Waktu Baca: 3 menit

Kira-kira menurut kalian aksen itu penting gak dalam speaking di Bahasa Inggris? Kita tahu sendiri kalau speaking itu skill paling horor. Banyak yang mengaku kalau mereka belum pede untuk speaking karena beberapa alasan, misal grammar belum bagus, malu, takut kena koreksi, bingung mau menyusun kata-kata, atau karena aksen yang belum ‘bagus’.

Berbicara soal aksen di Bahasa Inggris, gak bisa memungkiri kalau kita terkadang ingin punya aksen seperti penutur asli. Keinginan ini sendiri bisa menjadi suatu obsesi tersendiri, lho. Saya punya satu teman yang menyukai hampir semua hal berbau Inggris, mulai dari aktor dan aktris, pemain sepak bola, gaya berpakaian, sampai ke bahasa dan aksen. Ia pernah membuat story yang mengaku kalau ia belum lihai dalam menguasai aksen British. Dari story sederhana ini, saya bisa menangkap pesan tersurat tentang obsesinya terhadap aksen tersebut. Teman saya gak sendirian, banyak kok di luar sana yang punya obsesi ke satu aksen tertentu. Emang salah?

Rasa Suka yang Berujung ke Obsesi

Gak ada yang salah kalau kita suka ke aksen tertentu, misal aksen American, British, Australian, Indian, dll. Ini bisa jadi pendorong kita untuk lebih giat belajar Bahasa Inggris. Tapi… kita perlu ingat soal tingkat kesukaan aksen ini. Jangan sampai, nih, rasa suka kita berujung ke obsesi berlebih sampai mendewakan aksen tersebut dan meremehkan aksen lain. Gak jarang karena rasa obsesi ke satu hal, kita punya pandangan negatif tentang hal lain, termasuk aksen. Padahal aksen, bahasa, dan budaya itu saling berkaitan. Kalau kita punya pandangan negatif tentang suatu aksen, makan secara tak sadar kita pun punya pemikiran serupa ke budaya mereka.

Aksen Itu Unik!

Memang gak semua aksen terdengar ‘keren’ di telinga kita. Saya dulu menganggap aksen Indian sebagai aksen paling aneh karena pelafalan yang tergolong sulit untuk sayang tangkap. Tapi, lambat laun saya mulai sadar bahwa aksen Indian itu gak sulit banget, kok. Kesulitan yang saya hadapi dulu ternyata berasal dari ketidakbiasaan saya mendengar aksen Indian. Alhasil, saya kesusahan untuk membedakan pelafalan kata saat seseorang berbicara dengan aksen itu.

Dari pengalaman ini saya kemudian sadar jika aksen adalah hal yang unik. Aksen pada dasarnya adalah sebuah representasi suatu grup masyarakat. Aksen memberikan warna tersendiri di setiap individu yang menjadi anggota grup, yang kemudian menjadi identitas pribadinya. Sekeras apapun kita berusaha meniru suatu aksen, kita takkan bisa lari dari karakteristik aksen di bahasa ibu. Tapi memang ada beberapa kasus yang mana seseorang memiliki peniruan aksen yang super baik sampai bikin kita terkecoh.

Contohnya adalah Hansol Jang, Youtuber asal Korea Selatan yang sudah lama menetap di Malang. Berkat lamanya durasi ia tinggal di kota itu, Hansol berhasil meniru dengan sempurna aksen Jawa medhok. Kesuksesan ini juga ia dapat karena seringnya bergaul dengan penduduk asli kota yang kemudian mempengaruhi dan melatih kemampuannya dalam berbicara dengan aksen Jawa. Itu hanya satu contoh dari sekian kasus orang-orang yang berhasil lepas dari ikatan kuat aksen bahasa ibu.

Trus, Aksen Itu Penting Gak?

Kalau ditanya soal ini, jawabannya adalah: enggak. Aksen bukanlah elemen penting dalam bahasa dan komunikasi. Memang lebih terdengar enak kalau orang asing dapat berbicara di bahasa kita dengan aksen penutur asli. Tapi itu bukan berarti kita dapat menjadikan aksen sebagai poin penting dalam berkomunikasi dengan orang lain. Seorang teman saya tinggal di Australia berpendapat jika aksen dalam speaking atau komunikasi itu tidak penting. Yang penting dalam komunikasi menurutnya adalah penyampaian pesan jelas, pemilihan kata, dan suara. Jika kita gak terlalu paham dengan apa yang orang lain katakan, kita bisa kok meminta orang tersebut untuk mengulangi ucapannya. Gak perlu gengsi dan malu untuk bertanya karena gak semua proses komunikasi itu selamanya lancar.

Ini juga yang pernah ditekankan oleh seorang pengguna Twitter bernama Bruce Elmond. Pria asal Inggris yang menyukai Indonesia ini juga sepakat jika aksen tak seharusnya menjadi suatu obsesi. Terutama untuk para siswa yang masih belajar bahasa asing, aksen tak menjadi skill wajib yang musti dikuasai. Bagi Bruce, selama kita tahu cara menyampaikan suatu pesan ke lawan bicara, that’s enough.

Singkatnya: komunikasi itu soal bertukar ide, bukan soal pamer aksen.

Baca juga:

Sosialisasi Prokes Ala Mahasiswa UNDIP: Pakai Bahasa Inggris

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini