Waktu Baca: 3 menit

Ketika hati mulai bertabur nuansa melankonis, langit terasa mulai berperang menggambarkan pelangi, sementara senja yang tak mau kalah, segera melenyapkan cahaya mentari biar sinar keemasannya pun dengan bebas berdentang di angkasa. Bibir mungil dalam nuansa sendu mulai mengembang. Apalagi ketika alunan musik syahdu ikut berkumandang. Kemudian, bukan hanya bibir, daun telinga pun ikut berkembang. Saat itu, hanya bayangan jiwa yang mampu menggambarkan pesona alam bawa sadar dalam dekilnya kenangan yang bertaburan di kepala manusia.

Bagi seorang penyair menguntai kata-kata dalam sebuah puisi bukanlah sekedar hobi, melainkan panggilan jiwa. Dalam merangkai kata, penyair seringkali harus masuk dalam dunia kata yang dia rakit sendiri. Tersenyum sendiri, tertawa sendiri, hingga menangis sendiri. Hal itu karena penyair seringkali dihantui kata-kata dalam setiap aktivitasnya, mungkin juga berdasarkan pengalaman pribadi. Tak ada jalan lain selain segera menuangnya dalam barisan kata untuk menciptakan dunia dalam kata.

Merajut Kata

Lalu apa yang penyair tulis saat hantu kata itu menghampiri? Jawabannya tentu bukan hanya tentang puisi, cerpen, atau novel. Banyak hal, termasuk merajut kata-kata bijak yang sering dipakai sang awam sebagai pedoman. Tak sampai di situ pertanyaan sang awam.

Penyair, apakah arti puisi menurutmu? Karena di dunia ini keabadian sungguh tidak pernah ada, namun khayalan sungguh hidup di kepala manusia yang disebut penyair. Lalu pernyataan saya ini kian menguat begitu saya membaca konsep puisi menurut Hudson. Puisi ialah salah satu karya sastra yang mengekspresikan perasaan penyair dengan kata-kata indah dan penuh makna. Menurutnya, ungkapan perasaan, keindahan, dan kekuatan, mewujudkan dan menggambarkan konsepsi dengan imajinasi dan khayalan. Kemudian membahasakannya atas dasar keberagaman dalam kesatuan.

Bahasa dan Penyair

Ada satu lagi kata dalam pandangan Hudson yang ingin saya garis bawahi: bahasa. Membahasakannya. Bahasa tentu menjadi syarat utama dalam menulis. Menurut Wellek dan Warren, bahasa punya peran penting dalam sebuah puisi karena dengan bahasa penyair mampu mengekspersikan perasaannya. Bahasa adalah bahan mentah para sastrawan. Untuk itu, penting untuk menguasai bahasa asli, bahasa ibu yang merupakan bahasa pertama yang kita pelajari ketika menghidup udara dunia.

Setelah menguasai bahasa ibu yang merupakan dasar cara berpikir, seseorang boleh naik level dalam pembelajaran berikutnya. Bahasa bukan hanya tentang puisi, melainkan cerminan kepribadian. Lewat bahasa, kita mampu menyampaikan perasaan dan pikiran yang mampu mempengaruhi para pendengar.

Setelah mempelajari sekian bahasa, saya sadar bahwa Indonesia menjadi negara yang beruntung karena mempunyai keberagaman bahasa. Namun, entah Bahasa Indonesia atau bahasa asli, bahasa ibu tetap menjadi patokannya. Lalu ketika seseorang bertanya: apa alasan saya ingin menjadi seorang penyair? Impian saya untuk menjadi seorang penyair telah tertanam di hati saya sejak lama. Namun, apa daya saya hanyalah seorang anak kampung yang hanya bisa bersembunyi di balik nasib. Saya hanya bermodalkan percaya pada sesuatu yang saya sebut sebagai keajaiban.

Merubah Nasib

Kepercayaan pun berwujud. Tepat pada bulan Januari 2017 silam, saya mulai bersayapkan merpati merantau ke ibu kota Jakarta. Bukan hanya melepaskan nasib anak kampung, namun mencari peluang baru untuk mewujudkan mimpi. Kemudian, tepat pada bulan Juli 2018, saya akhirnya berhasil menerbitkan buku antalogi saya berjudul “Tentang Arka”. Tak sampai di situ, pada Agustus 2019 buku berjudul “Jangan Jual Integritasmu” lahir, disusul buku ketiga “Peremuan di Balik Tinta” yang akhirnya rilis pada Desember 2020. Saya tahu bahwa masih banyak kekurangan yang terselip dalam mata baca penikmat tulisan.

Saya pun tahu bahwa di antara tulisan saya, masih ada ribuan tulisan yang jauh lebih menggelitik hati para dewan pembaca untuk memilih tulisan mana yang paling menyentuh. Namun, saya pun tidak akan pernah melupakan bagaimana moto hidup terus bergelut dalam akar keyakinan saya. “Berkarya Tanpa Batas. Bercerita Tak Berhenti. Bermimpi, Berharap, Berdoa lalu Berkati”. Saya yakin bahwa setiap usaha tentu ada hasilnya. Memupuk asa untuk menerima rasa.

Baca Juga:

Buku Self-Help dan Pelajaran Berharga di Dalamnya

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini