Waktu Baca: 2 menit

Di jagat maya banyak yang melayangkan kritikan kepada Paolo Maldini menyoal transfer pemain. Mulai dari Milannya Maldini terkesan pelit hingga banyaknya pemain yang mereka lepas secara gratis. Tapi sebenarnya free transfer ini adalah strategi jitu mantan kapten Milan ini memperbaiki tim yang sempat amburadul.

Diisi Sama Pemain Yang Nggak Ngejar Duit

Milan yang melepas pemainnya secara gratis biasanya adalah pemain yang mengejar gaji tinggi. Sebut aja Gianluigi Donnarumma. Kiper Italia kelahiran 1999 ini meminta kenaikan gaji yang nggak masuk akal. Bahkan fee buat agennya melebihi gaji Donnarumma itu sendiri. Di sisi lain, Donnarumma di periode sebelumnya sudah bikin Milan kalang kabut dengan permintaan gajinya. Tapi saat itu nahkoda manajemen Milan masih berada di tangan Mirabelli dan Fassone yang membiarkan Mino Raiola dan Donnarumma mempermainkan mereka.

Di situasi yang lain ada nama The President, Franck Kessie. Milan terancam kehilangan Kessie dalam skema free transfer akhir musim nanti karena nggak kunjung menemukan deal soal gaji. Kessie menodong gaji tinggi ketika Milan masih kesulitan keuangan. Lain tangan, kalau kita melihat performa Kessie, pria yang datang dari Atalanta BC ini sering nggak konsisten. So buat apa nodong gaji tinggi?

Menyehatkan Keuangan Klub

Milan tertempa krisis keuangan sejak era Yonghong Li yang gagal total. Mereka sudah terlanjur mendatangkan pemain berharga mahal dengan gaji yang lumayan. Tapi, yang disayangkan performa Milan tak kunjung membaik. Output yang gak sesuai dengan investasinya membuat Milan nggak kemana-mana padahal sudah berutang banyak. Melepas pemain yang nodong gaji tinggi menjadi solusi Maldini dalam membangun tim. Bayangin aja, gaji Donnarumma plus Raiola yang kalau kita total mencapai 36 juta euro. Bukannya mengiyakan, Maldini justru melepas Donnarumma dan mendatangkan Mike Maignan yang harga transfernya aja setinggi gaji Donnarumma. Pastinya gaji Maignan juga nggak setinggi pria Italia. Tentunya hal ini bikin Milan bisa menghemat dana dengan tetap mempertahankan kualitas klub.

Membuktikan Milan Adalah Klub Besar

Kalau kata Sir Alex Ferguson nggak ada pemain yang melebihi klub. Perkataan manajer legendaris Manchester United ini dia buktikan dengan melepas pemain yang mulai merasa besar. Bahkan lebih besar daripada klub. Sayangnya, perkataan Sir Alex ini nggak didengar oleh sebagian besar klub. Banyak klub yang mendapatkan tekanan dari pemain soal gaji yang mereka inginkan. Sehingga klub seakan lebih kecil daripada pemain.

Maldini yang besar di era Sacchi, Capello dan pensiun di era Ancelotti tahun 2009 lalu jadi saksi besarnya nama Milan. Dia yang sukses bersama nama-nama seperti Baresi, Van Basten hingga Kaka merasa Milan nggak bisa dipermainkan sama pemain. Terutama soal gaji. Dalam visi Maldini, Milan harus tumbuh dengan pemain-pemain yang memiliki kehormatan kepada klub. Hal ini dia buktikan dengan mendatangkan Sandro Tonali, pemain yang miliki rasa hormat tinggi terhadap Milan. Nggak cuma itu nama seperti Brahim Diaz juga dia datangkan.

Dengan mengisi skuad Milan bersama pemain yang punya rasa hormat terhadap klub, Milan bisa membangun tim yang nggak egois. Milan bisa berjalan sebagai tim yang solid dan bukan terdorong karena uang semata.

Baca juga:

False Fullback: Salah Satu Kunci Milan Rajai Derby Kota Mode

Bisnis Berlusconi di Sepak Bola yang Bisa Kamu Pelajari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini