Waktu Baca: 2 menit

Menjadi tempat wisata dan tempat ikonik di Jogja bukan berarti membuat Malioboro menjadi tempat yang relatif sepenuhnya nyaman. Terutama buat beberapa hal seperti yang KRT Karyanto Purbohusodo, salah satu pengurus PPMAY (Perkumpulan Pengusaha Malioboro Dan A Yani) keluhkan. Pemilik Toko Obat Sumber Husodo ini mengeluhkan beberapa hal yang terjadi di Malioboro, termasuk mengenai para pengunjung.

Pengguna Skuter yang “Balapan Liar”

malioboro

Skuter bukanlah hal yang asing lagi di Malioboro. Pengunjung bisa menyewa skuter ini ketika berkunjung. Sudah sesuatu lazim juga kalau pengunjung menggunakan skuter buat berkeliling Malioboro.

Sayangnya, penggunaan skuter di area Maliboro nggak kita, para pengunjung, barengi sama tanggung jawab. Banyak pengguna skuter yang kurang bijak menggunakan salah satu fasilitas di Malioboro ini.

“Pemakai skuter itu banyak yang adu nyali. Biasanya sore sampai jam 7 malam. Adu race di depan Malio Gelato”, kata KRT Karyanto Purbohusodo.

“Kan bahaya kalau nggak sengaja nabrak orang”, tambahnya.

Kalau kita pikir, menggunakan skuter di Malioboro memang cukup menyenangkan tapi di saat yang sama juga bisa meresahkan. Terlebih kalau kita sebagai pengguna skuter dan pengunjung Malioboro kurang bijak dalam berwisata.

Tukang Becak dan Pemotor Yang Sering Naik dan Gaspol Ke Lorong

malioboro

Bukan cuma pengguna skuter yang sering menyalahgunakan area pedestrian dan lorong Malioboro. Tukang becak serta pemotor juga jadi sorotan KRT Karyanto Purbohusodo.

“Sepeda motor juga kadang-kadang masuk jalur lorong milik toko. Becak juga gitu”, tutur KRT Karyanto Purbohusodo.

“Becak itu sering naik ke depan toko bawa barang-barang”, imbuhnya.

Lalu apakah dari pemilik toko tidak menegur mereka? Jawabannya sebenarnya sudah. Tapi sayangnya teguran dari pemilik toko kurang mereka indahkan. Bahkan KRT Karyanto Purbohusodo mengatakan bahwa untuk memberi mereka pengertian adalah sesuatu yang sulit.

Zebra Cross Yang Sudah Tidak Terlihat

Keluhan yang datang dari pemilik toko salah satunya adalah Zebra Cross atau marka garis penyeberangan yang mulai pudar. KRT Karyanto Purbohusodo merasa jika pudarnya garis penyeberangan bisa berpotensi membahayakan. Baik itu membahayakan pengendara maupun membahayakan penyeberang jalan atau pengunjung Malioboro.

Sudah Melapor Tapi Belum Ada Tindakan

Melihat permasalahan marka penyeberangan yang mulai pudar sebenarnya KRT Karyanto Purbohusodo sudah melapor ke Dishub terkait. Sayangnya hingga sekarang masih belum ada tindakan dari Dishub buat memperbaiki marka penyeberangan yang sudah pudar.

“Dua tahun lalu saya sudah laporkan ke Dishub. Tapi, sampai hari ini belum ada tindakan”, ungkap KRT Karyanto Purbohusodo.

Begitu pula permasalahan dengan skuter, pemotor, pebecak dan sempat ada sepeda gembira yang menggunakan wilayah lorong. KRT Karyanto Purbohusodo sudah melaporkan permasalahan ini kepada pihak yang berwenang. Seperti kasus marka penyeberangan jalan, hingga saat ini masih belum ada tindak lanjut dari petugas.

Baca juga:

Pemindahan PKL Malioboro Memang Sudah Seharusnya Dilakukan

Parkir Jogja Mahal Fenomena Tak Berkesudahan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini