Waktu Baca: 3 menit

Tiba tiba saja fans klub Manchester United bersorak riang gembira. Maklum, setelah menjadi bulan bulanan klub semenjana macam Brighton Hove Albion dan Brentford, kini Manchester United berhasil mengalahkan rivalnya, Liverpool. Pemain yang menjadi sorotan siapa lagi kalau bukan bek tengah mungil yang sering dibanding bandingkan dengan legenda Italia Fabio Cannavaro, Lisandro Martinez. Tiba tiba saja semua sayang Lisandro Martinez meski sebelumnya mencibir bek berjulukan The Butcher ini. Mereka menganggap Martinez berhasil menunjukkan kualitasnya. Eits..tunggu dulu..sayangnya saya yang tak sependapat bahwa bek asal Argentina ini sudah membuktikan harganya.

Ini baru satu pertandingan dan terlalu cepat untuk menganggap segala kesalahan terbayarkan. Ada beberapa alasan mengapa saya menilai the Butcher perlu membuktikan diri.

Liverpool Tanpa Penyerang

The Butcher

Pertandingan semalam dimainkan dengan kondisi Liverpool tanpa penyerang. Namanya saja tanpa penyerang, tidak heran kalau Liverpool tumpul. Jangan tanyakan kemampuan Roberto Firmino sebagai goal getter. Sudah jelaslah kalau ambyar. Sementara itu, Mohammaed Salah tak selalu bermain sesuai ekspetasi dalam melakukan cut inside dan mencetak gol meski pada akhirnya sundulannya menghibur hati para Liverpulidan yang merana.

Untuk adu sprint dan melakukan marking, Lisandro Martinez mungkin memang tidak kacrut. Kalau dia kacrut, tidak mungkin prestasi Ajax Amsterdam mentereng. Semalam kemampuan intercept dan sprintnya terbukti baik. Tapi apakah ada nilai plus lain?

Kalau bicara kemampuan membaca permainan, ah rasa rasanya ya belum. Wong dia saja tidak menghadapi penyerang penyerang murni atawa ganas. Ya setidaknya dia belum terbukti berhasil begitu. Bukan berarti tidak bisa.

Namun pengalaman pertandingan yang lalu. Ia melawan Danny Welbeck saja lumayan kewalahan. Pertanda kurang baik ini. Tapi ya jangan terlalu cepat menghakimi. Belum tentu dia kalah melawan Erling Halaand atau Darwin Nunez. Bisa jadi dia menang (atau malah tambah remuk?).

Belum Teruji Bola Atas

Manchester United

Lisandro Martinez beruntung ia melawan tim Liverpool yang cukup bebal dengan memainkan bola bola bawah dan umpan terobosan. Dua masalah itu masih mungkin ia atasi. Akan tetapi, lain cerita jika yang ia hadapi bola udara dimana penyerangnya jago melakukan heading. Orang bisa saja beralasan bahwa nantinya aka nada Maguire/Varane yang mendukung dirinya.

Tapi, jujur saja, kita tidak bisa selamanya mengandalkan orang lain. Selama ini belum terbukti Martinez mampu beradu di udara sama baiknya dengan bek bek tengah lain di Liga Inggris. Ia baru kebetulan mendapat lawan yang cocok dengan karakternya. Kalau melawan yang lain? Entahlah.

Kemampuan Membaca Permainan

Fabio Cannavaro terkenal karena kemampuan membaca permainan yang mumpuni. Salah satu sebabnya adalah kemampuan intercept dan membaca permainan yang ada di atas rata rata. Hal ini menutupi kekurangan tinggi badannya.

Namun dalam kasus Lisandro Martinez, ia belum teruji bisa membaca permainan dengan tempo secepat Premier League. Sampai hari ini ia belum bisa menciptakan cleansheet. Tentu bukan maksud kita meremehkannya. Namun, membaca permainan di Belanda dan di Italia sangat berbeda dengan di Inggris.

Saat melawan Liverpool, the Butcher  harus sadar bahwa pola permainan Liverpool sederhana dan mengandalkan bola bola cepat semata; bukan operan operan yang mengejutkan. Masalahnya, kalau ia bertemu dengan lawan semacam Arsenal dan Manchester City, mungkin ceritanya akan berbeda.

Baru Satu Pertandingan Bos!

Okelah, semua fans MU sayang Lisandro Martinez dan berharap mantan bek Ajax ini mampu menjawab kerinduan akan sosok yang bisa memperbaiki kerapuhan benteng Manchester Merah. Akan tetapi, baru satu pertandingan saja pemain ini tampil bagus. Itupun yang dihadapi Liverpool yang kehilangan banyak pemain karena cedera. Hasil pembuktian masih banyak bos!

Musim lalu, Setan Merah juga kelihatan bakal jadi penantang juara di awal musim. Ternyata, berlalunya waktu, malah memiliki musim terjelek sepanjang sejarah Liga Inggris.

Karena itu—maaf seribu maaf—belum saatnya Manchester Merah berpesta. Masih banyak yang harus dibuktikan, jangan hanya sekadar geger dan euforia karena kedatangan Casemiro. Mantep bentar, terus hilang begitu saja, wadoooh!

Sumber gambar : Instagram
Casemiro ke Manchester United Buat Apa?

Mengenang Trio Emas Lini Tengah Real Madrid yang Sudah Berakhir

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini