Waktu Baca: 3 menit

Kemarin kita membicarakan kondisi hancurnya keluarga Ferdy Sambo. Sangat miris memang karena anak anak ini mengalami pembalikan nasib yang luar biasa. Mereka yang awalnya berasal dari keluarga elit, tiba tiba menjadi keluarga yang mendapat hinaan kemanapun mereka pergi. Perlahan tapi pasti, mereka mulai merasakan aksi bullying baik secara online maupun offline. Bagi anak anak seusia mereka, ini adalah sebuah pengalaman yang memprihatinkan. Apakah harus dibiarkan? Tentu tidak! Sebab bagaimanapun anak anak Ferdy Sambo tidak ikut melakukan kejahatan bersama ayah dan ibunya. Mereka harus mendapat perlindungan yang layak.

Pandangan Psikolog

Pendapat saya ini mendapat dukungan dari beberapa psikolog. Salah satunya dari Femmy Lekahena dari Universitas Proklamasi 1945.

Psikolog dari Biro Psikologi Universitas Proklamasi 1945 ini menegaskan bahwa anak anak Ferdy Sambo harus mendapat perlindungan sewajarnya dan jangan sampai menjadi korban bullying.

“Masyarakat perlu jeli melihat. Anak anak yang tidak bersalah ini jangan lagi di-bully. Tanpa di-bully pun, dengan mengetahui orang tuanya dihukum, sudah membuat mereka tertekan. Sekolah juga harus mencari kebenaran informasi dan segera bertindak untuk mencari solusi terbaik bagi anak anak Ferdy Sambo,” ujar wanita lulusan Universitas Kristen Satya Wacana ini.

Ganti Identitas

Sempat terpikir di benak saya bahwa anak anak keluarga Ferdy Sambo ini harus mengganti identitasnya. Tapi nampaknya sulit karena orang mengetahui wajah mereka. Meski namanya belum terungkap, belum tentu perubahan identitas ini banyak menolong mereka.

Selain itu, Femmy Lekahena tidak menyarankan pergantian identitas itu.

“Yang melakukan kesalahan adalah orang tuanya. Anak-anak tidak bersalah dan tidak perlu mengganti identitas. Jadi, sebenarnya tidak adil ketika mereka ikut diberikan sanksi sosial,” tambahnya.

Saya lalu berpikir, apakah tidak sebaiknya mereka pindah dari sekolahnya sekarang agar tekanan tidak terlampau berat? Namun lagi lagi Femmy Lekahena mengingatkan bahwa hal itu belum tentu jadi solusi.

“ Pada umumnya, korban bullying perlu keluar dari toxic circle. Tapi, dalam kondisi ini, perlu lihat kesamaan kurikulum sekolah tempat anak anak Ferdy Sambo bersekolah, apakah sama dengan calon sekolah baru atau tidak? Kalau tidak sama, ini menjadi persoalan baru untuk anak tersebut, karena anak perlu menyesuaikan diri lebih keras,” jelasnya.

Tidak mudah ternyata untuk melindungi anak anak Ferdy Sambo dari perbuatan orang tuanya.

Pelajaran Berharga

Pameo mengatakan nasi sudah menjadi bubur. Anak anak Ferdy Sambo suka tidak suka harus menjalani pengalaman menyakitkan menanggung dosa ayah dan ibunya. Ada hal yang tidak bisa kita rubah dan hanya bisa ambil hikmahnya, tapi ada juga hal yang bisa kita ubah demi terciptanya masa depan anak anak Sambo yang lebih baik dan juga anak anak korban kejahatan orang tuanya di masa depan.

Kita mulai dari pelajaran buruknya.

Seharusnya, kita menjaga agar diskusi mengenai anak anak Sambo dibatasi sebanyak mungkin. Jangan kita membahas anak anak Sambo ke hal yang tidak ada hubungannya dengan kasus intinya sendiri. Dari pandangan saya, dapat kita lihat masih ada media yang berani membuat artikel seperti ‘Lihat Anak Putri Candrawathi Yang Mewarisi Kecantikan Ibunya’. Artikel seperti ini tidak perlu. Anak anak itu tidak perlu mendapat ekspos yang terlalu berlebih. Memiliki orang tua penjahat sudah cukup sulit bung!

Sebelum terlambat, kita tidak boleh mengekspos nama dan lokasi dimana mereka bersekolah. Hal ini sangat kontraproduktif dengan usaha untuk menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak anak keluarga Sambo.

Selain itu, pihak kepolisian seharusnya bertindak cepat melindungi anak anak Ferdy Sambo dari akun media sosial. Banyak netizen tidak bertanggung jawab yang malah memperkeruh keadaan. Hal hal seperti ini sudah seharusnya kita antisipasi dari awal. Tapi karena kita sibuk dengan kasus inti, kita lupa melakukan pencegahan kerusakan psikologis yang dialami anak anak Sambo.

Pelajaran Baiknya?

Kita masih bisa menolong anak anak tidak bersalah itu. Seperti yang saya jelaskan, anak anak Sambo harus kita pandang berada di posisi yang sama dengan Joshua Hutabarat. Mereka adalah korban.

Negara bisa menolong mereka dengan menyediakan pendampingan psikologi dan bahkan menyediakan home schooling bagi mereka agar transisi dalam kehidupan mereka bisa berjalan dengan mulus.

Sementara itu netizen bisa memulai bersikap baik dengan tidak membiasakan membully anak anak dari pelaku kejahatan. Percayalah, itu bukan perbuatan terpuji dan balasan dari atas selalu datang di saat yang tidak terduga.

Mari kita belajar menjadi baik. Anak anak Sambo sudah pasti bukan anak terakhir yang menjadi korban orang tuanya yang melakukan kejahatan. Karena itulah, mari kita belajar memperlakukan mereka dengan manusiawi dan tepat agar kitapun lebih dimudahkan jalannya.

Baca juga :
Siapa Ikut Terseret Ferdy Sambo?

Kasus Brigadir J Harus Jadi Momen Penguatan Akuntabilitas Kepolisian

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini