Waktu Baca: 3 menit

Penceramah/ustadzah/artis, Oki Setiana Dewi mendadak jadi bahan gunjingan warganet. Pasalnya, perempuan yang pernah membintangi film Ketika Cinta Bertasbih ini mengatakan bahwa istri yang baik adalah istri yang tidak mengadu meski menjadi korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Padahal, Komnas Perempuan dan berbagai aktivis perempuan mendorong agar perempuan berani melapor jika menjadi korban KDRT. Sikap Oki Setiana Dewi ini dianggap sebagai salah satu bentuk normalisasi KDRT. Nah, apakah sebenarnya KDRT itu normal? Tentu saja tidak, meski di zaman dulu sempat dianggap normal normal saja.

Misalnya saja, pada zaman dahulu menjadi wajar seorang anak mendapat hukuman fisik dari orang tuanya. Padahal, hukuman fisik ini fatal akibatnya bagi anak anak. Misalnya saja pada kasus Arrie Hanggara. Anak ini meninggal akibat penyiksaan oleh kedua orang tuanya. Yang paling dekat, ada juga kasus Engeline Megawe pada 2015. Jikapun anak tidak mati, maka kemungkinan besar intelejensa anak akan berkurang, menjadi trauma dan kemungkinan akan melakukan perbuatan yang sama di masa depan. Lalu, kenapa kok masyarakat tutup mata pada kasus KDRT? Padahal masyarakat yang sama suka urus urus kepentingan orang lain dan menggunjingkan orang lain?

Jaga Nama

Alasan yang sering diajukan adalah karena menjaga nama. Ya, KDRT ditutup tutupi dengan dalih menjaga nama baik keluarga. Ini memang menjadi persoalan di banyak keluarga Asia. Banyak dari mereka tidak ingin aib keluarga terbongkar sehingga lebih memilih diam. Padahal, KDRT berlebihan ya fatal akibatnya seperti yang saya jelaskan tadi. Jika merunut pada masalah sosiologi, ini juga tidak lepas karena masyarakat Asia khususnya Indonesia masih berpegang pada strata dan kasta sosial, suatu sistem yang mestinya segera hilang.

Aib menjadi salah satu faktor untuk menurunkan derajat sosial seseorang/ satu keluarga. Celakanya, manusia sebagai individu sering terabaikan dengan pemikiran ini. Sialnya, KDRT entah mengapa masuk dalam kategori aib. Padahal, korban KDRT bukan aib, ya mereka sial saja. Soal mereka kok bisa milih salah pasangan ya itu persoalan lain. Yang jelas kalau KDRT dialami anak anak, ribet juga. Memangnya anak anak bisa memilih orang tuanya? Kan ya enggak begitu juga.

Susahnya memang struktur sosial kita begitu: masih mengkasta kastakan orang dan kurang menghargai individu. Dari pemimpin atau negaranya juga harus mau mendorong perubahan paradigma ini. Jika terus menerus terjadi, bisa menjadi masalah besar.

Budaya Patriaki dan Labelling

Korban KDRT seringkali juga mendapagt labelling. Perilaku menyalahkan korban ini memang masih jamak terjadi di Indonesia. Anggapan bahwa korban KDRT kurang sabar, kurang pengertian dan seterusnya masih sering muncul. Ini tak lepas karena di Indonesia sistem patriaki mengakar kuat. Jangan salah, bahkan di negara besarpun sistem patriaki ini juga masih kuat dan ‘berbahaya’.

Hanya saja, ketika kita membicarakan KDRT, kita bicara soal nyawa dan jiwa manusia, seharusnya tidak bisa kita mengutamakan norma di atas manusia. Lagi lagi memang negara sendiri harus terjun dan menguatkan pencegahan KDRT ataupun ‘memaksa’ masyarakatnya berubah demi kebaikan bersama.

Jujur saja, masalah norma sosial dan jaga nama ini mengakar karena ada akar budaya kuat beratus ratus tahun. Kalau kita ingin merubahnya dalam tempo yang singkat, ya memang harus ada pemantiknya. Pemantik paling mudah adalah negara yang bisa melahirkan undang undang dan menggerakkan aparat agar paradigma ngawur ini segera berubah. Sayangnya, untuk mengubah sistem kasta ini tidak hanya soal mau saja. Dalam parlemen, bahkan tubuh pemerintahan sendiri, masih ada yang ingin melestarikan praktek praktek semacam ini. Pusing tho?

Mulai Dari Diri Sendiri

Kalau mengharapkan kekuatan eksternal masih sulit, setidaknya kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Yuk belajar cara menghindari orang toxic dan berani melaporkan KDRT. Jangan sampai kita juga menjadi bagian dari sistem kasta yang tidak sehat serta persaingan tidak masuk akal hanya demi jaga nama hingga lupa jaga nyawa. Jangan normalisasi KDRT karena pada dasarnya itu tidak normal.

Untuk lebih mengetahui isu ini. Teman teman bisa bergabung dengan diskusi Pakbob.id yang akan kita selenggarakan pada 13 Februari 2021 mulai Pukul 13.00 WIB via Zoom Meeting. Info lengkap acara ini bisa dicek via instagram kami. Di acara ini, teman teman berkesempatan untuk bertemu psikolog dan pemerhati masalah kekerasan domestik untuk berdiskusi dan berkonsultasi. Kerahasiaan identitas teman teman terjamin. Pendaftaran dapat dilakukan di link berikut ini.  Sampai jumpa!

Foto: Instagram Oki Setiana Dewi

Baca juga
Kekerasan Seksual Salah Perempuan? Beneran?

The Whole Truth Adalah Cermin Keluarga Asia dan Kenyataannya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini