Waktu Baca: 2 menit

Pitutur Jawa mengatakan “guru kuwi digugu lan ditiru (guru itu dipercaya dan dicontoh)”. Tapi, masihkah para guru menjiwainya di era sekarang ini? Tanggung jawab seorang guru tak hanya sebatas memberikan pelajaran pada murid menuntut mereka memahami semua materi, dan berekspektasi akan nilai yang sempurna. Selain membangun segi intelektual mereka, guru juga berkewajiban untuk membentuk karakternya. Tapi realita berbicara kebalikannya. Baru-baru ini terdengar desas-desus kabar viral dari seorang guru SD yang menghukum murid-muridnya dengan cara makan sampah plastik. Apakah cara hukuman makan sampah ini jadi cara yang tepat? Coba kita simak bersama.

Kronologi Perkara

Usut punya usut, kejadian berawal ketika seorang guru berinisial MS sedang mengajar di kelas 4. Kemudian ia mendengar sebuah keributan dari kelas sebelah, yakni kelas 3. Anak-anak tersebut ternyata sedang menunggu gurunya. Waktu itu MS mencoba mengingatkan anak-anak buat nggak membuat kegiduhan. Tapi ya namanya anak-anak, pasti bakal melakukan hal yang sama. Mereka mulai ribut lagi. Tak disangka sang guru mengambil sampah plastik di tempat sampah lalu menyuruh ke-16 anak itu untuk memakannya. Hingga saat ini pihak kepolisian masih mengusut tuntas persoalan ini dan untuk sementara waktu pihak sekolah membebas tugaskan guru tersebut.

Hukuman Itu Bukanlah Solusi

Ketika kita berdialog perihal hukuman di sekolah sepertinya sudah menjadi hal yang biasa ya. Tapi pernahkah kita berpikir tentang imbas yang anak rasakan? Aku rasa ini cukup jadi polemik dan bukan masalah receh lagi. Hukuman berupa makan sampah plastik justru tidak tepat dan malah membuat mental anak menjadi down. Beberapa anak merasa trauma dan takut untuk kembali ke sekolah. Maka dari itu, hukuman tersebut bukanlah solusi yang tepat untuk menyadarkan anak-anak. Guru bisa melakukan pendekatan pada murid atau berusaha memanggilkan guru yang bersangkutan agar segera masuk kelas. Toh kesalahan yang mereka lakukan tidak fatal, masih tergolong wajar.

Ganti Istilah Hukuman Jadi Konsekuensi

Istilah “hukuman” lebih baik kita ganti dengan kata “konsekuensi”. Mereka berdua memiliki interpretasi yang berbeda lho ya. Hukuman identik dengan stigma negatif. Menurut KBBI, hukuman adalah siksa untuk orang-orang yang melanggar hukum atau lainnya. Sedangkan konsekuensi berarti akibat dari perbuatan yang seseorang lakukan. Tak hanya dari definisinya saja, jenis perlakuannya pun berbeda. Terkadang hukuman yang sekolah berikan nggak memperhatikan antara keterkaitan dengan masalah dan dampak yang penerima hukuman rasakan. Berbeda dengan konsekuensi, perlakuan ini bersifat menyadarkan dan membangun.

Berikan konsekuensi yang rasional dan bermanfaat

Ketika anak melakukan suatu kesalahan, pastikan guru memberikan konsekuensi yang sekiranya masuk akal dan memberi manfaat. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu tanpa tahu faedah dari apa yang mereka lakukan. Misalnya, saat datang terlambat guru meminta murid untuk berdiri di depan kelas sampai jam pembelajaran selesai. Lantas, apa manfaat yang bisa dirasakan murid?. Guru bisa menggantinya dengan hal-hal yang lebih membangun, seperti mengerjakan tugas tambahan, menghafal sejumlah kosakata, atau menguji pemahaman siswa tentang materi tertentu. Sehingga konsekuensi yang diberikan bisa menyadarkan siswa biar nggak mengulangi kesalahan yang sama.

Jika seorang guru tak mampu mengendalikan emosi, sudah pasti ia akan kehilangan kendali. Hukuman udah jelas bukan lagi sebuah solusi. Banyak hal-hal baik lainnya yang bisa kita lakukan untuk membantu anak sadar akan tindakannya. Jangan sampai kesehatan mental mereka terganggu gara-gara kita salah memperlakukan mereka. Hentikan memberi hukuman yang nggak masuk akal ya, atau pekerjaan kita yang akan menghentikan langkah kita.

Foto oleh Anna Shvets dari Pexels

Baca juga:

Jadilah Guru yang Realistis

Melirik Pendekatan Guru ala Great Teacher Onizuka

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini