Waktu Baca: 3 menit

Kasus penembakan kucing di lingkungan Sesko TNI membuat kita mikir. Mikirnya gini..Ini ada anggota TNI, berpangkat bintang satu, punya akses ke senjata dengan mudah dan punya jabatan juga. Kok, bisa bisanya dia bunuh kucing dengan mudahnya? Bahkan ada kucing yang dalam keadaan hamil dia bunuh. Boleh dong sebagai warga masyarakat kita khawatir. Bagaimana kalau hari ini bunuh kucing, besok dengan mudah ia bunuh orang. Bolehlah kita agak was was menanggapinya.

Kebetulan, kita lagi paranoid karena menonton film Stranger Things 4. Dimana dalam film itu, si villain utama diceritakan dengan mudah membunuh binatang sebagai tahap awal kelakuan psikopatnya. Baru kemudian lama lama ia berani membunuh dan menyiksa orang. Bagaimana kalau di dunia nyata? Apakah seperti itu juga?

Pendapat Psikolog
bunuh orang
Lik Wah di sela kesibukannya

Hal ini cukup ngeri ngeri sedap jawabannya. Namun ada pendapat menarik dari psikolog yang berhasil saya himpun.

Misalnya saja informasi dari psikolog yang berasal dari Universitas Proklamasi 1945, Indra Wahyudi. Pria yang terkenal dengan nama panggilan Lik Wah ini menegaskan bahwa perlu adanya evaluasi kondisi kejiwaan bagi terduga penembak kucing. Ia secara khusus menyebut bahwa sebaiknya masyarakat tidak mengambil kesimpulan adanya gangguan kejiwaan secara langsung. Lebih baik ada proses evaluasi di sana.

“Ada banyak kemungkinan dari seseorang yang sampai tega membunuh kucing. Dari sudut pandang bermasyarakat, mungkin penembak kucing ini sudah jengkel karena kucing memang sering berulah. Akan tetapi, untuk marah kepada pemilik kucingnya sulit. Karena itulah membunuh kucing dianggap pilihan yang lebih memungkinkan,” jelas psikolog yang sudah mengajar selama puluhan tahun ini.

“Tapi ya ada yang lebih memilih cara cara yang dinilai lebih ‘manusiawi’. Misalnya saja kucingnya diracun. Karena memang tujuannya menghilangkan gangguan, bukan menyiksa hewan. Dan lagi, si pembunuh kucing ini enggan berkonfrontasi dengan si pemilik kucing,” jelas pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini.

Belum Tentu Gangguan Jiwa

Ya, meskipun banyak dari kita yang tidak setuju. Tapi perilaku membunuh kucing ini tidak bisa ujug ujug kita anggap sebagai gangguan jiwa. Bisa jadi ini ungkapan frustasi si pembunuh kucing karena kucing tetangga sulit sekali mengaturnya. Lagipula, secara norma dan etika budaya Indonesia, membunuh hewan belum banyak yang menganggap sebagai tindakan yang memalukan dan tabu. Bukan berarti kita memaklumi. Di sisi ini kita sedang membahas kemungkinan orang yang tega bunuh kucing ini adalah seorang psikopat atau tidak.

Akan tetapi, potensi adanya gangguan jiwa juga tidak boleh diabaikan.

“Namun, tidak menutup kemungkinan juga bahwa si pembunuh kucing ini punya tingkat agresivitas yang tinggi sehingga perlu melakukan penyaluran di tempat lain. Membunuh hewan misalnya,” jelasnya lagi. “Perlu ada penyelidikan mendalam di sisi hipotalamus. Berdasar penelitian, kerusakan di hipotalamus memungkinkan adanya kecenderungan perilaku negatif.

Dari Sisi Hukum

Oke, anggaplah sekarang si pembunuh kucing ini belum tentu psikopat, mari kita bicara dari segi hukum. Apakah ada skenario perlindungan pada hewan agar tidak mengalami kekejaman. Jawabannya ada dan pernah kita bahas di artikel kita di sini. Silahkan klik langsung di link kami.

Namun, bagaimana dengan di Indonesia? Sebenarnya ada pasal 302 KUHPidana yang sudah membahas isu ini. Pasal 302 KUHPidana berbunyi demikian:

Pasal 302

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan:

  1. barangsiapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya.
  2. barangsiapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaan da nada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan.

Lalu, masih ada juga penegasan serupa dengan adanya UU no. 18/ 2009 yang melindungi hak hak hewan ini. Isinya serupa, mencegah penyiksaan pada hewan yang tidak perlu.

Kenyataannya?
Pada kenyataannya, penyiksaan pada hewan masih cukup marak. Bahkan laporan dari Asia for Animal Coalition 2021  menyebut bahwa 1.626 konten penyiksaan hewan diproduksi di Indonesia dan 1.569 diunggah dari Indonesia. Miris! Penembakan kucing ini hanya puncak dari gunung es.

Kembali lagi ke soal psikologi. Sindiran bahwa hari ini bunuh kucing besok bunuh orang ini masih mungkin terjadi. Orang yang terbiasa melakukan kekerasan dan menyalurkan agresivitasnya lewat cara cara yang berbahaya, berpotensi sekali mengulangi perbuatannya.

Penegakkan hukum harus semakin kuat demi terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman.

sumber gambar : Litbang Pakbob.id

Baca juga:
Kucing dan Budaya Masyarakat Jepang

Kenapa Kucing Begitu Disukai? Belajar Dari Kasus Kurt Zouma dan Sejarah Kucing

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini