Waktu Baca: 2 menit

Mixing makanan sebenarnya bukanlah hal yang asing lagi. Di kehidupan sehari-hari, kita tanpa sadar juga pernah mencampurkan makanan. Contoh yang umum adalah mencampurkan nasi ke mi goreng atau rebus. Walaupun kedua makanan yang terasa saling melengkapi, makanan ini sebenarnya mempunyai kandungan yang sama, yaitu karbohidrat. Atau ada yang pernah mixing jajanan kaki lima seperti batagor, seblak, atau sempolan dengan nasi. Entah karena penasaran tentang rasa yang dihasilkan atau memang gabut, mixing makanan memberikan sensasi tersendiri bagi penikmatnya.

Menjadi Tren Baru

Selain mixing makanan yang biasa-biasa aja, ada juga lho orang-orang yang mencampurkan dua atau lebih makanan tak biasa. Tahun lalu saya sering menjumpai postingan di salah satu akun Twitter tentang tren baru ini. Jika biasanya orang mencampur mi goreng dengan telur dadar, ada juga nih orang yang iseng mencampurnya dengan es krim. Bayangin deh, mi goreng yang biasanya berminyak dan punya rasa pedas manis gurih bercampur dengan es krim yang dingin dan manis. Hmm, kira-kira gimana, tuh, rasanya? Saya sih gak bisa bayangin 😀

Tren mixing makanan tak biasa seperti tadi hanyalah segelintir contoh dari banyaknya postingan serupa yang saya jumpai di Twitter. Ada contoh lain yang bisa saya sebutkan, tapi demi keamanan perut pembaca, saya tak bisa menyebutkan semua. Well, kira-kira kenapa, sih, orang-orang mulai mixing makanan yang bertolak belakang seperti ini? Apakah mereka sudah mulai jenuh dengan kombinasi makanan yang biasa mereka santap? Atau, mereka hanya ingin mencari sensasi saja?

Ajang Cari Atensi?

Kita gak bisa menebak dengan benar alasan kelompok manusia ini mencoba tren mencampur makanan yang tak biasa. Menurut saya, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi. Pertama, orang-orang yang menyukai mixing makanan tak biasa memang ada. Preferensi seseorang adalah hal yang subjektif, dalam artian setiap individu mempunyai kecondongan kesukaan yang berbeda-beda. Toleransi seseorang terhadap umum atau tidaknya suatu kesukaan juga subjektif. Bagi mereka yang tak biasa mixing makanan, melihat postingan tentang mi goreng dan es krim mungkin terkesan aneh dan gila. Tapi, bagi sesorang yang menyukai sesuatu yang ekstrem, hal ini terdengar menarik.

Lalu, kemungkinan yang kedua adalah usaha mencari perhatian. Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, kita sering memberikan atensi ke hal-hal yang tak biasa dan unik. Untuk kasus tren mixing makanan tak biasa ini, bisa jadi orang-orang di balik konten tersebut hanya mencari perhatian belaka. Saya tidak mencoba menuding siapapun, tapi jika postingan seperti ini lewat di beranda, pasti kita penasaran untuk melihat dan nitip komentar. Salah satu contoh yang trending beberapa hari lalu adalah konten Tik Tok Sisca Kohl. Content creator yang terkenal dengan gaya sultannya ini pernah mencoba membuat es krim dari bahan daging babi panggang. Kedua bahan ini jelas tak biasa, namun di tangan Sisca Kohl keduanya dapat disulap menjadi makanan jenis baru: es krim rasa daging babi. Wah, beneran enak atau beneran ngeri, nih?

Manusia Mulai Bosan

Tren mixing makanan ‘unik’ seperti ini memberikan suatu pencerahan ke kita bahwa manusia sudah mulai bosan dengan hal-hal yang biasa di sekitarnya. Naluri manusia untuk terus menguasai semua membuatnya menjadi makhluk yang tak kenal batas. Dengan rasa penasaran yang kuat, kita terkadang lupa bahwa ada limitasi toleransi di berbagai hal yang ada di dunia. Inilah yang bisa menjadi bibit alasan ‘Itu wajar, kok!’ di antara kita. Tapi, benarkah kita kelak bisa menolerir semua ketidakwajaran yang kita sebut di masa sekarang?

Baca juga:

Makanan Rumah Sakit Kok Gak Enak? Ini Penjelasannya

Tingkatkan Imunitas Tubuh! Ini Dia Makanannya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini