Waktu Baca: 3 menit

Hai Sobat Bob!  Sedang apa hari ini? Apakah sedang nganggur dan ingin mencoba suasana baru. Kebetulan kemarin awak awak Bob memutuskan untuk jalan jalan ke daerah Kasihan, Bantul. Kita datang untuk mengunjungi Café dan Resto Mergi Tresno yang merupakan café dan Resto milik seniman biola, Eko Balung.

baca juga : Tongkah Kopi : Iseng Iseng Menemukan Keluarga Baru

Tempat ini sangat menarik dan homy buat saya? Kenapa begitu? Karena di sini rasa rasanya seperti makan di rumah Eyang. Iya, soalnya konsep Mergi Tresno ini adalah seperti rumah rumah kaum tradisional Yogyakarta. Kamu bisa melihat dinding yang belum diamplas semen, pintu pintu kayu dan sangkar burung yang sesekali membuat suara suara merdu. Sungguh homy dan membuat kita merasa sangat nyaman, ya kayak di rumah…

Karena Kepengen…

Saya sempat mengobrol dengan salah satu pegawai Mergi Tresno. Ia bercerita bahwa dahulu Eko Balung punya keinginan untuk menginvestasikan uang hasil konsernya. Ketika itu, di bulan November tahun lalu, ia terpikir untuk membuka satu café dan resto. Kebetulan ia juga punya sebidang tanah yang ingin ia manfaatkan.

Mergi Tresno

Berbekal dengan sentuhan seninya, jadilah Mergi Tresno. Mergi Tresno ini juga punya sentuhan pribadi Eko Balung. Di beberapa sudut dinding, terlihat gambar mural karya Eko Balung. Ternyata, selain pandai memainkan biola, Eko Balung juga bisa berkreasi dalam berbagai bidang lainnya termasuk seni melukis ini.

Tentu dengan berbagai sentuhan pribadinya, tidak pernah lepas dari nuansa makan di rumah Eyang.

makan di rumah eyang

Menunya Juga Eyang Sekali

Tidak hanya suasana, makanan juga sangat homy. Menu andalan di sini adalah mangut lele. Saya terkejut, setahu saya mangut lele adalah makanan yang sangat Magelang sekali. Akan tetapi, di sini ternyata ada juga mangut lele. Menurut Rizqy Arya Putra yang merupakan pengurus di Mergi Tresno, daerah Bantul juga suka membuat mangut lele. Salah satu yang paling terkenal adalah mangut lele Mbah Marto. Wah..wah..nampaknya saya perlu mampir.

Baca juga : Kumpeni Burgers: Tempat Makan Western Food Bergaya Joglo di Bantul

Tentu mendengar menu mangut lele adalah yang paling ngetop, saya langsung pengen mencicipi. Tapi ternyata, mangut lelenya begitu laris sehingga tidak tersedia di Mergi Tresno. Saya agak kecewa, tapi termotivasi untuk datang lagi suatu saat nanti.

Saya lalu memutuskan untuk memilih menu lainnya. Akhirnya saya memilih menu ayam goreng. Begitu saya mencoba menu ayam goreng, saya langsung jatuh cinta. Penampakannya bisa di lihat di bawah ini.

Mergi Tresno

Ayam goreng di sini memiliki beberapa keunikan. Keunikan pertama adalah bahan dasarnya. Bahan dasar ayam goreng ini adalah ayam kampung. Tapi ayam kampung di sini volumenya cukup besar dan berbobot. Mungkin ayamnya agak tua. Lalu, yang istimewa adalah bumbunya. Bumbu yang terdiri dari bawang putih, merah, lengkuas, kunyit dan keluarga bumbu kuning lainnya begitu merasuk dalam daging. Saya kira, salah satu penyebab adalah proses diungkep yang cukup lama dan tepat. Jadi, dagingnya empuk dan bumbunya kuat.

Hal unik lainnya adalah, ada peneman dari menu itu yaitu semangkok kaldu ayam. Kaldu ayam itu adalah hasil dari pengungkepan yang lama. Kuahnya sangat cocok untuk nasi karena membuat nasi yang tawar menjadi gurih.

Tak lupa, namanya juga ayam goreng, tidak lepas dari sambal yang enak. Kebetulan, di sini ada sambal bawang yang rasanya pas, tidak pedas dan terlalu ‘nylekit’. Sambal ini enak sekali jika kita tambahi dengan sedikit kecap manis. Rasa pedas, gurih dan manis bergabung dengan sempurna.

Dengan rasa makanan yang homy dan lezat, plus masih ditambah dengan suasana yang menyenangkan, tak heran restoran dan café Mergi Tresno layak jadi pilihan untuk menghabiskan waktu dan berpetualang kuliner.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini