Waktu Baca: 2 menit

Tick, Tick…BOOM! sebuah suara bak bom waktu terus-terusan berbunyi di otak Jonathan Larson. Suara di dalam kepala Jonathan adalah representasi waktu. Waktu yang terus berjalan dan nggak akan menunggumu karena ragu-ragu. Tapi di saat yang sama waktu juga menguji Jonathan dan kita. Apakah kita bisa terus melanjutkan cita-cita kita atau tunduk kepada kenyataan. Waktu adalah orang yang terus menekan. Di film ini lah kita bisa melihat bagaimana Jonathan Larson, sang komponis legendaris berperang melawan dirinya sendiri dan waktu yang terus berjalan dalam berkarya.

Galau Sama Umur

Sama kaya kita, Jonathan Larson yang waktu itu hampir berusia 30-an tahun mulai melihat nama-nama besar di luar sana. Stephen Sondheim dan Paul McCartney adalah representasi harapannya. Orang-orang yang udah punya nama sama karya sebelum usia 30 tahun. Jonathan terus-terusan galau soal dirinya yang belum sehebat mereka. Dia masih stuck menggarap karyanya yang 8 tahun nggak kelar-kelar.

Superbia, karya yang dia akan lahirkan sebagai bentuk kecintaannya terhadap dunia teater. Lewat kisah luar angkasa inilah Jonathan ingin segera punya cerita besar dalam hidupnya sebelum usia 30 tahun. Sayangnya kegalauan Jonathan malah membawa dia ke dilema besar di hidupnya. Apakah dia berkarya karena dia cinta dengan dunia teater? Atau dia berkarya karena dia takut umurnya hampir 30 tahun dan belum jadi apa-apa?

Gambaran Krisis Keyakinan Sama Cita-Cita

Satu per satu temannya meninggal. Meninggal di usia yang relatif muda. Di sisi lain pacar Jonathan yang mau pindah dari Broadway juga pengen Jonathan ikut meninggalkan Broadway. Beserta juga dengan impian Jonathan. Sahabatnya Michael, yang tadinya punya cita-cita jadi aktor kawakan juga mengambil langkah mundur dari harapan. Meninggalkan impian berperan sebagai seorang tokoh.

Kondisi ini membuat Jonathan mulai bertanya-tanya. Terlebih dia mulai menyadari pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah kedai ga bisa menjamin kehidupannya. Karyanya, Superbia, juga nggak bisa memberikan dampak. Ia sempat berpikir mundur dari cita-citanya. Menatap dunia dengan realistis, mencari gaji tetap, rumah mewah dan meninggalkan impiannya.

Memasang Target Terlalu Tinggi di Karya Pertama

Jonathan Larson, seperti kita menaruh harapan yang ketinggian di karya pertama. Aku yakin kamu pernah merasa kalau karya pertamamu harus jadi masterpiece. Jonathan terjebak pada harapan ini. Superbia, karya pertamanya ia harapkan bisa mengantarkan dirinya ke Broadway. Jadi jalan tolnya dalam dunia teater. Gimana enggak, persiapannya aja sampe 8 tahun. Terus-terusan menulis ulang ceritanya.

Sayangnya ia lupa, kalau karya pertama nggak akan bisa bagus. Karya pertamamu mungkin adalah karya terburukmu. Jonathan nggak tau kalau dia harus berproses mengalami penolakan karyanya, Superbia. Padahal karya pertama justru mendatangkan refleksi pertama. Mendatangkan kesalahan pertama. Kesalahan dan refleksi yang bisa bikin karya jauh lebih bagus lagi. Jonathan Larson, lewat Superbianya mengalami apa yang kita alami selama ini dalam memandang karya kita.

Penutup

Lalu apakah film ini worth it buat ditonton? Jawaban dariku IYA!. Film ini benar-benar merepresentasikan kehidupan kita. Terutama buat yang lagi dilema. Perjalanan Jonathan akan membawamu pada gambaran proses berkarya yang sesungguhnya. Buatku, film yang menjadi tribute kepada Jonathan Larson ini adalah masterpiece!

Baca juga:

Don’t Look Up Adalah Film Yang Kita Butuhkan, Bukan No Way Home

Review Film Encanto: Film Keluarga Demanding Amerika Latin yang Relate Sama Indonesia

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini