Waktu Baca: 3 menit

Berdiri di depan megahnya dua gedung utama di salah satu kampus swasta udah jadi kenangan tersendiri. Menunggu datangnya berkas-berkas persuratan yang harus aku urus ketika masih jadi abdi organisasi kampus. Seketika gendang telingaku menangkap suara-suara lirih dari mata angin barat. Awalnya kukira sudah waktunya menyambut kertas-kertas yang harus kubawa ke boss besar nantinya. Ternyata? Bukan. Hanya ada seorang kawan yang iba sama penderitaanku karena menunggu. Muncul dari depan Auditorium megah. Berbaju kotak-kotak, layaknya pendukung Jokowi, yang baru aja bekerja di salah satu divisi pengembangan kampusku.

Bayarannya sekitar 600 ribu, katanya. Sungguh lumayan buat mahasiswa. Cukup buat bayar kost uang sebat atau bahkan menikmati sensasi anggur tiyang sepuh sepuasnya. Bukan mencari pekerjaan di kampus, ternyata dosennya sendiri yang menawarkan. Saat itulah aku mulai jadi burung yang memenjarakan diri.

Blamming Sekitar

Mungkin kamu rindu dengan masa-masa 2019 kemarin kan? Mulai 2020 memang banyak badai yang menderu. Masalah satu demi satu mengungkapkan dirinya yang selama ini menunggu menerkam kita. Entah itu masalah keluarga, uang sampai masalah sama diri sendiri. Layaknya kamu yang sedang melepaskan diri dari segala krisismu yang terus merongrong, aku juga mengalaminya.

Saat itu aku udah mulai protes sama kondisi sekitar. Kenapa program studiku nggak ada yang menawarkan pekerjaan? Padahal banyak mahasiswanya yang krisis, termasuk aku. Setress dan menyalahkan sekitar justru bikin kita semua frustasi. Mulai menyalahkan keadaan yang sama sekali nggak bisa kita harapkan. Dia nggak akan merubah dirinya sendiri. Saat krisis itulah aku mulai menyalahkan segala sesuatu yang bisa aku salahkan. Privilese, tempat kuliah, jabatan atau segala sesuatu yang nggak dipunya atau lebih buruk bisa jadi bulan-bulanan kita. Wajar aja, namanya kita baru mentok kan waktu itu.

Batasan Diri

Satu tahun setelahnya, masalah tambah runyam seperti yang lain. Beberapa kali menjadikan hal-hal yang ada di luarku jadi kambing hitam. Kita masih membandingkan sama mereka yang punya kondisi lebih baik. Nggak puas dan nggak terima. Cuma itu yang nampak di benak kita. Kita masih memenjarakan diri dengan melihat yang lain. Menggantungkan nasib dengan harapan ada yang datang ke kita.

Tapi, seharusnya gak seperti itu. Kita yang masih berharap ada privilese, dan kemudahan yang tiba-tiba datang malah makin frustasi. Ibarat burung yang menunggu cacing yang menghampiri kita. Merasa sayap kita nggak kuat buat mencari cacing. Akhirnya malah justru terlalu membatasi diri karena melihat ada yang enak terbang ke sana kemari.

Batasan diri ibarat kita berlari. Kalau belum terbiasa pasti mudah lelah. Seakan saat itu bener-bener batasan kita yang ga bisa kita tembus. Ga bisa lari sejauh para pelari marathon. Padahal kalau kita pikir mungkin para pelari marathon pernah mengalami masalah yang sama. Baru sejenak berlari kaki sudah tak kuat lagi. Bedanya, mungkin mereka nggak tau batasannya. Atau mungkin gak peduli? Bahkan karena nggak tau mereka terus nekad dan disiplin buat terus berlari. Seratus meter. Dua ratus meter dan terus bertambah. Batasan mereka seakan nggak ada. Padahal sebenarnya, mereka nggak peduli akan batasan itu dan terus mencoba.

Berbenah

Mungkin kita selama ini secara nggak sadar udah memenjarakan diri sendiri. Lewat ilusi soal batasan diri yang sampai sekarang ini kita nggak tau. Lewat perbandingan diri dengan nasib orang-orang lain yang berbeda sama kita. Kita harus berhenti menyabotase diri sendiri. Kalau kita mau mulai melepaskan diri dari ilusi sama perbandingan nasib layaknya seperti melihat ujung lorong. Saat mengambil inisiatif membebaskan diri dari penjara yang aku bangun sendiri entah kenapa kesempatan mulai datang satu per satu. Meskipun bukan kesempatan yang langsung menyelesaikan semuanya tapi ya itu namanya proses.

Mungkin secara privilese kita bukan kaya Putri Tanjung atau orang-orang sekitar kita yang punya privilese lebih baik. Posisi pekerjaan juga mungkin ga setinggi yang lain. Tapi kita punya diri sendiri yang nggk kita kenali batasannya. Hanya batas-batas dan jeruji semu yang bisa kita buat. PRnya adalah apakah kita mau keluar dari penjara yang kita buat sendiri? Mungkin kita bakalan pusing ketika berproses. Tapi, kalau terus-terusan menyerahkan diri pada nasib dan terus-terusan membandingkan diri sepertinya kita nggak akan kemana-mana.

Justru ternyata kita harus yakin kita nggak mengenal batasan diri sendiri buat merubah nasib. Kita nggak pernah tau sejauh apa kaki-kaki kita bisa berlari kalau kita terus rutin mencoba. Ada sebuah konsep bernama “Jendela Johari” yang menggambarkan diri kita. Salah satu bagiannya menggambarkan bagian diri kita yang nggak kita kenali. Dia bisa kita kenal ketika kita terus mengeksplor diri sendiri sesering mungkin. Syaratnya apa? Syaratnya hanya melepaskan diri sendiri dari penjara yang kita buat dan terus berproses. Pastinya tanpa membandingkan nasib kita dengan orang lain.

Nah, apakah kamu pernah memenjarakan diri sendiri? Atau di fase COVID ini kamu malah sukses membeaskan diri?

Foto oleh Donald Tong dari Pexels

Baca juga:

Mencicipi Pelajaran Kehidupan yang Hadir di Angkringan

Bisa Jadi Alasan Menjaga Mental Justru Menghancurkan Masa Depanmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini