Waktu Baca: 3 menit

Si sulung: Kamu anak pertama, jangan ngeluh harus kuat.

Si tengah: Kamu harus bisa kayak kakakmu, jadi contoh juga buat adikmu.

Si bungsu: Kamu mah enak bungsu, apa apa dimanja.

Si tunggal: Enak ya jadi anak tunggal, perhatian orang tuanya penuh.

Begitulah kira-kira ungkapan adu nasib yang tak jarang kita dengar atau baca di media sosial. Mereka seakan sedang berlomba mengadu nasib siapa yang paling buruk dan nasib siapa yang paling enak. Padahal setiap anak mempunyai beban ekspektasi dan porsinya masing-masing, baik dari orang tua mereka maupun dari lingkungan sekitar. Saya pernah menonton video di Youtube dalam channel Menjadi Manusia. Di channel itu ada titik temu dan berbagi perspective mengenai posisi mereka sebagai anak sulung, tengah, bungsu, dan tunggal. Apa menjadi seorang bungsu itu selalu menyenangkan? Jadi sulung apa harus selalu kuat? Apa menjadi tunggal selalu mendapat perhatian? Dan si tengah, apa selalu tidak terlihat?

Sebenarnya kita nggak bisa menyamaratakan hal-hal itu. Mengapa? Yap, tentu saja dikarenakan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Meski begitu, tetap saja seorang anak dalam posisi sulung, tengah, bungsu, dan tunggal bisa saja mirip-mirip nasibnya. Si sulung ketemu sulung pasti akan lebih merasakan hal yang sama, begitu juga dengan posisi anak lainnya.

Kali ini, aku akan menulis perspective menjadi anak sulung, tengah, bungsu, dan tunggal secara general. Apa aja yang mereka rasakan?

Si Sulung

Menjadi sulung tidak lantas tidak berhak bahagia. Si anak pertama biasanya sih…biasanya ini, akan punya asisten pribadi di rumah yaitu, adiknya sendiri hihi. Di mana si sulung bisa menyuruh-nyuruh adiknya untuk melakukan perintahnya, bossy. Walaupun hanya hal-hal kecil seperti mengambilkan minum atau membelikan sosis di swalayan. Tak hanya itu, orang tua akan memprioritaskan kebutuhan si anak sulung. Asik, bukan?  Meski begitu, tetap saja sulung mempunyai tanggung jawab yang besar, karena anak sulung nantinya akan menjadi pengganti orang tua pertama bagi adik-adiknya. Itulah kenapa anak sulung akan lebih dipersiapkan dan dituntut menjadi contoh yang baik. Tak ayal, anak sulung sering kali tidak boleh terlihat mengeluh apalagi menyerah.

Si Tengah

Menjadi anak tengah sepertinya terlihat menyenangkan ya. Ke atas mempunyai kakak, ke bawah mempunyai adik. Tapi, berdasarkan wawancara dengan seorang teman yang berposisi sebagai anak tengah, posisi anak tengah ini benar-benar menjadi perantara. Secara general pendapat anak tengah tak jarang tidak begitu di dengar. Mereka harus tetap nurut kepada kakaknya, dan juga sering mengalah untuk adiknya. Sehingga beberapa anak tengah mengaku lebih sering menyimpan segala sesuatunya sendiri. Anak tengah kebanyakkan mempunyai karakter yang bijaksana. Meskipun gitu kita nggak bisa menyamaratakan, ya.

Si Bungsu

Anak yang sering kali mendapat stigma, “manja.” Kerap kali orang-orang memandang sebelah mata anak bungsu. Sebagian besar akan menganggap anak bungsu adalah anak manja dan hidupnya selalu terpenuhi. Weitsss… tunggu dulu, apa lantas bungsu tidak punya porsinya? Menjadi bungsu juga tidak selalu senang seperti yang orang-orang kira. Orang tua sering nggak ndengerin pendapatnya. Di sisi lain juga selalu dianggap belum dewasa dalam mengatasi masalah. Nggak jarang juga orang-orang meremehkan apa yang si bungsu lakukan. Mereka menganggap si bungsu nggak bakalan bisa. Hal-hal kecil yang diterima semacam itu, membuat bungsu meragukan dirinya dalam mengambil keputusan. Bungsu juga menjadi harapan terakhir orang tua yang berkejaran dengan usia.

Si Anak Tunggal

Nah, untuk anak tunggal ini perpaduan dari anak sulung, tengah, dan bungsu. Orang tua memprioritaskan kebutuhannya kaya si sulung. Namanya juga anak sematang wayang. Anak tunggal juga mendapat stigma segala sesuatunya terpenuhi. Nggak harus mengalah dengan saudara yang lain. Namun, anak tunggal juga kerap kali menyimpan segala sesuatunya sendiri. Mereka tidak punya saudara kandung untuk berbagi cerita. Anak tunggal juga menjadi harapan terakhir sekaligus satu-satunya dari orang tuanya.

Menjadi anak sulung, tengah, bungsu, dan tunggal tetaplah mempunyai beban dan porsinya masing-masing. Setiap anak tentu membawa ekspektasi dari orang tua atau bahkan masyarakat sekitar. Mereka bertumbuh sesuai dengan dirinya dan tujuan hidupnya tanpa perlu dibanding-bandingkan posisinya sebagai seorang anak. Jadi, apa masih perlu adu nasib? Hihi

Baca juga:

The Whole Truth Adalah Cermin Keluarga Asia Dan Kenyataannya

Review Film Encanto: Film Keluarga Demanding Amerika Latin yang Relate Sama Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini