!

Kasus Song Ji Ah sendiri menyadarkan kita tentang pentingnya tampil sejujur mungkin ke orang lain, tak terkecuali dalam berpakaian. Apa gunanya tampil serba wah di media sosial padahal semua itu hanyalah sewaan atau bahkan palsu? Seperti yang saya singgung sebelumnya, ketertarikan berlebih masyarakat modern terhadap barang branded dan lifestyle ala sultan udah masuk ke tahap genting. Kita seolah-olah diajak berlomba untuk mengejar hal yang hanya memberikan kesenangan semata. Sadar gak sih kalau menjalani hidup seperti itu sama aja membohongi orang-orang? Bergaya boleh, tapi usahakan sesuai dengan isi dompet kalian. Jangan sampai, nih, kalian keteteran sendiri karena hidup hedon yang maksa hanya untuk mengejar tren sesaat. Gak mau kan ditinggal pergi followers? Atau, rentenir pinjaman hutang online mengejar kalian karena tagihan yang belum lunas?

Singkatnya: Hiduplah yang sesuai dengan kemampuanmu. Kalau gak mampu beli satu barang, ya sudah tunggu budget cukup dulu. Tak perlu memaksa sampai pinjam hutang sana-sini, kalian bakal tertekan secara batin nanti. Think wisely, oke?

Baca juga:

Hidup Hedon Tapi Ngutang? Gak Jaman!

Empat Prinsip Hidup Essensialisme

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini