Waktu Baca: 3 menit

Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Banyak negara mengalami inflasi yang luar biasa termasuk negara adidaya seperti Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri kita juga sedang mengalami inflasi meskipun nggak terlalu mengerikan seperti di negara-negara lain. Di tengah-tengah permasalahan ini, muncul ancaman baru yaitu resesi hingga kondisi yang lebih parah, yaitu stagflasi.

Masalah stagflasi ini sedang menjadi fokus penting dari Bank Dunia. Bank Dunia sedang meminta banyak negara di dunia, terutama Eropa untuk hati-hati terhadap ancaman stagflasi. Banyak negara sudah harus bersiap.

Dari peringatan tersebut bisa dibayangkan betapa mengerikannya masalah ekonomi yang satu ini. Namun sebenarnya apa sih stagflasi itu?

Apa Itu Stagflasi?

Stagflasi adalah kondisi di mana inflasi dan kontraksi terjadi di saat yang bersamaan. Untuk inflasi sendiri mungkin kita sudah tahu dan hafal dengan istilah ini, yaitu naiknya harga yang menyebabkan penurunan daya beli di masyarakat.

Lalu bagaimana dengan kontraksi? Istilah ini terlalu asing di telinga kita kan? Apa ada hubungannya dengan kontraksi saat melahirkan? Tentu tidak. Kontraksi di sini berarti menurunnya ekonomi suatu negara karena adanya penurunan PDB. PDB alias produk domestik bruto adalah cerminan dari pertumbuhan ekonomi dari suatu negara. Semakin kecil PDB-nya semakin kecil pertumbuhan suatu negara, begitu juga kalau PDB-nya menunjukkan angka minus.

Nah, maka dari itu, inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat dan kontraksi yang menjadi pertanda buruk ekonomi terjadi bersamaan maka akan disebut dengan stagflasi. Cukup mengerikan bukan?

Baca juga: EU-Asian Business Council: ATIGA Bisa Jadi Tulang Punggung Ekonomi ASEAN

Bagaimana Cara Menghindari Stagflasi?

Meskipun mengerikan, nyatanya permasalah ekonomi yang satu ini tetap bisa dihindari walau caranya pun juga bisa dibilang sama menyakitkannya. Kenapa? Karena memang yang harus menjadi korban adalah kaum kecil, termasuk di Indonesia jika Indonesia menerapkan cara-cara ini.

Pertama, adalah pengurangan beban gaji tenaga kerja. Jelas ini sangat merugikan karena banyak yang akan kehilangan pekerjaan. Namun kondisi ini justru bisa sedikit membuat negara—lewat perusahaan-perusahaan—terhindar dari stagflasi. Dengan pengurangan biaya gaji, perusahaan-perusahaan ekspor bisa mengalihkan biayanya ke biaya bahan produk mereka. Meningkatnya kemampuan perusahaan membeli bahan baku bisa menjaga keuangan perusahaan agar tetap sehat dan bisa mengekspor barang sehingga menguntungkan kondisi perekonomian. Namun, solusi ini harus digarisbawahi dengan pemberian intesif layoff dari perusahaan dan adanya bantuan subsidi pemerintah.

Kedua, masih sama menyakitkannya, yaitu mengurangi pajak, terutama untuk perusahaan-perusahaan besar. Dengan adanya pengurangan pajak ini maka para investor asing bisa tertarik untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Namun, lagi-lagi, tentu solusi ini membuat untung kaum menengah ke atas karena pendapatan mereka jelas jauh lebih besar sedangkan para karyawan masih begitu-begitu saja.

Baca juga: Suku Bunga The Fed Naik Lagi, Bakalan Terjadi Layoff Besar-besaran Kembali?

Apakah Indonesia Akan Mengalami Stagflasi?

Indonesia sendiri pada dasarnya memang sedang mengalami inflasi. Kondisi ini jelas cukup terlihat dari naiknya harga bahan bakar yang memicu inflasi di negeri kolam susu kita. Inflasi di Indonesia sendiri sebenarnya masih cukup aman daripada negara lain, yaitu 7% “saja”

Kalau kita bandingkan angka inflasi Indonesia dengan negara lain jelas kita masih di bawah mereka. Amerika Serikat berada di angka 8%, sebuah negara yang sudah kita ketahui betapa digdayanya mereka. Sementara itu negara-negara di Eropa ada di angka 9% lebih. Bahkan negeri yang pernah jadi biang kerok hilangnya identitas kita, Belanda, sudah berada di angka 10% sedangkan inflasi paling parah ada di negeri yang jadi dream-nya Layangan Putus, Turki sudah berada di angka 70% lebih.

Melihat juga dari sisi nilai tukar rupiah kita terhadap dollar Amerika Serikat, memang posisi kita melemah, namanya juga mereka sedang menaikkan suku bunga, namun pelemahan rupiah juga nggak separah negara lain. Kondisi ini terjadi karena, nyatanya, resistensi ekonomi kita memang bagus—atau sedikit lebih baik—daripada negara-negara lainnya. Ekonomi kita ditopang oleh banyak industri dalam negeri, UMKM-UMKM kecil misalnya, jadi arus kas kita masih terus berputar di dalam negeri.

Dengan kondisi seperti ini, bisa kita bilang kalau negara kita masih relatif bisa sedikit lega karena memiliki potensi stagflasi lebih kecil daripada negara lainnya. Meskipun begitu, kita juga harus berharap tidak ada gelojak politik aneh-aneh yang bikin kita justru ikut terjerembab dalam jurang yang satu ini.

Baca juga: Kata Jokowi Ekonomi Dunia Tahun 2023 Gelap, Benarkah? Bagaimana Kira-kira Kondisi Indonesia?

Ilustrasi foto oleh Timur Weber

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini