Waktu Baca: 2 menit

AC Milan berhasil comeback dalam lanjutan Serie A pekan 24 yang lalu. Nggak tanggung-tanggung Milan berhasil mengalahkan raja Serie A, Inter Milan. Salah satu kunci kemenangan Milan atas saudara sekotanya ini adalah peran false fullback. Apakah itu dan bagaimana mekanismenya dalam laga Milan vs Inter?

Nggak Bermain Di Posisi Sayap

Berbeda dengan fullback pada umumnya, false fullback secara pengaplikasiannya nggak bermain di sayap. Peran sepak bola yang sering dipakai di era sepak bola modern ini membuat fullback lebih sering bermain ke tengah. Posisinya mirip seperti seorang gelandang. Beberapa klub juga udah menerapkan peran ini. Salah satunya adalah FC Barcelona di bawah arahan Xavi Hernandez yang memposisikan Dani Alves lebih ke tengah di laga lawan Atletico Madrid.

Alasan Milan Menggunakan Peran “Fullback Palsu”

Di awal laga yang mempertemukan dua raksasa kota mode ini Milan sempat kesulitan mengantisipasi perlawanan Inter. The President, julukan Kessie, yang berperan sebagai “nomor 10” Milan nggak bermain sesuai harapan. Bahkan, Stefano Pioli harus menggantikannya dengan Brahim Diaz. Kegagalan Milan dalam mengantisipasi permainan pressing Inter juga membuat Pioli harus memasukkan Messias menggantikan Saelemaekers. Saat inilah Calabria dan Theo Hernandez memulai perannya.

Milan menggunakan peran fullback palsu untuk melakukan counterpress ketika Inter sukses merebut bola. Kondisi bola yang berhasil Inter rebut ini membuat Milan harus segera melakukan counterpress agar dapat segera transisi ke situasi menyerang. Saat Inter sedang memegang bola, Milan dengan segera menutup pergerakan lini tengah Inter yang kalah jumlah karena masuknya Calabria. Transisi ke situasi menyerang pun jadi lebih rapi karena bisa dengan cepat mengalirkan bola ke area lawan. Bola yang berhasil Milan rebut dan overload di tengah lapangan jadi kunci 2 gol kemenangan Milan.

Harus Ada Cover Di Lini Sayap

Penggunaan peran false fullback ini bukan berarti tanpa kelemahan. Fullback yang tugasnya beralih ke lini tengah bisa meninggalkan lubang di sisi sayap. Tentunya lubang yang kosong ini bisa membuat lawan melakukan transisi menyerang lewat sisi sayap Milan. Maka dari itu, Pioli sebelum menerapkan sistem fullback palsu terlebih dahulu memasukan Junior Messias. Fungsi dari Messias adalah menutup lubang yang Calabria tinggalkan karena melakukan progresi ke lini tengah. Adanya Messias akan memberikan ketenangan buat Calabria dalam memainkan peran false fullback.

Bisa Bikin Bek Jadi Produktif

Penggunaan strategi false fullback ini bikin fullback Milan jadi lebih produktif. Dalam laga Derby Della Madoninna, kemenangan 2 – 1 Milan atas Inter Calabria tampil produktif. Pemain asli akademi Milan ini sukses mencatatkan satu umpan gol. Bukti dari produktifnya bek Milan juga bisa kita lihat dari statistik Theo Hernandez. Theo yang sering bergerak ke lini tengah Milan dan menyerang lewat tengah malah jadi top assist Milan sampai pekan 24. Bukan cuma itu, Theo juga sukses menceploskan 4 gol, padahal dia adalah seorang bek kiri.

Baca juga:

Alasan Dusan Vlahovic Akan Gagal di Juventus

Dani Alves Playmaker Barcelona

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini