Waktu Baca: 2 menit

Bertumbuh sebagai anak normal, saya tidak pernah membayangkan kalau saya ada ‘bakat’. Nah, karena bertemu orang yang sudah ahli, sayapun diajari untuk membuka mata ketiga. Ketika mata ketiga saya terbuka, saya tidak bisa melihat apa apa. Bahkan setelah si empunya yang membukakan mata ketiga saya berkata bahwa ada tengkorak nangkring di sudut depan pintu gedung fakultas kampus saya di kampus tiga (Wah ketahuan nih yang mana), saya tidak bisa melihatnya. Pikir saya: Halah! Ndak mungkinlah saya bisa ngelihat begituan! Namun pengalaman saya di sekitar jalan Ciumbeluit, mengubah pandangan saya.

Setelah kejadian itu, saya sering melihat sesuatu berkelebat di samping mata saya. Ketika saya menyetir mobil misalnya, mendadak ada sosok berambut panjang dan berjubah putih putih. Wah gilo saya. Gilo itu kata orang Jawa ya merinding, ya bingung. Tapi lama lama saya terbiasa hingga kemudian suatu kejadian luar biasa saya alami.

Baca juga : Terungkap Jawaban Misteri Herosase di Pengabdi Setan!

Di Sekitar Jalan Ciumbeluit

Hari itu seperti biasa saya pulang ke kos dari daerah Dago. Biasanya saya ke Dago bertemu teman teman komunitas AIES** dan rapat di kantor mereka. Di sana biasanya kita memang sampai malam. Rapatnya sebentar, cangkemannya Ya Tuhan. Gosip dan ngobrol sana sini maksudnya.

Saya pulang sekitar jam sembilan malam. Pas saya mau naik ke atas, ke arah Jalan Bukit Indah. Tiba tiba saya merasakan tanah bergetar. Kayaknya ada gempa. Sebagai alumni gempa 2006, ya saya biasa aja dengan adanya gempa itu.

Baca juga : Tim Kubur Cepat Jenazah Corona : Cerita Tentang Mereka

Tapi tiba tiba muncul pemandangan mengerikan. Di sekitar situ, di sepanjang jalan Ciumbeluit, kulihat mahluk putih putih seperti guling keluar dari tanah dan berjejer rapi bak menyambut saya yang berada di tengah jalan Ciumbeluit.

Wadidaw sekali yaa.

Mahluk putih putih itu adalah pocong sobat Bob!

Tidak Bisa Lihat Ekspresi Mereka

Mahluk putih putih ini, sayangnya tidak bisa saya lihat wajahnya. Ya wajar saja, wong muka mereka hitam sekali. Saya tidak merasa takut lho tapi. Karena menurut saya, kalau pocongnya cuma satu, itu memang jatuhnya seram. Kalau banyak ya kayak orang nonton konser. Rasa seramnya tidak saya rasakan. Ha..ha..ha..

Baca juga : Nilai Sebuah Jenazah

Tapi penampakan mereka cuma sebentar saja sebelum kemudian menghilang.

Teori Saya

Menurut teori yang saya buat sendiri, pocong pocong ini muncul di sekitar Ciumbeluit karena terganggu. Ya, gempa membuat mereka yang biasanya hidup di bawah tanah jadi menunjukkan diri mereka ke khalayak ramai. Teori ini masuk akal karena hewan hewan liar juga akan turun gunung kalau gunung akan meletus. Ini instingtif.

Namun yang jadi pertanyaan saya, kenapa yang muncul kebanyakan pocong? Kenapa tidak mahluk lainnya. Nah, ini pertanyaan yang terlalu seram untuk saya jawab. Salah satu jawabannya memang tidak nyaman. Apakah dulu, di sekitar jalan Ciumbeluit, sebelum menjadi tempat dengan berbagai bangunan adalah kuburan masal?

Teorinya cukup masuk akal karena daerah itu dulu sepi, berbukit dan banyak tanah kosong untuk memakamkan orang. Ya bisa jadi jazad jazad tidak dikenal.

Tapi saya tidak mau mengklaim, alangkah indahnya kalau ada ahli sejarah yang bisa urun rembug mengenai isu ini.

Sampai semua itu terbukti, biarlah pengalaman melihat kaum putih putih itu menjadi perenungan saya dalam melihat tanda tanda alam.

sumber gambar : pocong_official1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini