Waktu Baca: 2 menit

Veronika Decides to Die, nggak semua orang familier sama judul ini. Novel karangan Paulo Coelho memang hanya laris beberapa judul aja di Indonesia. Nggak semua orang mengenal cerita yang berlatar tentang keputusan Veronika buat bunuh diri. Ya, emang secara cerita buatku terkesan “biasa aja”. Berbeda sama karya ternama kayak The Alchemist atau The Winner Stand Alone.

Tapi, Veronikca Decides to Die memiliki cerita yang unik. Sebuah cerita yang mengandung makna nggak kalah mendalamnya sama karya Coelho yang lain. The Alchemist menceritakan pencarian hidup. The Winner Stand Alone bertutur tentang kesendirian. Maka Veronika Decides to Die memperlihatkan bagaimana dunia nggak menghargai makna keunikan individu.

Menariknya, dari semua karya cetusan Coelho, cerita ini salah satu yang lebih dulu menjadi film. Hasilnya? Ya, ceritanya nggak jauh berbeda sama novelnya. Percobaan bunuh diri Veronika yang membawa kita berkelana. Mengenali sisi manusia yang selalu berakting atas nama “kenormalan”.

Mengangkat Isu Suicide dan Mental Health

Kesehatan mental jadi latar belakang kisah ini. Veronika, sang tokoh utama mengalami tekanan mental yang luar biasa. Akibatnya, dia akhirnya memutuskan buat mengakhiri hidupnya. Pil-pil yang ada di genggamannya dia minum dengan harapan hidupnya berakhir. Pemilihan pil buat mengangkat nyawanya sendiri juga bukan tanpa pertimbangan. Meskipun tak muncul di film, dia nggak mau menembak atau memilih menggantung diri. Dia merasa itu bakalan merepotkan orang lain.

Apakah akhrinya Veronika meregang nyawa? Entah sayangnya atau untungnya, nyawanya tetap tinggal. Belum saatnya dia menemui Tuhan. Setelah pingsan karena menenggak pil dia justru terbangun di Vilette, sebuah rumah sakit jiwa.

Gambaran Dunia di Rumah Sakit Jiwa

Di Vilette, gambaran orang tak waras di sana terlihat menarik. Vilette berisi berbagai pasien yang berseberangan dengan dunia di luar Vilette. Pasien di Vilette memiliki sebuah pola tertentu. Begitu kamu mencoba memahami pola pasian Vilette kamu akan melihat cerminan dunia. Sehingga kamu bakalan merasa relate dengan Vilette. Atau malah kamu bisa merasa seharusnya kamu ini juga adalah pasien di sana. Pendeknya, Vilette adalah gambaran dunia kita yang Coelho lukis lewat kata.

Pencarian Keterikatan

Jadi pribadi yang unik di dunia yang menuntut “kenormalan umum” harus kita akui jadi kendala. Kenormalan yang masyarakat tentuin sering bikin kita merasa sendirian. Coelho membentuk Vilette sebagai media pencarian keterikatan orang yang berbeda. Orang yang tertolak karena kenormalan.

Kalau kamu merasakan itu maka hal itu adalah wajar. Begitu pula sama Veronika yang merasa terasing dan menemukan keterikatan di Vilette. Tapi sayang, pencarian keterikatan Veronika harus berlomba sama waktu. Efek pil yang Veronika telan membawanya ke diagnosa kematian perlahan. Tapi saat kematian yang sedang perlahan menghampiri Veronika mulai perlahan menemukan keterikatannya. Lalu apakah Veronika berhasil melawan waktu?

Mending Filmnya Atau Bukunya?

Saat kamu mulai bertanya mending baca bukunya atau filmnya menurutku tergantung. Bagi kamu yang lebih suka membaca ya lebih baik baca bukunya. Kalau kamu lebih cocok nonton maka mending milih filmnya. Memang di film cerita Veronika nggak semendetail di novel. Nah, kalau kamu cocok yang mana?

Baca juga:

Kisah Viktor E. Frankl: Menemukan Makna Hidup Dalam Kepedihan

Pahlawan Saya Adalah Diri Sendiri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini