Waktu Baca: 2 menit

Kasus pelecehan seksual menjadi PR besar bagi negara Indonesia akhir-akhir ini. Banyak kasus baru yang tak terduga menyeruak ke permukaan, semua berkat keberanian para korban untuk speak up tentang perlakuan merendahkan yang mereka alami. Berbicara tentang keberanian para penyintas kekerasa seksual, memang bukan hal yang mudah untuk membuka diri. Mereka tak hanya mendapat perlakuan yang tak menyenangkan hati, harga diri mereka pun juga tersayat. Dan ketakutan terbesar dari para korban pelecehan pun menyertai, yaitu bercerita atau speak up ke orang lain. Ingin terbebas dari kekangan rasa takut dan trauma, tapi mereka masih terjerat dengan ketakutan membuka diri.

Pelecehan = Subjektif?

Tindakan pelecehan, termasuk pelecehan seksual, adalah perilaku yang takkan bisa dikatakan menyenangkan bagi orang yang menerima. Dosen psikologi Universitas Proklamasi 45, Fx Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A., menyebut tindakan pelecehan sebagai hal merendahkan yang dilakukan oleh seseorang. Seperti yang saya sebutkan di awal, pelecehan dapat membuat para korban merasa tak nyaman dan tidak dihargai. Tapi, apakah kita semua mempunyai pendapat yang sama terhadap perilaku apa saja yang termasuk sebagai pelecehan?

Wahyu membeberkan jika tak semua orang mempunyai pandangan yang sama tentang tindakan apa yang termasuk pelecehan. Pelecehan, menurutnya, adalah hal yang subjektif. Agak mengejutkan memang, tapi kalau kita pikir lebih dalam, pernyataan tersebut memang benar adanya. Sebagai contoh, nih, catcalling bagi beberapa perempuan dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Tapi, lain hal dengan populasi perempuan lain yang menganggap bahwa catcalling sebagai salah satu bentuk perhatian yang orang lain berikan kepadanya. Kelompok perempuan ini jelas memiliki pandangan yang berbeda dengan kelompok yang pertama. Bagi mereka, tindakan tersebut tidak terlalu melecehkan tapi malah bisa memberi perhatian yang mungkin belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Utamakan Kestabilan Psikis Korban

Langkah pertama dalam penanangan korban pelecehan itu penting. Lucia Setyawahyuningtyas, S.H., M.Kn., selaku kaprodi Ilmu Hukum Universitas Proklamasi 45, menyarankan orang terdekat korban pelecehan untuk menstabilkan kondisi psikis mereka. Pasca tindakan pelecehan, para korban tentu mendapatkan after effect yang tak menyenangkan di dalam hati. Terutama untuk kasus pelecehan seksual, nih, efek yang korban dapatkan bisa sangat membekas dan sulit untuk hilang.

Ini juga yang bisa membuat para korban ragu untuk melaporkan tindakan pelecehan yang mereka alami. Rasa takut dan malu tak pernah absen dari daftar perasaan yang menyelimuti para korban penyintas. Itulah kenapa mereka perlu seseorang untuk mendampingi dan menemani, tak hanya soal urusan psikis tapi juga penangan jalur hukum. Seperti yang Lucia katakan, rasa takut yang korban penyintas rasakan bisa membuat mereka kesulitan untuk bercerita. Kehadiran seorang pendamping akan sangat berguna untuk membantu mereka membuka suara.

Perlunya Menciptakan Ruang Aman Bagi Korban Pelecehan

Salah satu jalan untuk membuat para korban pelecehan untuk speak up adalah dengan menciptakan ruang yang aman. Berada di lingkungan yang mampu menjamin proteksi dapat membuat mereka tenang dan pemulihan psikis pun akan lebih cepat. Lain halnya jika lingkungan sekitar korban tidak suportif dengan apa yang baru saja ia alami. Bukannya merasa tentram, hati malah semakin kalut dan tertekan karena merasa tak lagi mempunyai tempat untuk mencurahkan perasaan.

Saya yakin, pembaca Pakbob juga tak ingin mengalami hal yang tak menyenangkan bernama pelecehan. Kita semua tahu dan sadar jika pelecehan adalah suatu hal yang merendahkan harga diri si korban. Maka dari itu, ayo, kita bantu dan lindungi para korban pelecehan. Jangan sampai kita luput menciptakan ruang yang aman bagi mereka untuk bercerita dan meringakan beban.

Baca juga:

Jenis Kekerasan Seksual yang Ada di Sekitar Kita

Akhirnya Muncul Regulasi Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini