Waktu Baca: 2 menit

Gak heran jika pandemi membawa dampak buat beberapa sektor, seperti pariwisata, pertanian, industri, bahkan pendidikan. Sektor pendidikan yang kita harapkan sebagai sektor yang mencerdaskan kehidupan bangsa juga terpengaruh. Terutama dalam proses pembelajarannya. Pendidikan di Indonesia yang masih dalam proses berkembang mengalami tantangan dadakan yang setiap orang pun tidak siap menerimanya. Tentunya hal ini memberikan imbas pada kondisi pendidik dan peserta didik. Sepertinya sudah tidak garib lagi jika murid mengalami yang namanya Learning Loss. Kondisi di mana kualitas belajar murid menurun. Tapi, mungkinkah guru juga mengalami penurunan kualitas hingga berujung pada suatu titik bernama Teaching Loss? Coba kita bahas.

Teaching Loss

Pembelajaran Jarak Jauh atau kita sering menyebutnya PJJ seringkali membuat para guru merasa bingung dan kewalahan. Tugas administrasi yang berjibun, beban mengajar yang banyak, dan tuntutan di sana sini sangat berdampak pada kualitas mengajar guru. Menurunnya tingkat kualitas mengajar guru dinamakan Teaching Loss. Kali ini aku menilik pengalamanku mengajar selama ini. PJJ yang cukup menguras tenaga dan pikiran membuatku pernah mengalami yang namanya jenuh, kurang bersemangat, dan bahkan jadi kurang produktif. Terhalang jarak bikin semuanya terbatas. Kurang bisa memantau anak dengan maksimal, media pembelajaran jadi terbatas, atau bahkan takut materinya nggak tersampaikan dengan jelas. Apalagi beberapa sekolah menerapkan sistem Hybrid Learning. Tentunya konsentrasi guru akan terbagi menjadi dua. Buat anak-anak yang di dalam kelas dan di rumah. Tapi, aku nggak sendiri. Teman-teman sekerjaku lainnya pun juga pernah mengalami yang sama.

Lantas, strategi apa yang bisa dilakukan oleh para guru untuk mengatasi masalah ini?

Jaga Mood

Membangun mood sebelum mengajar itu penting. Pembawaan guru menentukan asik atau nggaknya pelajaran. Guru yang bisa membangun moodnya sendiri biasanya mampu membangun mood anak-anak. Beda cerita lagi kalau sebelum mengajar mood udah nggak karuan, pikiran kemana-mana, dan susah fokus pada satu hal. Alhasil kurang bisa menciptakan atmosfer kelas yang nyaman dan menyenangkan. Anak juga pasti merasa bosen dan belajarnya pun jadi males-malesan. Adakalanya guru harus pinter mengolah rasa biar tetap tampil prima. Sekadar sharing nih, kalau aku biasanya membangun afirmasi positif dulu di pagi hari biar bisa enak ngejalanin aktivitas seharian. Kalian juga bisa coba ya. Sayang lho masa anak-anaknya udah excited, tapi gurunya malah desperate.

Susun Jadwal dan Buat Target

Tak heran kalau guru punya tugas yang seabrek. Membuat materi, menyusun administrasi, sampe tanggungan koreksi. Sampai-sampai rela bangun subuh buat nyicil biar nggak menggunung. Jangan biarkan tugas-tugasmu merajai hidupmu dan merampas kebahagiaanmu ya. Kamu bisa bikin jadwal harian dan menyusun skala prioritas buat ngerjain tugas mana yang harus didahulukan. Sudah waktunya buat nggak mengulang kebiasaan prokrastinasi. Membiarkan tugas menumpuk di akhir bikin stress bukan kepalang. Mana kamu harus merelakan jam tidur buat ngerjain, makan jadi nggak teratur, dan pastinya mengorbankan kesehatanmu sendiri. Pastikan ada target yang jelas, ya tujuannya biar nggak keteteran aja dan nggak nambah beban.

Walaupun kesannya susah, tapi penting buat kamu lakukan ya. Kalau kita sendiri capek, gimana kabar murid-murid kita? Inget, di masa pandemi nggak ada yang nggak terdampak kok. Kamu nggak sendirian. Teaching Loss emang wajar terjadi tapi kamu perlu refleksi dan bangkit lagi. Jadikan muridmu alasan kenapa kamu masih mempertahankan pekerjaanmu sampai sekarang. Yuk semangat!

Foto oleh mentatdgt dari Pexels

Baca juga:

Teman Minta Contekan Tugas Terus, Harus Gimana?

Yuk belajar Mengelola Stres Ala Collective Mind!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini