Waktu Baca: 2 menit

Henricus Pria, co-writer dari film Netflix Penyalin Cahaya diduga dilaporkan karena kasus pelecehan seksual. Namanya isu yang cukup sensitif, netizen langsung ngasih respon secepat kilat. (Mungkin kalau netizen ini kurir, kamu baru aja check out, barangmu tau-tau dah di meja depan.) Nah, salah satu cara netizen merespon adalah ajakan buat boikot filmnya. Berharap ini bisa jadi hukuman buat Henricus Pria. Tapi apakah benar kita perlu memboikot film Penyalin Cahaya?

Kebiasaan Merespon Cepat

Kalau nggak cepet ya bukan netizen. Kebiasaan merespon cepet ini biasa kita artiin sebagai kepedulian yang cepat dari warganet. Tapi sayangnya respon cepet ini sebenarnya juga kurang bijak. Karena pengadilan belum memproses lebih lanjut laporan pelecehan seksual. Dalam hukum ada yang namanya asas tidak bersalah. Asas ini mengasumsikan pihak yang dilaporkan perlu adanya tidak bisa langsung dianggap pelaku. Perlu proses buat menetapkan bahwa orang yang bersangkutan benar-benar terbukti bersalah. Dalam hal ini Henricus Pria belum terbukti benar-benar bersalah. Dalam artian laporan pelecehan seksual ini bisa benar adanya, dan bisa aja laporan fiktif.

Keputusan Menghapus Nama Henricus Pria Bukan Melindungi “Pelaku”

Warganet bukan cuma memberikan respon cepat soal Henricus Pria. Netijen juga cepat merespon penghapusan nama Henricus Pria di credit list. Penghapusan nama Henricus Pria di credit list menimbulkan kecurigaan. Banyak yang menuding kalau penghapusan ini sebagai langkah Rekata Film melindungi “pelaku”. Gelombang protes datang dari warganet “Ngapain menghapus jejak pelaku?”.

Tak ayal, penghapusan ini ternyata juga berpengaruh ke filmnya sendiri. Netizen udah yakin Henricus adalah pelaku dan berencana memboikot Penyalin Cahaya.

Padahal kalau kita mau melihat sudut pandang lain, penghapusan ini nggak semata-mata kaya kecurigaan netijen. Penghapusan ini juga bisa bentukĀ punishment ke Henricus. Meskipun keputusan ini (menurutku) terlalu cepat. Penghapusan nama Henricus juga bisa sebagai bentuk dukungan ke “korban”. Penghapusan nama di credit list Penyalin Cahaya ini bisa kita artikan sebagai penolakan Rekata terhadap andil Henricus di film.

Apakah Emang Harus Diboikot?

Lalu, apakah kita harus memboikot film Penyalin Cahaya? Melihat kasus ini belum sampai final dan andil banyak orang di film ini. Memboikot Penyalin Cahaya sebenarnya kurang bijak buat kita lakukan.

Di sisi lain kalau kita mau mengkritik dan memboikot karena “Kok pada nggak tau Henricus pernah melakukan pelecehan?” pun juga kurang pas. Namanya masa lalu, kita dalam membentuk tim nggak bisa menelusur sedetail itu. Kita nggak bisa menelusur sampai ke orang-orang yang pernah mereka temui. Susah bin hampir mustahil harus menelusur sampai sana.

Biarlah aja film ini tetap dirilis selagi kita menunggu hasil investigasi dari polisi dan pengadilan. Jangan sampai kita udah rame-rame memboikot ternyata kasusnya nggak terbukti.

Baca juga:

Bahaya #Metoo Movement di Indonesia Tanpa RUU PKS

Kekerasan Seksual Salah Perempuan? Beneran?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini