Waktu Baca: 2 menit

Aku menyimpan banyak sekali cerita dari kawan soal masalah percintaan. Mulai dari cerita perselingkuhan, kekerasan sampai mengalami penolakan waktu nembak doinya. Soal yang terakhir, nggak sedikit yang tertolak cintanya karena terhalang suku dan budaya. Sebenarnya, buat penolakan karena perbedaan suku dan budaya bukan hal yang mengejutkan lagi. Tapi, yang paling sering dialami kawan-kawanku adalah kisah cinta mereka yang bukan keturunan Tionghoa terhadap keturunan Tionghoa.

Banyak Yang Merasa Tertolak Karena Fisiknya

Menariknya, buat beberapa kawan mereka tertolak bukan karena perbedaan suku dan budaya, tapi karena fisik. Salah satu penyebabnya mungkin karena ketidaktahuan konteks penolakannya. Memang sebenarnya penolakan karena suku dan budaya rawan disalahartikan. Mereka sering berpikir bahwa alasan sebenarnya adalah semata-mata karena nggak good looking. Padahal kalau mau berpikir lagi, alasan penolakan orang-orang keturunan Tionghoa buat berhubungan udah lazim adanya. Beberapa suku yang lain juga sering melakukan hal yang demikian. Jangan seharusnya kita nggak perlu terkejut kalau mengalami penolakan karena alasan suku dan budaya.

Faktor Sejarah

Setelah mengobrol dengan beberapa kawan yang keturunan Tionghoa, penolakan keturunan Tionghoa untuk menjalin hubungan dengan yang non-keturunan ada wajarnya. Kita bisa memahami latar belakang mereka dari aspek sejarah. Salah satunya adalah tragedi yang terjadi tahun 1998 yang lalu. Nggak bisa kita tampik kejadian waktu itu sangat membekas di saudara kita yang memiliki keturunan Tionghoa. Kerusuhan yang punya bumbu rasial yang kental ini mencederai psikologis mereka. Berkaca dari tragedi inilah lahir mindset saudara kita untuk hanya berhubungan dengan keturunan yang sama. Kalau kita mau seenaknya menyalahkan mereka yang terlalu memikirkan faktor keturunan kayaknya nggak layak.

Nggak Semua Seperti Itu

Tapi, meskipun begitu kita nggak bisa menyamaratakan keluarga keturunan Tionghoa selalu punya syarat seperti itu. Beberapa di antaranya sudah terbuka terhadap perbedaan keturunan. Hasil ngobrol dengan beberapa kawan keturunan Tionghoa biasanya yang mulai terbuka adalah orang tua mereka. Orang-orang yang 1 generasi di atas kita. Sedangkan yang mempunyai idealisme buat satu keturunan ada di 2 generasi di atas kita. Kalau bahasa yang lebih mudah adalah kakek-neneknya.

Perlunya Mengenali Keluarga Saat PDKT

Biar nggak mengalami cinta terbentur keturunan Tionghoa beberapa kawanku yang keturunan Tionghoa memberikan tipsnya. Tips yang terpenting adalah mengenal keluarganya secara baik. Melihat apakah keluarga doi sudah terbuka atau belum. Kalau belum ya kita jangan berharap banyak. Kalau kamu beruntung ternyata keluarga doi udah terbuka mungkin kamu bisa melakukan manuver buat merealisasikan rasa sayangmu ke doimu. Tapi, inget kalau ternyata keluarga doi belum terbuka jangan langsung kita judge ya. Kita juga harus memahami faktor yang membentuk mindset saudara Tionghoa kita.

Nah, apakah kamu pernah mengalami cinta terbentur keturunan Tionghoa?

Foto oleh Tún dari Pexels

Baca juga:

Saya Orang Indonesia Saja

Hilangnya Ke-Tionghoa-an di Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini