Waktu Baca: 3 menit

Pernah dengar ‘thin privilege’? Istilah yang jika kita artikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi hak istimewa orang kurus ini mungkin belum banyak diangkat ke meja diskusi di Indonesia. Obrolan tentang berat badan memang masih menjadi topik yang sensitif, gak hanya di Indonesia saja tapi juga di negara luar. Topik ini sarat dengan unsur bully yang menjatuhkan kepercayaan diri seseorang, terutama bagi mereka yang merasa badannya terlalu ‘berat’ untuk hadir di masyarakat modern yang masih menganut filosofi bentuk tubuh ala model Victoria Secret.

Apa Itu Thin Privilege?

Sebelum kita membahas lebih lanjut, alangkah baiknya kalau kita ulik dulu apa itu thin privilege. Seperti yang sudah saya tulis di awal, thin privilege bisa bermakna hak istimewa untuk orang kurus. Nah, dari sini kita punya gambaran besar tentang pembahasan apa yang ada di dalam ranah thin privilege, yaitu tak lain dan tak bukan tentang hak istimewa yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mempunyai badan kurus atau langsing. Istilah ini lebih populer di kalangan perempuan daripada laki-laki, terutama mereka yang merasa memiliki berat badan lebih dari apa yang masyarakat anut. Hak istimewa dari thin privilege ini sebenarnya tak secara sadar dirasakan oleh orang-orang.

Apa Aja, Sih, Hak Istimewanya?

Ada beberapa hak istimewa atau perlakuan khusus yang masuk ke dalam thin privilege menurut Feminism Today. Yang paling umum nih soal pemilihan baju. Kalian tahu dong kalau memilih baju baru kita gak cuma fokus ke model dan warna saja, tapi juga ukuran. Beberapa merk baju memang memiliki standar ukuran sendiri meskipun mereka memakai istilah yang sama seperti S, M, L, dan XL. Terkadang ada juga nih merk baju yang punya variasi ukuran yang terbatas, alias mentok di ukuran tertentu seperti XL. Bagi orang-orang yang memiliki ukuran tubuh lebih lebar (seperti saya, hehe), ini bikin frustrasi banget sih. Udah suka sama model dan warnanya, eh waktu cek ukuran malah gak dapet yang sesuai dengan tubuh kita.

Beda cerita untuk orang-orang yang mempunyai badan lebih kurus. Mereka gak perlu mikir lama untuk mencari baju mana yang punya size sesuai dengan mereka. Ketidakimbangan variasi dan jumlah baju untuk orang-orang yang berukuran ekstra inilah yang bisa jadi contoh klasik dari thin privilege.

Contoh yang kedua adalah soal makanan. Yes, makanan juga bisa jadi sasaran alasan untuk menjustifikasi seseorang. Everyday Feminism menyebutkan jika mereka yang bertubuh kurus gak perlu terbebani dengan tatapan aneh dan komentar yang tertuju ke makanan dan berat badan. Ada aturan bisu yang mengatur jika orang kurus boleh makan sebanyak yang mereka mau dan orang bertubuh ekstra harus makan sedikit. Hm, kok gitu ya?

Selain kedua contoh di atas, ada juga, nih, kasus yang bisa jadi patokan thin privilege. Misal, takaran ‘sehat’ seseorang hanya berdasarkan bentuk tubuh; orang kurus berarti sehat, orang bertubuh ekstra berarti tidak sehat. Atau saat naik transportasi umum; orang kurus jarang mendapat keluhan saat duduk di samping orang lain, tapi orang bertubuh ekstra sering mendapat komplain tentah tubuhnya yang ‘penuh’ dan bikin kursi sesak.

Antara Ada dan Tiada

Melihat fenomena thin privilege, ada yang percaya jika hak istimewa ini ada dan ada juga yang menyangkal. Bagi mereka yang percaya, thin privilege adalah wujud ekspektasi tak masuk akal masyarakat untuk menciptakan lingkungan dengan satu bentuk tubuh. Sebaliknya, mereka yang kontra dengan berdalih jika orang-orang hanya bersikap berlebihan. Seseorang beralasan jika mereka yang bertubuh ekstra harus punya kesadaran akan kesehatan tubuh sendiri jika mereka memilih untuk tetap stuck di ‘zona nyaman’ mereka. Menyayangi tubuh itu gak salah, tapi bukan berarti kamu bisa melakukan hal seenaknya tanpa memikirkan resiko bagi diri sendiri—kurang lebih seperti itu.

Privilege atau hak istimewa harusnya tak terbatas untuk satu golongan masyarakat saja. Setiap individu punya privilege mereka sendiri yang mereka bebas untuk banggakan tanpa adanya nyinyiran.

Baca juga:

Perempuan Harus Bisa Memasak, Siapa yang Mengharuskan?

Waspadai Beauty Shaming, Bercandaanmu Nggak Lucu!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini