Waktu Baca: 3 menit

Jauh sebelum dikenal dengan perannya sebagai Kinan, Putri Marino mengejutkan dunia perfilman Indonesia dengan tampil dalam film Posesif. Film ini juga menandai debut Edwin yang biasanya dikenal dengan film independen dan film pendek. Banyak yang menilai, film ini adalah film dengan trailer yang menipu. Ya, iklan dalam film ini menggambarkan seolah film Posesif tentang percintaan remaja biasa dan menjual nama Adipati Dolken sebagai bintang utama. Rupanya, penonton salah, film ini adalah drama intens dengan mengangkat isu yang cukup sensitif: Kekerasan Dalam Pacaran.

Kekerasan dalam pacarana (KDP) adalah sebuah isu yang tinggal di bawah permukaan. Korban korbannya tak berani bicara. Salah satunya karena rasa malu. Malu karena sebelumnya sering mengumbar kemesraan tapi ternyata orang terdekatnya adalah pelaku kekerasan. Malu juga karena takut menjadi gunjingan banyak orang. Tapi ini bukan hanya persoalan malu. Terkadang korban juga merasa bahwa pelaku masih bisa berubah dan ada sisi emosional yang bermain sehingga korban tak serta merta mau terbuka terkait masalah ini. Nah, film Posesif merupakan sebuah studi tentang bagaimana kekerasan dalam pacaran bisa terjadi, Red Flag yang terlihat dan bagaimana cara mengatasinya (setidaknya versi Edwin).

Instant Love

 Salah satu tanda tanda tidak sehat adalah cinta instan yang terjadi. Film ini menggambarkan karakter Putri Marino yang dengan mudahnya tertarik pada karakter pria tampan dan menarik dalam diri Adipati Dolken. Cinta instan memang biasa terjadi pada remaja meski orang yang lebih dewasa juga mengalaminya. Cinta instan ini sebenarnya tidak selalu buruk namun setidaknya melompati beberapa tahap penting sebelum melangkah ke hubungan pacaran atau yang lebih serius.

Kalau mau jujur, hubungan yang sehat harus ada step-stepnya. Pertama, tentu harus ada ketertarikan dulu. Kedua, mulai ada pengenalan latar belakang masing masing. Ketiga, ada langkah untuk membangun pola komunikasi. Keempat, pengenalan karakter yang ada di masing masing pihak. Baru kelima, memutuskan apakah suatu hubungan layak menjadi serius atau tidak. Namun, banyak yang melompat dari proses satu, ke proses ketiga dan langsung pacaran. Pola begini memang beresiko menjebak kita dengan hubungan dengan pelaku KDP.

Jadi, salah satu upaya menghindari KDP adalah dengan tidak melompati proses sebelum pacarana.

Red Flag

Dalam film Posesif,  kita mendapat petunjuk tentang red flag alias indikasi dari orang orang yang berpotensi melakukan KDP. Ironisnya, pelaku KDP biasanya akan memperjuangkan korban dengan mati matian. Dalam kehidupan nyata, kekerasan yang dilakukan oleh pelaku KDP memang bukan karena mereka membenci pasangannya. Mereka melakukan itu karena mereka tak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa takut kehilangan dan cinta yang—ehm—posesif. Lalu, bagaimana kita bisa membedakan mana yang berpotensi KDP dan mana yang cinta banget?

Salah satu contoh di film Posesif adalah Pelaku KDP biasanya tak segan melakukan kekerasan atau perbuatan ilegal demi mendapatkan cinta korbannya. Biasanya ini sudah tanda tak sehat.

Selain itu pelaku KDP biasanya menerapkan aturan aturan yang ketat pada korbannya. Tak hanya itu, mereka juga menutup ruang diskusi dengan korban korbannya. Bahkan saat diskusipun mereka berusaha ‘menang’ dengan suara keras/ intimidasi dan bentuk ancaman lainnya.

Pelaku KDP juga dapat diidentifikasi dari pola hubungan dengan orang tuanya. Biasanya, pelaku KDP juga korban KDRT dari orang tuanya. Orang tua mereka juga biasanya memiliki pola komunikasi yang buruk. Meski tidak selalu benar, namun hal ini juga bisa menjadi pertimbangan kita sebelum memilih pasangan.

Lepas Dari Pelaku KDP

Untuk lepas dari pelaku KDP, kita mau tidak mau harus bersikap sedikit ‘egois’. Dalam film itu, karakter Putri Marino tampak kebingungan, namun pada akhirnya ia sadar bahwa ia harus tegas. Tanpa ketegasan, maka korban KDP akan menderita secara fisik dan mental. Jika memang ingin membantu pelaku KDP lepas dari kebiasaannya, kita juga harus melepaskan diri dari status ‘pacaran’. Lebih baik kita mendampingi dia sebagai teman daripada pacaran. Sebab, bagaimanapun, hubungan pacaran terlalu intens dan penuh tekanan bagi pelaku KDP sehingga potensi ia mengulangi perbuatannya cukup besar. Lebih baik ia memperbaiki perilakunya terlebih dahulu.

Ingin tahu lebih banyak soal KDP? Kami dari Pakbob.id mengadakan diskusi mengenai ‘Kekerasan Dalam Pacaran di Sekitar Kita’ yang akan diselenggarakan pada tanggal 13 Februari 2022. Di acara ini akan ada psikolog serta korban yang bisa menjadi teman sharing teman teman. Kerahasiaan acara ini terjamin dan teman teman bebas mengungkapkan dan menanyakan hal hal penting terkait isu KDP ini. Klik link ini untuk mendaftar.

Baca juga :
Orang Terdekat Sangat Berbahaya (Kisah KDP)

Hantu Penyalin Cahaya

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini