Waktu Baca: 3 menit

Pernahkah kamu mengalami yang namanya nggak enak buat bilang “nggak” sama orang lain?. Atau punya temen yang sukanya ngeiya-in apa aja?. Jangan-jangan kamu termasuk kategori people pleaser nih. Coba kita bahas.

Apa Itu People Pleaser?

Istilah People Pleaser atau bisa juga disebut Yes-Man ditujukan buat orang-orang yang nggak enakan sama orang lain. Kalau kita lihat dari sudut pandang psikologi, orang dalam kategori ini selalu mengiyakan apa yang orang lain minta karena ia merasa ingin orang lain menerimanya tanpa mengutarakan perasaannya lebih dulu. Ia takut orang mengucilkannya, sehingga ia sibuk memikirkan orang lain. Selain itu, ia akan merasa layak dicintai ketika bisa menyenangkan orang lain. Sayangnya, pribadi ini sulit mengenali diri sendiri karena kurang bisa membedakan mana yang harus jadi prioritas, diri sendiri atau orang lain.

Bedanya Apa Sama Altruis?

Kedua hal itu memiliki perbedaan, tentunya. Seseorang yang tergolong people pleaser akan melakukan sesuatu hanya karena takut orang lain menganggap mereka yang enggak-enggak. Misalnya takut dianggap sombong, dibenci, atau nggak mau bersosialisasi. Sedangkan seseorang yang altruis melakukan sesuatu atas dasar keinginannya sendiri, bukan karena pengaruh orang lain. Misalnya ia ingin membantu temannya yang lagi nggak punya uang. Bukan karena takut orang lain melihatnya pelit, tapi ia melakukannya karena memang benar-benar ingin membantu. Jadi, jangan kamu samakan ya.

Pertanda Belum Asertif

Seseorang yang nggak enakan berarti ia belum asertif. Asertif di sini berarti keterampilan seseorang dalam mengekspresikan ide, perasaan, dan membuat batasan dengan mempertimbangkan perasaan lawan bicara. People pleaser cenderung takut mengutarakan perasaannya dan nggak mau ribet. Akhirnya ia memenuhi keinginan orang lain. Pribadi yang asertif mampu mengajukan keberatan kalau ia merasa permintaan yang muncul cenderung memberatkan atau merugikan. Ia juga dengan berani mengekspresikan hak-hak pribadi. Kuncinya komunikasi ya. Kamu perlu mengkomunikasikan dengan sopan. Ketika kamu menolak, setidaknya kamu sadar dan siap akan konsekuensi yang akan muncul. Apalagi pribadi setiap orang berbeda-beda dalam merespon sesuatu, kan.

Pengaruh Eksternal

Faktor eksternal juga mempengaruhi orang buat takut bilang “nggak”. Ada kemungkinan ia pernah besar di lingkungan figur yang rapuh. Sosok yang sering menyembunyikan perasaannya hanya karena tidak enakan atau takut mengecewakan. Sehingga, ia selalu mengiyakan kemauan orang lain. Selain itu, tidak adanya ruang untuk mengutarakan opini juga menjadi pemicu terbentuknya kepribadian people pleaser.

Lantas, bagaimana cara menyikapinya?

Buatlah Batasan

Berani menolak permintaan orang lain menjadi wajar dilakukan. Hal ini karena setiap orang punya kontrol diri masing-masing. Kita yang harus memegang kendali atas hidup kita sendiri dan memiliki batasan-batasan yang jelas. Misalnya, suatu ketika ada temanmu yang mengajak nongkrong. Tetapi kamu masih mempunyai tugas yang harus selesai malam itu juga. Kalau kamu mengiyakan, tugas-tugasmu pastinya akan terbengkalai. Pada akhirnya kamu akan kalang kabut dan butuh waktu tambahan untuk menyelesaikan. Penting banget buat kamu menolak ajakan temanmu. Ya, kesannya seperti kurang mau bersosialisasi. Tapi selagi kamu mengutarakan alasanmu dengan jelas dan sopan pasti masih bisa mereka terima kok.

Jangan Mau Dimanfaatkan

Selain itu, ketika kamu berani menolak, kamu mencoba menghindari orang lain meremehkanmu. Orang-orang kaum dominan biasanya memanfaatkan people pleaser. Kebiasaan susah menolak membuat orang-orang dominan bebas mengajak mereka yang gak enakan buat melakukan apa aja.

Meningkatkan Self-Care

Setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri. Ketika kamu merasa keberatan, komunikasikan. Jangan sampai kamu mengiyakan tapi malah jadi beban. Alhasil, kesempatanmu untuk bahagia jadi berkurang. Berikan waktu khusus buat dirimu sendiri. Libatkan dengan hal-hal yang menyenangkan, misalnya nonton film, mencoba menu baru, atau membaca buku.

Intinya, kamu perlu menaruh kepentingan hidupmu melebihi orang lain. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu. Tidak mungkin kita hidup hanya untuk menyenangkan orang lain. Yang ada malah capek sendiri nanti. Mulai belajar bilang “nggak” dari hal-hal kecil. Atur skala prioritas dan berani mengkomunikasikan dengan tegas.

Foto oleh Jopwell dari Pexels

Baca juga:

Gimana Sih Caranya Mengubah Kebiasaan?

Butterfly Hug: Bentuk Self-love Untuk Meredakan Cemas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini