Waktu Baca: 2 menit

Boleh saya katakan, respon atas diskusi ‘Kekerasan Dalam Pacaran di Sekitar Kita’ disambut dengan cukup antusias. Pasalnya, muncul pertanyaan pertanyaan menarik mengenai isu ini. Durasi diskusi yang mencapai satu durasi film Avengers : Endgame ternyata belum memuaskan para peserta dalam menjawab pertanyaan mereka. Karena itulah, saya memutuskan untuk Ngopi bareng Lik Wah sekalian bikin Podcast bareng (Klik di sini yowh) dan melanjutkan obrolan tentang Red Flag pelaku KDP (Kekerasan dalam Pacaran). Rupa rupanya, hasil ngopi dan podcast di teras rumah Lik Wah ini membawa perspektif baru soal KDP. Berikut beberapa ringkasan dari obrolan kami.

Keluarga

Pak Indra Wahyudi, nama asli Lik Wah, menyebut bahwa faktor keluarga berperan penting bagi kita untuk mendeteksi tanda tanda pelaku KDP. Biasanya, anak/orang dari keluarga yang permisif dengan kekerasan akan memiliki kemungkinan lebih besar menjadi pelaku. Karena ya itu tadi, anak secara tidak sadar belajar bahwa kekerasan itu boleh.

Maka dari itu, saya mengambil kesimpulan bahwa sebaiknya kita tidak membiasakan melakukan kekerasan di dalam keluarga. Ada kekhawatiran besar bahwa besok anak anak kita akan meniru sikap sikap seperti ini. Keluarga juga harus cukup tegas ketika anak melakukan kekerasan.

Saya sendiri memiliki pengalaman seorang teman saya bercerai karena ia pernah dipukuli suaminya di depan keluarga mertuanya, lalu keluarga mertuanya malah diam saja. Teman saya juga menambahkan bahwa mama mertua malah berkesan membela anaknya meski jelas itu salah. Karena itulah, di samping kita harus memberi contoh dengan tidak melakukan kekerasan, kita juga harus menegur keras anak kita yang melakukan kekerasan. Hal hal seperti ini mengurangi resiko anak menjadi pelaku kekerasan dalam bentuk apapun.

Lingkaran Sosial

Dan Pena, seorang analis finansial Wallstreet, menyebut bahwa masa depanmu adalah orang orang yang mengelilingimu. Begitu juga dengan pelaku KDP biasanya berada di lingkaran pertemanan dengan orang orang yang bermasalah dalam mengontrol emosi dan perilaku fisik. Menurut Lik Wah, inilah yang disebut dengan social comparison. Orang akan lebih permisif dengan kekerasan ketika teman temannya juga melakukan hal yang sama. Karena itulah Red Flag pelaku KDP yang juga bisa kita lihat adalah ketika terduga pelaku bergaul dengan orang orang yang tak menghargai wanita.

Selain lingkaran sosial yang tidak sehat. Biasanya pelaku KDP juga adalah orang yang dalam lingkaran sosialnya sering diremehkan atau dibully. Karena egonya tidak tersalurkan, maka iapun mencari kompensasi di tempat lain. Hal ini cukup berbahaya karena yang menjadi korban pelampiasan bisa jadi adalah pacarnya sendiri.

Budaya

Sangat menarik ketika saya dan Lik Wah berbicara mengenai suatu daerah di Indonesia yang orang orangnya biasa melakukan kekerasan pada wanita. Lik Wah mengatakan bahwa inilah yang membedakan antara budaya dan agama. Salah satu perbedaan besarnya adalah agama memiliki otoritas untuk ‘memaksa’ seseorang menaati norma tertentu. Mungkin kekuatan ‘memaksa’ agama hanya di bawah hukum positif saja. Sementara budaya tidaklah demikian. Budaya lebih sering permisif.

“Saya kira budaya kekerasan di daerah itu adalah karena pembiaran,” kata Lik Wah. Pembiaran demi pembiaran akhirnya menjadi kebiasaan dan lalu kebudayaan. Hal ini karena budaya tidak kuat dalam ‘memaksa’ seperti halnya agama. Salah satu cara agar hal ini tidak terulang adalah dengan memperkuat komunikasi dan menegakkan hukum positif. Namun, hal ini tidak semudah diucapkan.

Bertahan dengan Pelaku KDP?

Lik Wah menyebut bahwa bertahan dengan pelaku KDP  bisa saja dilakukan kalau memang kekerasan yang dilakukan baru sebatas verbal. Namun, jika kekerasan yang terjadi sudah dalam tahap membuat down atau membahayakan, Lik Wah menyarankan agar hubungan tidak berlanjut sebab resiko yang ada sungguh besar.

Pada akhirnya, KDP ini isu yang cukup kompleks dan penting bagi kita memahaminya dan mudah mudahan bisa dengan maksimal menghindari bahayanya.

Baca juga :
Di Balik Layar Bob’s Talk : Kekerasan Dalam Pacaran Di Sekitar Kita

Kekerasan Dalam Pacaran Dalam Karya Pop

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini