Waktu Baca: 3 menit

Sebagai orang keturunan Tionghoa, saya sering mendengar keluhan dari teman sesuku yang mengeluhkan stereotyping bahwa orang Tionghoa suka uang. Ya, memang semua orang suka uang, tapi orang Tionghoa tampaknya terobsesi dengan uang pada level lainnya. Misalnya saja pada tahun baru Imlek. Jika suku bangsa lain menyebut selamat tahun baru, maka orang Tionghoa menyebut ‘Gong Xi Fa Cai’ alias ‘Semoga kamu tambah kaya’. Wow! Benar kayaknya orang Tionghoa suka uang.

Komedian Malaysia, Ronny Chieng bahkan menyebut alasan orang Tionghoa berharap anaknya menjadi dokter bukan karena orang Tionghoa ingin anaknya menyelamatkan nyawa manusia. Menurutnya, orang tua Tionghoa ingin anaknya jadi dokter karena mereka melihat profesi dokter menjanjikan banyak uang. Well..tapi apa benar orang Tionghoa suka uang segitunya? Nah, saya sebagai orang Tionghoa agaknya mengakui bahwa obsesi pada uang dari sebagian besar orang Tionghoa cukup besar. Tapi kenapa? Kenapa kok orang Tionghoa gak kepengen mengabdi jadi dokter di pedalaman gitu? Ya, sebenarnya ada juga, tapi kan jarang, rata rata ya orang Tionghoa rajin mencari uang kan? Nah, saya mau coba membahas dari pengalaman pribadi. Ini bukan karya ilmiah ya omong omong. Kita ngobrol santai saja.

Pragmatisme Tionghoa

Sampai hari ini dunia mungkin tidak terlalu rajin mencatat penderitaan orang Tionghoa. Tapi berdasar statistik resmi, dalam banyak konflik, orang Tionghoa sering menjadi korban paling besar baik itu konflik perang maupun genosida. Contoh saja misalnya di Perang Dunia II. Jumlah korban dari warga Tionghoa mencapai 20 juta orang (Ho Ping Ti, Studies on the Population of China, 1959). Jumlah ini kebanyakan warga sipil. Bahkan melebihi jumlah keturunan Yahudi yang sebenarnya menjadi target khusus dari Nazi Jerman.

Di Indonesia, pembantaian pada ras Tionghoa seringkali terjadi misal pada 1740, lalu pada pemberontakan PKI di Madiun, Agresi Militer Belanda II dan seterusnya. Mengapa orang Tionghoa sering menjadi sasaran? Saya kira itu adalah kombinasi ketidakberuntungan dan kebetulan. Ketidakberuntungan karena etnis Tionghoa sebenarnya bukanlah penjelajah dunia, berbeda dengan etnis India dan Arab yang memang punya niat berkeliling dunia. Etnis Tionghoa bermigrasi karena terpaksa menghindari konflik.

Kebetulan, karena mereka tak cukup cepat beradaptasi dengan lingkungan, orang asli daerah sudah keburu emosi. Mereka gagal menghindari konflik baik dengan orang asli maupun pemerintah setempat. Jangan kaget kalau kejadian pembantaian yang melibatkan etnis Tionghoa terjadi di banyak belahan dunia termasuk Amerika Serikat. Sementara kenapa orang India dan Arab lebih sering berhasil bermigrasi tanpa konflik ya karena sejak awal mereka ada budaya merantau.

Karena sering menjadi korban, orang Tionghoa belajar untuk mengembangkan pemikiran pragmatisme untuk selamat.

Bukan Terobsesi Pada Uang Sebenarnya…

Bagi orang Tionghoa, menaklukan tanah baru dengan politik dan senjata tidak akan efektif. Sejak awal, tidak ada budaya ekspansif dari orang Tionghoa. Mereka bukan Mongol, Persia, atau suku suku bangsa lain yang menjadi petualang dan penakluk. Mereka kebanyakan bermigrasi karena di Tiongkok penuh konflik. Tidak ada dalam sejarah Tiongkok memiliki wilayah jajahan yang luas. Beda dengan bangsa Mongol, Persia, Roma yang menguasai dunia pada suatu waktu.

Karena tidak bisa berpolitik dan berperang, orang Tiongkok terobsesi pada keberuntungan. Kenapa begitu? Karena dari refleksi mereka bertahun tahun, bahkan orang terpintar sekalipun akan kalah oleh kesialan. Contohlah saja Iskandar Agung yang perkasa tapi mati karena penyakit di usia muda. Obsesi pada keberuntungan inilah yang kemudian bermanifestasi menjadi obsesi pada uang. Uang adalah alat paling mudah untuk membeli keberuntungan dan menyelesaikan ‘hampir’ semua masalah. Bahkan cara paling mudah bagi orang Korea Utara untuk kabur dari negaranya adalah dengan menyetor sejumlah uang untuk bisa diselundupkan.

Generasi Tionghoa baru mungkin tidak paham paradigma uang ini pada awalnya, mereka hanya tahu dari orang tuanya bahwa menjadi kaya lebih enak daripada jadi miskin. Merekapun mewarisi obsesi pada uang, tanpa mengerti sejarah tragis obsesi orang tua mereka pada uang.

Mulai Berhenti Terobsesi Pada Uang

Selama dua puluh tahun, negara Tiongkok benar benar membuat keajaiban dengan memfokuskan diri pada mencari uang. Mereka melakukan industrialisasi besar besaran karena mereka melihat uang sebagai jalan keluar. Namun pelan pelan mereka menyadari bahwa uang tidak bisa membeli keberuntungan sepenuhnya. Kini Tiongkok mulai menata kembali negaranya dan mencoba untuk tak terlalu fokus pada ekonomi. Namun sayangnya, banyak negara lain seperti Indonesia, malah mau mencontoh kebangkitan ekonomi Tiongkok 1990-2010 yang luar biasa tapi destruktif berkepanjangan.

Secara jujur, saya melihat bahwa mulai ada pergeseran, orang Tionghoa mulai berhenti terobsesi pada uang dan melihat cara lain untuk berpartisipasi di masyarakat. Ini mungkin juga pengaruh makin stabilnya dunia dan genosida dengan sasaran warga Tionghoa sudah terjadi sangat lama sekali. Tahun 1998 misalnya sudah terjadi lebih dari 23 tahun yang lalu. Meski demikian, sisa sisa generasi obsesif pada uang tentu masih ada dan mungkin akan terwariskan sampai beberapa generasi berikutnya. Buruk atau bagus? Ah saya kira ya seimbang saja.

Baca juga :
Saya Orang Indonesia Saja

Hilangnya Ke-Tionghoa-an di Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini