Waktu Baca: 3 menit

“Nyari konten gini amat!”

Pernah dengar celetukan di atas? Komentar itulah yang menurut saya mewakili saat timeline Twitter saya menampilkan salah satu postingan tentang bayi Billar dan Lesti (Leslar). Minggu kemarin pada tanggal 8 Januari, salah satu stasiun televisi di Indonesia menyiarkan acara untuk menyambut kedatangan Baby L, bayi pasangan tersebut. Bayi yang belum genap berumur satu bulan itu dibawa ke tempat shooting dengan semua keramaian suara manusia dan musik. Tahu umur bayinya saja sudah buat saya miris—kok bisa bayi semuda itu sudah diseret ke tempat umum? Apalagi nih, sekarang masih musim pandemi dan maraknya varian baru Omicron, kok ya Billar dan Lesti tetap nekat bawa bayi mereka ke luar rumah?

Emang Gak Boleh?

Hal pertama yang perlu kita camkan adalah: tubuh bayi yang baru lahir masih rentan terhadap paparan penyakit. Seperti yang dijelaskan di Very Well Family, imunitas tubuh di bayi masih belum sempurna. Dengan kata lain, bayi masih rawan akan serangan penyakit dari luar. Membawa bayi ke tempat terbuka seperti halaman rumah atau taman yang relatif sepi dan bersih itu masih boleh-boleh saja. Tapi kalau membawa bayi yang baru lahir, apalagi belum mencapai umur satu bulan, ke tempat yang ramai dan banyak orang, hm… Jangan dulu, deh! Kita gak tahu kan orang-orang di sekitar memang 100% sehat atau ada yang sakit. Apalagi kalau di tempat tertutup yang sirkulasi udaranya tidak sempurna, kondisi seperti ini bisa menjadi ancaman serius bagi si bayi.

Netizens Prihatin

Melihat tayangan acara stasiun televisi tersebut, banyak netizens yang merasa prihatin dengan Baby L, sebutan untuk bayi Billar-Lesti. Bayi yang baru lahir pada tanggal 26 Desember 2021 kemarin ini seolah wajib hadir di acara penyambutannya di dunia. Dengan melupakan fakta bahwa Baby L tersebut baru lahir kurang dari sebulan yang lalu, pihak televisi sepertinya enggan untuk mengadakan untuk sekedar mengadakan video call dengan keluarga Billar-Lesti. Gak cukup Rafathar aja nih yang sering kena sorot karena harus terekspos sejak dini, Baby L pun juga tak mau kalah. Duh, miris!

Terlepas dari kontroversi nama Baby L, netizens juga ramai menyuarakan rasa prihatin mereka ke bayi tersebut. Gimana enggak, bayi yang saat acara berlangsung masih berumur kurang dari dua minggu itu malah dibawa ke tempat ramai dengan musik yang kencang. Masa-masa istirahat yang seharusnya Baby L dapatkan secara penuh malah harus tergantikan dengan acara yang bahkan bisa lewat fitur video call.

Seorang netizen menuliskan:

“Sebagai seorang emak-emak, aku juga kurang suka melihatnya. Bayi premature, belum ada 40 hari, di situ kena AC, suara speaker kencang, lampu sorot, banyak orang (padahal pandemi), daya tahan tubuh bayi masih lemah juga. Tapi tiap ortu punya kebijakan masing-masih juga sih”

Gini amat, ya, mau lihat bayi orang?

Jangan Asal Sentuh, Ya!

Seperti yang saya tulis di atas, tubuh bayi masih tergolong lemah dan rentan. Gak hanya imunitas saja, kulit bayi pun masih sensitif dan rawan kena iritasi. Dari kasus Baby L sendiri kita gak hanya belajar untuk lebih menjaga bayi yang baru lahir dari paparan penyakit di luar rumah, tapi juga keusilan orang dewasa. Walaupun saya gak tahu pasti apakah orang-orang di studi tersebut sampai menyentuh Baby L atau tidak, tapi rasanya saya perlu mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga kebersihan tangan dan diri sebelum menyentuh bayi. Dari artikel Healthline, mencuci tangan sebelum menyentuh dan memegang bayi itu penting. Kebiasaan ini gak boleh terlewatkan, bahkan untuk ibu dan ayah bayi itu sendiri. Meskipun tangan terlihat bersih, belum tentu sepenuhnya bebas dari kuman, kan?

Bayi memang lucu dan menggemaskan, tapi bukan berarti kita bisa membawa bayi seenaknya sendiri ke luar rumah. Walaupun sudah memakai baju yang cukup hangat, perlu ada pengecekan ulang apakah lingkungan yang akan bayi datangi benar-benar aman. Terutama untuk bayi yang baru lahir, nih, sangat penting untuk tetap menjaganya di kondisi ruangan yang steril dan aman dari serangan penyakit.

Gak salah sih buat konten penyambutan kelahiran bayi, tapi gak harus bawa bayi langsung, kan? Kalau bayinya kena penyakit, apa kru dan tim produksi mau bertanggung jawab? Jadi, jangan hanya sebatas konten saja yang jadi tugas utama, keselamatan bayi yang jadi objek konten pun perlu!

Baca juga:

Content First Sebuah Laku Hidup Nir Empati

Bikin Konten di Lokasi Bencana, Waras?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini