Waktu Baca: 3 menit

 

Dari Batik Lumbini, kita menelusuri warisan budaya

Batik adalah salah satu warisan kesenian budaya Indonesia. Batik masih populer hingga sekarang. Tua, muda, keluarga keraton, Presiden, rakyat biasa, semua pakai batik. Entah itu kemeja, blouse, dress, jarik, atau kaus.

Biasanya, batik dipakai di acara-acara formal, seperti acara pernikahan. Lihat saja, tak hanya pihak yang punya acara yang pakai batik sebagai jarik dan seragam, bahkan saya sering kali melihat tamu-tamu yang datang juga pakai batik.

Tapi, di era modern ini, kita juga bisa melihat orang pakai batik untuk kegiatan kasual. Entah untuk sekadar jalan-jalan maupun di rumah saja. Soalnya, batik juga dituangkan dalam bentuk daster dan kaus.

Menurut saya, batik itu punya desain yang cantik dan anggun, apa pun motifnya. Makanya, bukan hal yang sulit untuk membuat orang jatuh cinta pada batik. Bahkan, orang luar negeri pun suka.

Batik gak cuma ada satu jenis, tapi ada banyak karena masing-masing daerah punya ciri khasnya sendiri. Makanya ada Batik Yogyakarta, Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Cirebon, dan masih banyak lagi. Tapi tahu gak? Ternyata Borobudur juga punya batik! Wah, wah, wah…. Kayak apa ya batik yang mendapat sebutan Batik Lumbini ini?

Batik Lumbini, Batik Khas Borobudur

Beberapa hari yang lalu, teman saya main ke tempat pembuatan batik yang terkenal di Borobudur. Pulang-pulang, dia semangat banget cerita. Saya jadi kesetrum ingin berkenalan.

Namanya Batik Lumbini. Batik Lumbini dikelola oleh sepasang suami-istri, Agustinus Adiwinarto (Pak Win) dan Yustina Rita Suciarti (Bu Rita), di Desa Wanurejo.

Baca juga : Wayang Itu Klenik? Begini Penjelasan dari Dalang

Batik Lumbini sudah berdiri sejak tahun 2011. Namun, ketika itu, baru Pak Win yang membuat batik. Istrinya, Bu Rita, mulai ikut terlibat dalam pembuatan batik pada tahun 2012.

Pak Win dan Bu Rita memiliki peran masing-masing dalam pembuatan batik. Pak Win bertanggung jawab untuk membuat desain batik, sementara Bu Rita mencanting.

Dengan desain yang kreatif dan kualitas yang jempolan, rasanya sulit banget buat gak jatuh cinta sama batik dari Batik Lumbini. Saya saja langsung jatuh cinta waktu lihat batik-batik di sana.

Gak Pelit Ilmu

Membuat batik butuh proses yang panjang. Untuk batik tulis colet, kain yang sudah siap dibatik, didesain dulu motifnya pakai pensil. Setelah itu, baru dicanting, lalu warnanya dilukis. Ketika sudah selesai pewarnaan, warna dikunci, lalu lilin dihilangkan dengan cara direbus.

Kalau batik tulis celup, warna yang diinginkan ditutup dulu pakai lilin setelah pewarnaan pertama. Kemudian, pewarnaan kedua dicelup lagi. Setelah pewarnaan selesai, lilin dihilangkan.

Baca juga : Mengulik Harmoni Lagu Asmalibrasi

Pembuatan batik sendiri butuh waktu 2 hari sampai 3 bulan dan butuh kerja sama dari 2-3 orang minimal. Pengerjaan desain dan pencantingan pun butuh waktu yang sama lamanya. Tergantung jenis batiknya.

Pembuatan batik kelihatannya rumit banget dan susah. Tapi Pak Win dan Bu Rita rupanya gak pelit ilmu. Beliau berdua mau mengajarkan membatik pada orang yang ingin belajar.

Batik Lumbini punya program edukasi. Program ini disediakan untuk tamu-tamu yang ingin belajar membatik.

Punya Hati untuk Membantu

Selain program edukasi, Pak Win dan Bu Rita juga punya program pemberdayaan untuk desa-desa yang ingin mengembangkan batik di daerahnya. Untuk program yang satu ini, beliau hanya meminta satu syarat. Komitmen.

Pada saya, Pak Win menceritakan sepak terjangnya bersama istri dalam membangun usaha batik ini. Belajar dari pengalaman Bu Rita, membatik tidak melulu soal bakat.

Baca juga : Cerita Desainer Muda, Kea Rievania, dalam Menghidupi Mimpinya

Beliau adalah bukti nyata bahwa proses gak mengkhianati hasil. Awalnya, beliau tidak bisa mencanting, tapi sekarang beliau justru mendapat kepercayaan untuk mengajar mencanting di daerah Borobudur karena beliau punya tekad yang kuat untuk bisa dan gak menyerah.

Komitmen seperti itulah yang ia harapkan ada pada para peserta yang belajar membatik dengan mereka dalam program pemberdayaan.

 

Belajar Melihat Candi Borobudur dari Sudut Pandang Berbeda

Kalau saya mendapat pertanyaan, apa yang saya pikirkan ketika melihat Candi Borobudur? Saya pasti menjawab, “Stupa!” Ya sebagai pengunjung, tentu wajar kalau yang berkesan bagi saya adalah stupanya. Di Candi Borobudur banyak stupa kan?

Tapi, ketika saya mendapat cerita tentang filosofi batik-batik produksi Batik Lumbini, saya seperti diajak untuk melihat Candi Borobudur dari sudut pandang lain.

Batik produksi Batik Lumbini punya ciri khas, yaitu semua motifnya terinspirasi dari Candi Borobudur. Ada yang bermotif stupa, Candi Borobudur tampak atas, dan gajah.

Kalau kita lihat dari atas, Candi Borobudur punya sisi-sisi yang sama. Lambang inilah yang menjadi inspirasi untuk menggambarkan Candi Borobudur pada motif yang mendapat nama Mandala Bumi. Filosofinya, keseimbangan dan membangun keharmonisan hidup.

Motif Gajah Juga Punya Artinya Sendiri

Sedangkan untuk motif gajah, gajah gak cuma terpilih karena di Borobudur ada gajah. Pak Win bercerita bahwa peran gajah itu sangat penting ketika membangun Candi Borobudur dan mendirikan kerajaan-kerajaan.

Gajah menjadi kendaraan raja di zaman kerajaan Buddha. Di sisi lain, gajah juga menjadi pengangkut material yang berat ketika ingin membangun Candi Borobudur. Untuk filosofinya, gajah merupakan lambang kesetiaan, cinta kasih, dan kerukunan.

Wow…. Dari batik, kita gak cuma melihat gambar, tapi kita bisa melihat Candi Borobudur dari sudut pandang berbeda. Terlebih lagi, motif Batik Lumbini menurut saya sangat unik. Saya jatuh cinta dengan batik khas Borobudur ini.

 

Catatan : Beberapa pola batik tidak bisa kami tunjukan di sini. Alangkah baiknya kalua teman teman berkunjung ke studio batik Lumbini sendiri dan menikmati keseruan menghabiskan waktu di sana. Yuk jalan jalan!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini