Sastra Cyber: Teman Berkarya Dengan Berbagai Polemiknya

Waktu Baca: 4 menit

Sastra adalah sebuah karya yang memiliki pedoman dan nilai yang luhur. Dalam ragamnya sastra terbagi menjadi tiga, yaitu prosa, puisi, dan drama. Prosa sendiri masih punya dua kategori, yaitu cerita pendek (cerpen) dan novel. Salah satu karya sastra yang cukup terkenal di Indonesia adalah Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata.

Karya sastra juga kerap kali terpandang sebagai karya yang beriringan dengan bahasa yang baku. Selain itu, sastra juga dianggap cukup sulit dipahami bagi orang awam. Seperti pada contoh novel Anak Bajang Menggiring Angin. Ketika saya membaca novel ini bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia baku. Bukan cuma itu, buku ini penuh dengan kalimat kiasan. Namun, saya tetap bisa menikmati alur cerita yang novel berlatar belakang Ramayana ini suguhkan. Meski begitu, pada setiap karya sastra tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembacanya.

Dalam perkembangan jaman, karya sastra kini tidak hanya terdapat dalam cetakan buku-buku fisik yang relatif tebal. Saat ini, kita bisa mengenal sastra cyber. Nah, apa itu sastra cyber?

Mengenal Sastra Cyber

Sastra cyber mulai popular di Indonesia sekitar akhir tahun 1990-an. Meluncurnya buku anatologi puisi berjudul “Graffiti Gratitude” jadi pertanda munculnya sastra cyber tanggal 9 Mei 2001 di yang lalu. Sutan Ikwan Soekri Munaf, Nanang Suryadi, Nunuk Suraja, Tulus Widjarnako, Cunong, dan Medy Loekito ada penulis Buku antologi tersebut. Peluncuran buku antalogi puisi tersebut lantas menuai pro kontra dalam dunia sastra.

Sastra cyber sendiri terdefinisi sebagai karya sastra yang terpublikasi melalui internet dan teknologi (komputer). Medium-medium seperti blog, facebook, twitter, wattpad, dan media sosial lainnya jadi tempat mempublikasikan sastra cyber. Dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi, karya-karya sastra seakan menemukan wadah untuk memamerkan hasil dirinya untuk mendapatkan apresiasi dan pembaca dari mana saja.

Meski semua orang tampak bebas memajang karya tulisannya, sastra cyber rupanya juga sempat menuai pro-kontra lho. Aku kutip dari makalah Hilda-Septriani, redaktur koran Republika, Ahhmadun Yosi Herfanda, dalam artikelnya yang berjudul “Puisi Cyber, Genre, atau Tong Sampah”. Di artikel tersebut ia mengatakan bahwa sastra yang diunggah dalam media sosial (cyber) hanyalah sebagai ‘tong sampah’. Anggapannya, sastra cyber hanyalah karya yang tidak layak seleksi dalam media cetak atau penerbit sehingga masuk ke tempat pembuangan bernama sosial media.

Wow, cukup panas ya pro-kontranya. Tapi, meski terbagi menjadi dua kubu, sastra internet ini tidak serta merta dipandang sebelah mata. Kita bisa melihat dari kedua sisinya. Apa saja, yuk kita bahas!

Membuka Kesempatan Bagi Siapa Saja Dalam Berkarya

Sebagian besar orang masih beranggapan bahwa karya yang bagus adalah karya yang lolos dari penerbitan. Hal ini tentu menjadi belenggu tersendiri bagi sebagian orang yang memiliki karya tulisan, namun nasibnya masih sial karena selalu ditolak penerbit. Dengan adanya sastra cyber tentu membuka peluang bagi siapa saja untuk mempublish karyanya, mengingat kekuatan media sosial mudah sekali dalam memviralkan sesuatu. Oleh karena itu, tulisan yang tersimpan atau tertolak oleh penerbit masih punya kesempatan untuk dibaca oleh orang lain.

Mudah Diakses dan Praktis

Membaca buku fisik memang menjadi keasikan tersendiri, terlebih beberapa pembaca mengangumi dari bau khas buku itu sendiri. Namun, terkadang buku fisik juga cukup merepotkan jika kalau mau kamu dalam kasus-kasus tertentu. Terlebih kalau bukunya cukup tebel. So, dengan adanya sastra jenis ini pembaca tetap bisa menikmati karya-karya sastra dari hp mereka yang relatif lebih praktis. Saat ini, sebagian besar orang juga lebih sering membuka internet dan media sosial. Kebiasaan ini membuat sastra cyber mudah buat masyarakat akses di mana saja. Termasuk ketika sedang mengantre di bank, menunggu bus, atau sambil rebahan di rumah.

Menjadi Terbosan Dalam Kesusastraan

Dengan ruang terbuka, dunia sastra memanfaatkan kecanggihan teknologi. Mau tidak mau jaman pasti akan mengalami perubahan, khususnya dalam teknologi. Hal ini menjadikan para penulis juga harus beradaptasi agar tidak tergilas oleh perkembangan jaman. Jadi, sastra yang ada di internet ini menjadi trobosan untuk memanfaatkan kecanggihan dan peluang untuk terus berkarya.

Menjadi Polemik Dalam Karya

Kita sudah mengetahui jika dalam cyber atau media sosial tentu lebih bebas berekspresi terlebih kalau kita mengunggahnya di akun pribadi. Namun, namanya ber-media sosial tentu kita juga berhadapan dengan orang lain di balik layar mereka masing-masing. Orang-orang yang kita sendiri tidak tahu latar belakangnya dengan pasti. Kemudahan dalam mengakses sastra cyber nampaknya juga bisa menjadi polemik dalam berkarya. Jika orang mudah dalam membaca dan memberi apresiasi pada sebuah karya sastra di internet, tidak menutup kemungkinan mendatangkan hal yang berlawanan yaitu kritikan. Orang juga dengan sangat mudah mengkritisi sastra cyber sehingga ini bisa menjadi sebuah polemik.

Mutu Karya yang Dipertanyakan

Jika sebuah karya sudah terbit, maka sudah pasti itu melalui sebuah kualifikasi dari sang editor dan pelbagai persyaratan yang memenuhi. Sebagian orang masih menganggap sastra cyber adalah sastra yang belum selesai, amatiran atau terbuang. Tidak kita pungkiri jika keberadaan sastra cyber terkadang masih bisa kita pertanyakan mengenai mutunya. Selain itu, si penulis juga bisa diragukan mengenai hak cipta dan pertanggung jawaban atas hasil tulisan yang diunggahnya.

Bagi yang Gagap Teknologi dan Kesulitan Akses Internet

Meskipun di tengah kecanggihan jaman, tapi tetap saja lho beberapa orang masih gagap teknologi (gaptek). Kita memang tidak bisa memaksa semua orang untuk menggunakan kecanggihan teknologi dan mengakses media sosial. Hal ini mungkin masih terasa di orang-orang yang jamannya jauh di atas para milenial atau kita yang udah terbiasa sama internet. Selain itu, beberapa daerah juga masih belum bisa dengan mudah mengakses internet seperti di daerah 3T. So, ini juga menjadi kendala untuk menikmati sastra cyber.

Well, kemunculan sastra cyber ini memang menjadi keunikan tersendiri dalam dunia sastra. Sastra cyber datang dengan pro dan kontranya. Walau demikian, karya sastra tentunya mempunyai penikmatnya sendiri. Kalau kamu termasuk penikmat sastra cyber atau yang kontra, nih?

Foto oleh Startup Stock Photos dari Pexels

Baca juga:

Buku Mahal? Yang Penting ‘Kan Isinya!

Custom Buku Notebook : Peluang Bisnis Baru Buat Kalian

Mutiara Tyas Kingkin
Mutiara Tyas Kingkin
Someone who liking the annotations

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI