Waktu Baca: 5 menit

Suatu waktu saya sedang asik scroll TikTok seperti anak muda-anak muda pada umumnya. Selain ada mbak-mbak joget yang kadang lewat di FYP saya, selalu ada konten anak muda dari NTT yang lewat juga. Sejenak saya sempat berpikir tentang teman-teman saya yang berasal dari provinsi yang sama juga. Yap, saya sering menemukan bahwa memang anak-anak NTT cukup kritis, bahkan lebih dari anak-anak muda di Pulau Jawa.

Saya pun waktu itu jadi bertanya-tanya, kenapa anak muda NTT luar biasa kritis, padahal kalau dari segi akses ke pendidikan jelas anak muda di Jawa jauh lebih punya privilese. Saya juga teringat akan Bang Gaga, seorang jurnalis kriminal yang pernah saya temui. Dia sempat melontarkan pertanyaan yang nggak terpikirkan oleh saya, orang Jawa, tentang agama. Meskipun sempat bikin dia mengulang mata kuliah agama, tetap saja, pertanyaan yang dia lontarkan adalah bentuk dari kekritisannya.

Apakah ini adalah sebuah kegagalan pendidikan di daerah Jawa yang notabene terdapat kota pelajar di sini? Ataukah ada faktor lain yang membuat ada ‘ketimpangan kekritisan’ antara anak muda dari NTT dan dari Jawa?

Saya Mencoba Bertanya dan Membandingkan Budaya

Seperti mahasiswa akhir pada umumnya yang sedang bergelut dengan proposal penelitian, saya akhir-akhir ini lebih suka nongki di perpustakaan kampus saya. Nggak jarang di sana saya bertemu dengan teman-teman saya dari berbagai latar belakang lain. Orang Medan, orang Sunda, orang kekinian Jaksel dan sebagainya termasuk orang dari Nusa Tenggara Timur.

Saya sempat bertanya ke mereka, apakah teman-teman dari suku tertentu kalian ada yang kelihatan menonjol kekritisannya, hampir semua mengatakan satu wilayah yang sama, yaitu orang Timur. Jelas orang Timur ini sangat luas wilayahnya. NTT, NTB, sampai Papua adalah orang Timur. Saya nggak mau menggeneralisir segampang itu. Akhirnya saya coba bertanya lebih lanjut dan ending-ending-nya selalu berakhir dengan kekaguman mereka terhadap kekritisan anak-anak di NTT.

Sorenya saya beberapa kali bertemu dengan teman-teman saya yang berasal dari NTT seperti orang-orang dari Manggarai, Maumere dan lain sebagainya. Dari semua hasil obrolan saya, ada hal yang terpenting yang saya simpulkan.

Orang NTT Lebih Kritis Karena Alam dan Kondisi Ekonomi

Hal yang pertama saya simpulkan adalah soal pengaruh alam kondisi ekonomi mereka di sana. Beberapa dari teman yang saya temui langsung di beberapa tempat, salah satunya perpustakaan itu sendiri, mengatakan bahwa mungkin saja karena kondisi alam dan ekonomi mereka.

Kondisi ekonomi di NTT memang nggak sebaik di Jawa, sepertinya itu gambaran yang sempat terlintas di kepala saya dari cerita-cerita mereka. Bahkan saking berbedanya kondisi NTT dan Jawa, saya sempat mencari beberapa referensi soal kondisi di sana. Dan ya, NTT masuk daerah 3T di Indonesia, yaitu tertinggal, terluar dan terpencil—jujur saja saya nggak nyaman dengan cap 3T di NTT ini. Pada akhirnya, menurut penuturan orang yang bercerita ke saya, orang NTT harus gesit dan cerdas memanfaatkan alam dan kehidupan di sekitar mereka.

Baca juga: Surga Tersembunyi Di NTT, Adonara

Kondisi alam pun kata mereka juga seperti itu. NTT yang terpisah oleh kepulauan kecil-kecil, kata mereka, juga berpengaruh karena membuat akses jadi nggak semudah di Jawa. Lebih lagi, kata mereka, pembangunan nggak merata. Saya jadi teringat cerita Yoans Beni, kepala media sosial Pakbob, bahwa pesan Pitza Hut saja bisa harus pakai pesawat. Sesuatu yang sangat menyebalkan.

Tapi kalau memang kondisi ekonomi dan alam berpengaruh, seharusnya orang-orang yang berada di kepulauan lainnya sekritis mereka. Begitu pula dengan orang-orang yang ekonominya sulit di daerah lain. Maka dari itu, saya nggak puas. Pasti ada faktor lain yang membuat anak muda NTT jauh lebih kritis daripada anak muda di Pulau Jawa. Jawaban soal ekonomi dan alam masih ‘terlalu klise’.

Keterbukaan Dalam Keluarga

Saya sempat bertanya kepada teman saya yang berasal dari Medan soal film Ngeri-ngeri Sedap yang sempat meledak. Dia Efrita Saragih, teman yang bisa saya bilang seprodi namun nggak seprodi. Agak pusing memang mendeskripsikan program studi saya. Seakan ada fakultas di dalam fakultas.

Saya meng-highlight soal si Ayah dalam film tersebut. Apakah sediktaktor itu orang tua di sana? Dia menjawab kebudayaannya memang seperti itu. Di Batak ada mengenal nomor yang—saya sendiri masih susah memahami betapa kompleksnya budaya Batak padahal saya cukup tertarik dengan budaya ini. Jika saja nomor dari seseorang yang lebih muda lebih kecil daripada kita, maka kita harus menghormatinya. Begitu pula dengan yang lebih tua, di Batak, sekurang ajar apapun orang yang bersangkutan, jika kita harus menghormatinya, maka itu harus dilakukan, jelas terutama dengan orang tua. Saya mencium bau kemiripan dengan kebudayaan Jawa di sini.

Di Jawa pun sering demikian, penghormatan akan umur dan sebagainya tercermin dari adanya 3 sub-bahasa di bahasa Jawa. Pertama bahasa ngoko untuk bersama teman. Kedua, krama ngoko untuk menghormati mitra bicara yang seumuran. Terakhir, krama inggil untuk berkomunikasi dengan yang lebih tua. Saya mencurigai bahwa 3 sub bahasa ini jadi tembok di antara orang tua dan anak di Jawa. Kebiasaan Jawa adalah orang tua layaknya malaikat, selalu benar, meskipun sebenarnya salah. Mirip dengan Ayah di Ngeri-ngeri Sedap.

Baca juga: Aneh Sampai Tua, Ketika Kecerdasan Intrapersonal 0 Besar

Saya melempar pertanyaan soal hubungan ini ke teman saya dari NTT, namanya Nadya Alang, meskipun saya lupa tepatnya dia dari NTT wilayah mana. Saya adalah seorang yang sangat pelupa, bahkan saya bisa saja berkenalan dengan seseorang dan melupakan namanya 5 detik kemudian. Semoga orang-orang yang tersinggung karena kondisi ingatan saya ini memaafkan saya dan memudahkan saya masuk ke surga kelak.

Nadya bercerita, bahwa di NTT, anak dan orang tua seakan punya tembok yang tipis. Bisa berdiskusi dengan lebih leluasa—sepertinya daripada dengan Jawa, itu yang ada di kepala saya. Dia menambahkan bahwa, sepengalaman dia, pendidikan di NTT juga begitu. Guru dan murid seakan lebih dekat sehingga tercipta diskusi yang lebih baik. Pun ketika anak sudah dewasa, orang tua mereka akan lebih membebaskan dan menghormati pilihan anaknya. Bahkan di beberapa titik, lebih mendengarkan anaknya.

Jujur saja, saya seperti menemukan picisan puzzle terakhir. Ini yang saya harapkan. Terima kasih kepada Nadya Alang.

Saya Mencurigai Hubungan Keluarga Adalah Kuncinya

Saya menemukan picisan puzzle terakhir, saya mengulangi kata-kata ini karena saya akhirnya puas.

Perbedaan dengan Jawa, atau suku dan daerah lainnya adalah keterbukaan orang tua NTT terhadap anaknya yang membuat anak muda NTT lebih kritis daripada wilayah lainnya. Sering sekali guru-guru, dosen-dosen di Jawa pusing dengan tingkat kritis anak muda pada umumnya, padahal semuanya ada akarnya.

Orang tua yang selalu harus didengarkan dan dihormati bisa jadi kendala buat anak untuk menjadi seorang yang kritis. Kita harus menghormati dan mendengarkan ibu karena surga di bawah telapak kakinya yang sering menyepak pantatmu, angan dan gagasanmu. Kita juga harus mendengarkan dan mengikuti ayahmu karena keringatnya sudah diberikan untukmu termasuk keringatnya mencari pembuktian bahwa pilihanmu adalah pilihan yang salah karena nggak mau jadi PNS dan memilih masuk dunia seni.

Baca juga: Tidak Semua Orang Tua Sayang Pada Anaknya..

Dalam perkembangan anak, diskusi adalah hal yang penting. Anak terbiasa terbuka, berkomunikasi dan berpikir secara rasional lewat diskusi. Tapi, orang-orang Jawa, terlalu suka hal yang bersifat wah. Mengadopsi team-based learning atau segala yang berbau diskusi di sekolah padahal segalanya berawal dari diskusi di keluarga.

Saya sempat mencari validasi soal cerita Nadya, semoga kamu tidak lupa siapa dia, ke teman-teman saya yang sempat saya temui. Hasilnya, kebanyakan mengiyakan ucapan tersebut yang mana, saya mencoba menggeneralisir, anak muda NTT lebih kritis karena, bahasa muluk-muluknya, ada diskusi dalam keluarga—bahasa santainya mungkin “ya memang suka ngobrol aja”.

Apakah murni hanya anak dari NTT saja? Jawabannya jelas “nggak”. Teman saya dari Jawa, Batak, Sunda dan lainnya, yang terbiasa berdiskusi dengan orang tuanya muncul sebagai pribadi yang kritis. Sama kritisnya dengan anak-muda di NTT. Lewat “penelitian wannabe” saya ini, jawabannya sudah terlihat.

Baca juga:

Apa Sih yang Hilang Dari Pendidikan Indonesia?

Sumber gambar: @abdurarysad, seorang komika yang berasal dari Larantuka yang terkenal kritis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini