Waktu Baca: 3 menit

Sebut saja namanya M. Ia adalah seorang ibu rumah tangga di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ia mengaku menikah muda dan menikahi seorang pria yang ia nilai cukup baik sikapnya. Namun tak lama perilaku suaminya berubah. Ternyata, berawal dari sebuah reuni, si pria bertemu dengan salah satu sahabat masa kecilnya. Singkat kata, merekapun berselingkuh. M menemukan hal itu dan mengkonfrontasi suaminya. Jawaban suaminya sangat menohok. Menurut pria itu, M tidak merawat diri sehingga berat badannya tidak ideal dan penampilannya terlihat kusam. Pria itu juga mengatakan bahwa M kurang perhatian. Sebaliknya, menurut M memang penghasilan si pria tak begitu banyak dan ia berusaha semampunya untuk hidup dengan pemasukkan yang terbatas. Semenjak kejadian tersebut, mereka mencoba memperbaiki hubungan meski M mengaku cukup sulit. Hanya anak yang membuat M bersikap sabar dan mencoba menerima kembali suaminya.

Hidup Setelah Perselingkuhan

M mungkin termasuk yang beruntung karena secara statistik, hanya 15,6 persen pasangan yang bisa melanjutkan hubungan paska perselingkuhan. Ini merupakan data dari Health Testing Center dengan narasumber kebanyakan dari Amerika Serikat. Untuk di Indonesia sendiri, belum ada data yang cukup akurat untuk menggambarkan fenomena ini. Tapi tampaknya kita semua setuju bahwa angkanya tidak akan jauh berbeda karena cukup sulit untuk tetap menikah setelah perselingkuhan terjadi. Terutama bagi pasangan yang menjadi korban.

Tetap melanjutkan menikah setelah perselingkuhan mungkin tidak cukup bijak kalau akar permasalahan dari perselingkuhan itu tidak diobati. Kenyataannya, banyak hal menyebabkan perselingkuhan Dalam kasus M misalnya, kita dapat melihat bahwa yang M lakukan tak sesuai dengan ekspetasi suaminya.

M berpikir bahwa berhemat adalah sikap yang baik dan suaminya harus menghargainya. Namun, suaminya menganggap bahwa menjaga badan dan penampilan jauh lebih penting daripada sekedar berhemat.

Ini cukup menarik karena saya menemukan hal ini umum terjadi. Saya kira ini adalah perbedaan persepsi antara pria dan wanita. Pria memang memiliki tanggung jawab menafkahi keluarga dalam sistem patrilineal di Indonesia. Itu udah jadi tugasnya dan ia merasa bahwa setelah menyelesaikan tugasnya ia membutuhkan imbalan. Imbalannya misalnya kebutuhan emosionalnya terpenuhi dan tentu saja, kebutuhan ranjangnya juga terpenuhi.

Sementara dari sisi wanita, ia merasa bahwa tanggung jawabnya adalah merawat anak dan menjaga rumah saja. Jadi ketika ia berusaha menafkahi keluarga atau peduli pada keuangan keluarga, itu adalah usaha ekstra. Kalau kita lihat dari kasus M ini, jatuhnya ya apa yang diinginkan serta dilakukan baik laki laki dan wanita menjadi gak nyambung dan rawan sekali terjadinya perselingkuhan.

Pria Berpenghasilan Rendah Banyak Yang Selingkuh?

Yap, ini adalah hasil penelitian dari tahun 2010, cukup lama memang. Namun, kita anggap dan asumsikan masih sering terjadi. Pertanyaannya adalah, kenapa? Kenapa laki laki yang tidak sekaya istrinya malah selingkuh? Kan dia butuh duit istrinya? Nah lagi lagi saya kira karena asumsi patrilineal tadi, si pria merasa egonya tidak terpuaskan. Jatuhnya ya ia mencari ego kejantanan itu di tempat lain. Selingkuh misalnya.

Jika pemikiran ini benar, lalu bagaimana cara sederhana untuk seenggaknya mengurangi perselingkuhan? Contoh sajalah dalam kasus M tadi, mungkin melakukan komunikasi untuk mengerti ekspetasi dan jalan pikiran masing masing bisa mengurangi kemungkinan terjadinya perselingkuhan. Sebaiknya hindari asumsi patrilineal. Menurut saya, ini adalah toxic masculinity sebenar benarnya dan berbahaya jika diteruskan. Harusnya dalam pernikahan tak ada asumsi. Cukup segeralah berkomunikasi dan segera juga atur ekspetasi masing masing. Jadi baik laki laki dan wanita tidak akan pernah merasa ada yang mengganjal begitu.

Mengurangi Ego

Lalu kalau sudah tahu ekspetasi dan pemikiran masing masing harus gimana? Ya, menurut saya harus realistis dan membuang ego.

Ada wanita yang enggan berdandan atau merawat tubuh untuk suaminya. Ia merasa ego feminismenya membludak. Sebab, bagaimanapun ia ingin diterima apa adanya dengan bentuk tubuh apapun juga. Berita buruknya, ada ego yang harus anda turunkan. Secara alamiah, laki laki memang suka melihat hal yang indah. Jika ia tidak bisa melihat keindahan, ada dua kemungkinan. Pertama, benteng moralnya cukup bagus dan ia akan setia. Kedua, ia akan mencari keindahan di tempat lain. Jadi gimana solusinya? Ya kembali ke masing masing.  Tapi saya kira balik lagi, harus realistis.

Sama juga untuk pria. Mungkin pria enggan terus menerus memberi perhatian pada kaum wanita. Pria mungkin merasa kayak budaknya perempuan. Namun, kalau itu memang bisa menyelamatkan pernikahan dan hubungan anda, kenapa tidak anda lakukan? Pada akhirnya hubungan berkelanjutan adalah soal menurunkan ego masing masing. Bukan salah satu, tapi kedua duanya harus mau mengalah.

Gambar oleh : Rohmina Ahmadpour/ Unsplash

Baca juga :
Apa Salahnya Pengen Punya Selingkuhan Kayak Anya Geraldine?

Layangan Putus dan Herannya Kita Pada Orang Yang Bermasalah

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini