Waktu Baca: 2 menit

Kasus pelecehan seksual yang dialamatkan ke Gofar Hilman memasuki babak baru. Syerin memberikan klarifikasi bahwa laporan pelecehan yang Gofar lakukan terhadap dirinya nggak lebih dari halusinasi. Akibat klarifikasi ini banyak yang mengkhawatirkan kalau masyarakat mulai abai terhadap pelecehan seksual. Tapi, sebenarnya klarifikasi ini nggak bisa kita jadikan alasan tunggal kenapa masyarakat bakalan cuek dengan pelecehan seksual. Ada hal lain yang bikin kita bisa mulai nggak peduli sama pelecehan seksual. Apakah itu? Itu adalah karena kita terlalu reaktif terhadap isu.

Perbedaan Reaktif dan Responsif

Reaktif dan responsif bisa kita pahami sebagai sesuatu hal yang serupa tapi tak sama. Reaktif serta responsif memang bisa kita dasarkan kepada persamaan menanggapi suatu momen atau isu yang sedang terjadi. Baik tentang diri kita sendiri atau tentang orang lain. Tapi, reaktif condong bermain dengan emosional kita. Ketika kita reaktif dan emosi kita lebih mendominasi kita bisa mengalami kekecewaan berlebih ketika sudah percaya terhadap suatu isu yang ada. Sedangkan kalau kita responsif maka kita akan ikut memberikan reaksi atau respon terhadap isu dengan menggunakan sisi logika kita. Sehingga ketika isu yang muncul adalah isu hoax maka kekecewaan kita tidak terlalu mendalam karena bisa lebih tenang dalam menanggapi isu terutama isu-isu yang sensitif.

Sering Menganggap Orang Lain Pasti Jujur

Permasalahan yang sering mengikat kita dalam menanggapi isu adalah kita sering menganggap orang pasti jujur. Dalam kasus pelecehan seksual udah seyogyanya kita berada di sisi korban. Tapi, kita juga harus berhati-hati terhadap speak up korban. Kenapa? Karena manusia bisa saja berbohong. Contohnya adalah yang baru terjadi saat ini yaitu pelaporan Syerin yang mendapatkan pelecehan seksual dari Gofar Hilman.

Di dunia nyata sendiri kita sering tergocek dengan orang-orang di sekitar kita. Bahkan mungkin tergocek sama pacarmu sendiri. Entah itu tergocek dengan kelakuannya atau sekedar omongannya. Seseorang yang kita nilai sedemikian rupa ternyata kenyataannya berlawanan dengan yang udah kita bentuk di dalam kepala. Lalu bagaimana kita percaya dengan isu yang terlontar di sosial media?

Berdasarkan hal ini kita sebenarnya bisa berhenti dulu bersikap reaktif. Karena dalam kasus Gofar Hilman mana yang merupakan kejujuran hingga sekarang masih abu-abu. Apakah sang pelapor jujur dalam melontarkan kasus ke Gofar Hilman? Ataukah klarifikasi ini benar jujur adanya tanpa paksaan? Kita hanya bisa meraba tapi sulit mengambil kesimpulan mana yang jujur.

Sebenarnya Reaktif Adalah Bukti Kepedulian Kita

Meskipun terdengar negatif, tapi nggak bisa aku pungkiri reaktifnya masyarakat kita adalah bentuk kepedulian mereka. Masyarakat Indonesia mungkin bisa kita sebut sebagai masyarakat yang punya simpati yang tinggi. Hal ini terbukti dengan bagaimana kolektifnya netizen Indonesia dalam mendukung korban pelecehan seksual. Tapi yang disayangkan adalah kita jadi semakin mudah memberikan judge tanpa adanya pembuktian hukum. Di lain hal yang bisa kita sayangkan juga adalah hukum kita sendiri masih belum mengakomodir mengenai pelecehan seksual. Sehingga isu-isu pelecehan seksual sering kali mengalir beriringan dengan emosi dan kebingungan terhadap hukum.

Perlunya UU PKS di Indonesia

Kasus pencabutan laporan yang sempat Syerin alamatkan terhadap Gofar Hilman sebenarnya jadi bukti bahwa kita perlu UU PKS segera. Selain bisa membantu korban dalam mendapatkan keadilan, UU PKS juga bisa meminimalisir terjadi tuduhan seseorang melakukan kekerasan seksual. Jangan sampai masalah klarifikasi ini membuat orang-orang semakin tenggelam dalam asumsi manakah yang benar. Tanpa hukum yang jelas kita nggak akan bisa benar-benar yakin siapakah yang sebenarnya adalah korban. Korban sebenarnya adalah Syerin atau Gofar? Siapa yang tahu?

Baca juga:

Bahaya #Metoo Movement di Indonesia Tanpa RUU PKS

Hidup Bersama Penyintas Kekerasan Seksual, Harus Gimana?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini