Waktu Baca: 3 menit

Beberapa waktu lalu, akhirnya saya bisa membeli barang-barang yang saya pengen. Barang ini, saya nggak bohong, saya sudah pengenin dari dulu-dulu. Sampai saya harus nabung selama beberapa bulan.

Tapi, entah kenapa kebahagiaan saya hanya berlangsung sebentar. Bukan cuma satu detik saja, namun dalam beberapa jam. Berbeda dengan penantian saya untuk membeli barang ini yang sudah cukup lama. Rasanya, kata bapak-bapak dan ibu-ibu jawa, nggak ‘cucuk’ gitu.

Akhirnya saya mencoba bepikir-pikir, nih “kenapa ya kok rasa senang saya cuma beberapa saat?” padahal, rasa kepengen saya itu sudah dari dulu. Seharusnya kesenangan saya bertahan cukup lama. Seakan nggak masuk akal atau masuk logika.

Saat itu pula saya mulai berpikir, kenapa kesenangan seseorang mudah sekali menguap seakan kita nggak ditakdirkan untuk merasa senang? Saya berpikir seperti ini karena saya yakin yang mengalami hal ini nggak cuma saya.

Saat itu, saya langsung mencoba iseng-iseng membaca buku dan mencari penjelasannya. Pada akhirnya saya bertemu dengan istilah ‘hedonic treadmill’.

 Apa Itu Hedonic Treadmill?

Saya mengenal istilah ini dari buku ‘The Geography of Bliss’ yang ditulis oleh salah satu penulis favorit saya, Eric Weiner. Dia menulis istilah ini saat menjelaskan kebahagiaan orang-orang Qatar yang terkenal sangat kaya. Dalam bukunya, Eric Weiner mengatakan “hedonic treadmill bisa membuat anda gila”. Separah itukah?

Hedonic Treadmill, nggak seperti kata ‘treadmill’-nya, nggak merujuk ke istilah olahraga atau sport sama sekali. Kata ini nggak bermaksud menyinggung treadmill di gym yang mungkin punya sihir tertentu yang bisa bikin kita jadi orang hedon.

Istilah ini justru merujuk pada sifat kita sebagai seorang manusia. Istilah ini mewakili sifat kita yang memang ‘dari sananya’ selalu kembali ke perasaan netral secara alami. Ketika kita bahagia kita akan kembali biasa saja. Begitu juga ketika kita marah, jengkel, bahkan sedih, rasa itu akan kembali ke perasaan netral meskipun rasa yang saya sebutkan terakhir mungkin akan agak lama netralnya.

Contoh rasa ini adalah rasa yang baru saja saya alami. Baru beli barang yang saya pengenin dari dulu tapi rasa senangnya cuma sebentar. Contoh lainnya adalah ketika kita pengen makan sesuatu. Pizza misalnya. Kita udah ngebet pengen makan pizza akhir-akhirnya senangnya cuma sementara bukan? Saat pizzanya sudah berada di perut kita, rasa senang itu berangsur-angsur menghilang. Itulah hedonic treadmill.

Beneran Bisa Bikin Gila atau Menggambarkan Bahwa Manusia Memang Nggak Ditakdirkan Bahagia (Selamanya)?

Beneran nggak sih perkataan Eric Weiner bahwa hedonic treadmill ini bisa bikin kita gila atau beneran apa nggak manusia nggak ditakdirkan bahagia (selamanya)?

Mungkin sebenarnya lebih cocok bahwa kita menyebut sifat natural kita ini bisa merugikan kita. Sifat natural kita ini bikin kita nggak puas dengan segala yang kita dapatkan. Kita dapat barang ‘A’ kita hanya senang sebentar kemudian menginginkan lebih. Kita pernah bahagia karena mendapatkan suatu jabatan atau pangkat namun pada akhirnya terasa biasa saja dan ingin lebih.

Dengan kebiasaan ini, bisa jadi kita memang jadi stress sendiri. Kita merasa hidup kita terus-terusan berkekurangan. Terlebih, kalau ada teman kita yang mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada kita. Sudah rasanya jadi netral kita juga ketambahan realita bahwa ada yang lebih daripada kita dan membuat kita semakin rakus.

Kerakusan ini yang bisa menjadi bahaya buat kita semua. Kita akan menjadi orang yang tamak karena ketidakmampuan kita mengatur rasa puas yang muncul saat perasaan kita sudah netral. Bahkan bukan tidak mungkin kerakusan kita karena efek hedonic treadmill ini bakalan merugikan orang-orang di sekitar kita.

Apakah Hedonic Treadmill Bisa Diatasi?

Apakah sifat natural kita ini bisa kita atasi. Jawabannya ya jelas bisa banget karena saya yakin nggak ada satupun dari pembaca ingin menjadi orang yang rakus nan menyebalkan atau setidaknya nggak mau hidupnya terasa hambar. Begitu bukan?

Salah satu hal yang saya lakukan untuk mengatasi sifat natural kita semua ini adalah dengan bertemu dengan orang baru. Beneran! Saya selalu merasa bahwa orang baru yang saya temui meningkatkan kepuasan hidup saya.

Saya selalu mencari berbagai cara agar bisa bertemu dengan orang baru. Seperti dengan rajin membaca biar saya bisa mudah tek-tok-an sama orang baru. Alasannya agar saya selalu bisa nyambung omongannya dengan mereka. Dengan bertemu orang baru, saya bisa belajar hal-hal baru yang tentu saja selalu me-maintain kebahagiaan saya.

Selain itu bisa juga kita mengatasi sifat natural kita ini dengan mindfulness dan bersyukur. Pikiran kita akan selalu sibuk dengan hal-hal yang di luar kita. Termasuk berpikir tentang cara agar keinginan kita bisa terpenuhi yang membuat kita nggak bersyukur. Dengan mempraktekkan mindfulness kita bisa menyadari keriuhan isi kepala kita dan mulai memikirkan tentang kebahagiaan kita yang sesungguhnya.

Akhir Kata

Untuk penutup, hedonic treadmill ini nggak perlu kita hilangkan sepenuhnya karena hal ini adalah sifat natural kita sebagai makhluk hidup. Kita pun nggak perlu malu kalau memiliki tendensi ini karena semua orang memilikinya. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengontrolnya.

Semangat!

Ilustrasi foto oleh Julia Larson

Baca juga:

Haruskah Kebahagiaan Terus Dikejar?

Hidup Bahagia Dengan Lathe Biosas Ala Filsuf Yunani

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini