Waktu Baca: 3 menit

Sri Mulyani akhirnya ‘berteriak’. Ia merasa permintaan DPR untuk menambah subsidi BBM kelewatan. Hingga kini hampir 502 Triliun Rupiah digunakan untuk subsidi BBM. Perkiraannya, hingga bulan September subsidi BBM akan habis dan rakyat akan mulai merasakan harga BBM yang naik turun. Perwakilan DPR seperti Ketua DPR, Puan Maharani dan Wakil Ketua MPR, Ahmad Muzani sudah mendorong agar subsidi BBM ditambah karena ada kekhawatiran masyarakat akan mengalami goncangan akibat kenaikan harga BBM. Namun selama ini pemerintah belum menggubris. Hingga akhirnya, Sri Mulyani berbicara pada publik beberapa waktu lalu dan menyatakan bahwa hampir mustahil menambah subsidi BBM lagi. Jika ditambahkan, maka subsidi BBM menjadi 198 Trilliun Rupiah.  Bisa jadi APBN goncang dan berakibat buruk. Nah, masalahnya, ini adalah buah simalakama. Tetap bagaimanapun harus ada yang diputuskan meski tetap ada dampak buruknya. Nah, sebenarnya dalam kasus Sri Mulyani vs DPR ini, mana yang lebih tepat? Menambah subsidi atau menghentikan subsidi sekalian?

Uang Dari Mana?

subsidi bbm

Sri Mulyani tidak salah ketika menyebut tidak ada lagi uang untuk subsidi BBM. Mungkin bisa saja negara mencarikan dana sebesar 198 Triliun Rupiah. Pertanyaannya, apakah bijak uang sebesar itu digunakan sebagai dana talangan? Sebenarnya bisa saja kita sebut ini hal yang bijak. Bagaimanapun ketergantungan masyarakat Indonesia pada bahan bakar minyak sangat tinggi. Kita bisa melihat dari beberapa data statistik.

Pengguna sepeda motor di Indonesia jumlahnya ada 133 juta unit, terbesar kedua setelah Malaysia. Dengan jumlah pengendara motor sebanyak ini, kegiatan ekonomi akan sangat terpengaruh jika misalnya Pertalite mengalami kenaikan harga yang signifikan. Hal ini juga bisa berdampak pada mobilitas masyarakat. Kekhawatiran terbesar adalah perlambatan ekonomi bahkan kenaikan angka pengangguran.

Sisi Lain

Oke, bagaimana kalau kita mencoba melihat sisi lain masalah ini dengan melepas subsidi dengan keyakinan bahwa kenaikan harga BBM tidak akan seburuk itu? Berdasar data dari Trading Economics, per 8 maret 2022 harga minyak bumi di angka 120,81 dollar Amerika Serikat. Namun, memasuki bulan Agustus, harga minyak bumi ada di angka 92 dollar Amerika Serikat. Lalu, pada 2023 diperkirakan bahwa harga BBM akan turun lagi ke angka 80an per barrel. Terdengar menjanjikan?

Permasalahannya harga minyak di APBN 2022 ditaksir senilai 63 dollar per barrel. Artinya, dari awal kita sudah salah taksir. Jika semisal kita ‘melepas’ harga BBM ke pasar. Maka lonjakannya akan tetap ‘menggila’. Ini bisa menghasilkan pengaruh buruk seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Kesimpulannya? Kita masih membutuhkan subsidi BBM!

Kesalahan di Awal

Subsidi BBM sudah berjalan bertahun tahun dan terus membebani keuangan negara. Namun, pemerintah juga seolah tak menyiapkan blue-print rencana transformasi energi. Banyak hal yang sebenarnya bisa saja pemerintah lakukan.

Yang pertama adalah mulai dengan perubahan dari awalnya sepeda motor berbahan bakar minyak beralih ke sepeda motor listrik. Sepeda motor listrik bisa melaju hingga 80 km/jam. Untuk ukuran kendaraan roda dua alternatif, ini sebenarnya cukup menjanjikan.

Namun permasalahannya, akan ada komentar nyiyir: kan listrik masih berbahan baku minyak? Hal ini tidak salah. Karena itulah transformasi penting berikutnya adalah menghasilkan listrik dari sumber daya alternatif. Beberapa yang bisa mulai kita diskusikan adalah Solar Panel dan penggunaan tenaga uap. Peluang peluang itu memungkinkan selama ada kemauan.

Ketiga adalah penggunaan transportasi publik non-BBM. Beberapa bus bisa berjalan dengan menggunakan gas alam. Ada juga kereta cepat yang menggunakan listrik. Artinya, banyak kemungkinan di depan mata untuk mengurangi ketergantungan pada BBM.

Namun perubahan ini adalah blue print untuk sepuluh tahun ke depan. Karena itulah tidak bisa kita menggunakan solusi ini untuk hari ini.

Kesimpulan

Soal Sri Mulyani vs DPR ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mau tidak mau subsidi BBM ini harus ada. Meski Sri Mulyani mengatakan bahwa sebenarnya ada 3,500 KM Jalan tol bisa saja kita bangun dengan uang subsidi, namun apa gunanya jalan tol kalau tak ada kendaraan yang melaju di sana?

Untuk masa depan, jika tak ingin ada perdebatan mengenai subsidi BBM ini, sudah seharusnya kita beralih menggunakan energi terbarukan yang bisa banyak orang nikmati di saat bersamaan tanpa mengancam keuangan negara.

Gambar oleh : Pexels.id

Baca juga :
Dilema Kenaikan Harga BBM di Antara Distribusi Terbuka dan Daya Beli Masyarakat

Bedanya Kebijakan BBM Indonesia dan Amerika, Adakah BBM Subsidi di Amerika?

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini