Waktu Baca: 2 menit

Sebagai anak jurusan pendidikan bahasa Inggris, saya sering bertanya kepada diri sendiri: Apakah Indonesia masih membutuhkan lulusan bahasa Inggris kelak? Jurusan bahasa Inggris, baik yang murni dan pendidikan, dulu pernah menjadi primadona di kalangan lulusan sekolah menengah atas. Karena sumber daya manusia yang berasal dari ini kala itu masih rendah, naiklah pamong jurusan bahasa Inggris. Kita semua tahu, salah satu alasan mengapa seseorang memilih suatu jurusan kuliah adalah karena tren. Di masa di mana teknologi dan informasi belum menginvasi kehidupan manusia terlalu jauh seperti masa sekarang, jurusan non-teknologi menjadi harapan untuk menaikkan derajat kehidupan.

Tapi, bagaimana dengan sekarang? Apakah jurusan bahasa Inggris masih menjadi sumber harapan bagi lulusan sekolah menengah di Indonesia? Apakah Indonesia masih membutuhkan lulusan jurusan bahasa yang tak lagi menjadi asing saat ini?

Internet, Teknologi, Informasi

Di sini saya menyeret tiga kata kunci besar yang saat ini menduduki posisi paling penting di abad 21, yaitu internet, teknologi, dan informasi. Internet pertama kali booming berkat adanya penemuan world wide web (www) oleh Tim Berners-Lee tahun 1989 silam. Semenjak itu, internet mewarnai kehidupan sehari-hari manusia yang terbilang masih jadul dan serba manual. Perkembangan teknologi dan distribusi informasi pun mengikuti, semakin mematangkan dinamika kehidupan manusia untuk masuk ke era modern yang penuh dengan kemudahan mengakses teknologi. Berkat ketiganya, kita bisa melakukan hal yang bagi orang pra-abad 21 sebagai mustahil.

Nah, apa kaitannya dengan pembahasan tentang jurusan bahasa Inggris?

Untuk ini, mari kita renungkan lagi seberapa mudah kita mendapatkan informasi dan mengakses layanan di tahun 2022 ini? Dengan kehadiran internet dan teknologi yang mumpuni, informasi dari dalam dan luar negeri dapat kita jangkau dengan satu jari. Kita juga bisa mengakses informasi dari bahasa lain, yang secara tak sadar menambah keberagaman bahasa yang kita kenal. Dalam dunia pendidikan, para siswa saat ini dimanjakan oleh mudahnya mengakses materi pembelajaran dan belajar secara otodidak dengan hanya mengandalkan internet dan ponsel. Singkatnya, mereka bisa kok belajar bahasa Inggris mandiri di internet lewat mbah Google yang bahkan punya ‘pengetahuan’ lebih dari guru mereka di kelas. Jadi, kenapa harus repot konsultasi ke guru?

Menyambut Masa Pensiun Jurusan Bahasa Inggris

Jurusan bahasa Inggris bagi saya kini tak lagi mendulang banyak harapan bagi para alumni. Seperti yang saya singgung, aksesibilitas tinggi ke internet dan teknologi memudahkan para siswa mencari bahan pembelajaran dan belajar secara mandiri. Bahasa Inggris kini tak lagi menjadi momok untuk siswa Indonesia, mereka punya harapan untuk menguasainya tanpa harus mengambil kelas bimbingan belajar. Dan, pada akhirnya, jurusan bahasa Inggris akan sampai ke masa pensiunnya sendiri—jarang peminat dan tak dibutuhkan.

Kebutuhan negara Indonesia, dan dunia, saat ini bukan lagi soal bahasa, melainkan tenaga ahli di bidang komputer, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Karena manusia modern kini menghadapi masa di mana perkembangan teknologi menjadi pemeran utama dan kita sibuk dengan agenda mencetuskan penemuan-penemuan brilian berbasis teknologi semacam AI. Maka dari itu, jurusan klasik seperti bahasa Inggris mulai kehilangan spotlight dan perlahan akan lengser ke bawah panggung.

Eits, Tapi Gak Semua, Kok!

Jurusan bahasa Inggris suatu saat mungkin akan menemui masa pensiun dari jabatan, tapi bukan berarti kita bisa mandeg dan tak menambah supply SDM di jurusan tersebut. Lulusan bahasa Inggris, berapapun itu jumlahnya, masih tetap kita butuhkan. Saya tadi menyinggung tentang belajar mandiri dengan hanya mengandalkan internet dan ponsel, tetapi sebenarnya gak semua siswa mampu melakukannya. Dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan, keberadaan seorang guru atau pembimbing harus tetap ada agar pemahaman tidak melenceng atau salah kaprah. Selain itu, kebutuhan akan guru di daerah-daerah pelosok negeri juga masih tinggi. Mereka masih butuh kehadiran fisik seorang guru untuk generasi muda yang tak selalu bersentuhan dengan teknologi.

Baca juga:

Aksen dalam Speaking: Pentingkah?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini