Facebook Adalah Bukti Bahwa Jadi Influencer Bisa Kurang Menjanjikan

Waktu Baca: 3 menit

Menjadi influencer nampaknya adalah cita-cita umum anak-anak jaman sekarang. Saat kita mencoba bertanya kepada mereka jawabannya akan nggak jauh-jauh dari kehidupan influencer. Biasanya anak-anak akan menjawab jadi selebgram, youtuber dan paling baru ya mentok-mentok tiktokers-lah.

Saya pun pernah demikian. Beneran deh! Waktu itu saya masih usia belasan tahun namun belum sampai menginjak usia punya KTP. Saya sempat menyadari betapa banyak uang yang bisa seseorang hasilkan dari media sosial. Saat itu Facebook masih jadi platform yang paling oke.

Saya menyadari hal ini bukan tanpa alasan. Saya yang saat itu melihat engagement besar yang bisa facebook page-facebook page meme comic yang bisa saja menghasilkan uang. Mereka bisa meraih banyak pengguna Facebook untuk melihat konten lucu-lucuan mereka. Kalau saat itu dijual harganya bisa fantastis meskipun nggak segede sekarang.

Namun, saat ini pikiran saya sudah jauh berubah. Apa yang terjadi dengan Facebook membuat saya yakin bahwa menjadi influencer bisa kurang menjanjikan buat pencarahian pundi-pundi uang.

Hancurnya Facebook dan ‘Influencer’ Mereka

Facebook pada awalnya menjadi primadona para pengguna media sosial pada akhir tahun 2000-an akhir. Kemudian pada tahun 2010-an awal Facebook mulai semakin meledak dengan jumlah penggunanya yang terus meningkat.

Pada saat itu Facebook menawarkan diri mereka sebagai platform media sosial yang terbaik. Semua pasar berkumpul di sana. Mulai dari anak muda yang suka main gim dan melihat meme comic (sempat viral juga Vine saat itu) sampai bapak-bapak yang pindah debat politiknya dari cakruk.

Sayangnya, setelah meledaknya Facebook, media sosial lainnya pun lahir. Contohnya kaya Instagram. Kondisi persaingan pasar media sosial juga makin ramai dengan mulai hype-nya media sosial yang sekarang jadi tempat curhat anak muda, Twitter.

Setelah itu, kita mengenal banyak sekali media sosial yang lahir dan memiliki pasarnya secara spesifik. Seperti Twitter yang sudah saya sebutkan, Instagram dengan orang-orang flexing, DevianArt untuk para seniman sampai Helo yang dihuni oleh bapak-bapak yang doyan ngomongin politik.

Pada akhirnya pasar Facebook seakan mulai hancur. Kini tinggal grup-grup jual beli atau grup-grup yang bikin kita mengerenyitkan dahi yang ada di Facebook. Kondisi ini jelas mempengaruhi fanpage-fanpage terutama meme comic yang harusnya bisa mendapatkan banyak cuan dari Facebook. Pada akhirnya para ‘influencer’ Facebook ikutan tidak berdaya lagi di era sekarang.

Influencer Biasanya Hanya Menguasai Satu Platform

Apa yang terjadi dengan Facebook dan para ‘influencer’-nya sekarang di mata saya adalah bukti bahwa influencer (biasanya) hanya menguasai satu platform. Kita bisa lihat sendiri dari popularitas meme comic setelah Facebook ditinggal para penggunanya. Mereka memang ada di Instagram, tapi pamor mereka kalah dengan pasar Instagram sesungguhnya. Di Twitter bagaimana? Di Twitter akun-akun shitpost lebih menarik daripada meme comic.

Begitu pula saat saya melihat para influencer-influencer di media sosial yang lain. Sangat jarang sekali terjadi ada seorang selebgram yang meledak di TikTok atau Twitter. Begitu pula para TikTokers yang nggak seviral di Instagram dan para selebtwit yang seakan nggak punya power di platform lain.

Kalau saja memang influencer-influencer ini benar-benar seorang influencer yang sangat terkenal, sangat menguasai media sosial, seharusnya para mantan influencer Facebook masih viral hingga sekarang dengan konten mereka. Hanya sedikit yang bisa melakukan hal ini.

Bisa jadi kalau seseorang bercita-cita menjadi YouTuber, atau influencer media sosial lainnya, mereka hanya bisa menguasai satu media sosial saja.

Kematian Media Sosial Lain dan Para Influencer-nya

Facebook mungkin bisa kita bilang sebagai ‘pembunuh media sosial lain’ pada masa jayanya. Namun sayang, sekarang merekalah yang mengalami ancaman akan kematian dari media sosial yang lain. Kondisi ini sebenarnya adalah bukti bahwa, seperti Facebook, media sosial lain punya probabilitas untuk ‘mati’ yang sama.

Probabilitas kematian yang sama inilah yang bikin saya mengatakan bahwa jadi influencer bisa jadi kurang menjanjikan. Selain itu probabilitas kemampuan influencer memahami banyak platform juga di mata saya masih kurang.

Dengan ancaman kematian ini, nggak menutup kemungkinan para influencer bisa mudah kehilangan pekerjaannya begitu saja. Mereka bisa secara mendadak kehilangan para audiensnya. Kondisi seperti ini membuat jadi influencer itu nggak worth it alias jadi kurang menjanjikan.

Bahkan banyak dari perusahaan yang merasa influence mereka di media sosial tidak bisa mereka jadikan sebuah aset. Pemikiran ini muncul karena kerentanan media sosial akan ‘kematian’. Maka dari itu, jumlah followers, subscribers atau sejenisnya bukanlah hal yang bisa mereka jadikan sebuah patokan.

Dengan inilah, maka saya akan mengatakan sekali lagi bahwa menjadi influencer bisa jadi adalah posisi yang kurang menjanjikan karena kita menggantungkan pendapatan dari sesuatu yang bisa ‘mati’ kapan saja.

Ilustrasi gambar oleh Los Muertos Crew

Baca juga:

Kemenangan Semu Anak Muda di Sosial Media

Kasus Arawinda Serta Mantan Pacar Mengingatkan Kita Akan Beratnya Jadi Pahlawan Sosial

Raditya Saputra
Raditya Saputra
Harusnya sih jadi guru. Tapi liat aja besok.

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI